
"Jadi... setelah berpisah kalian belum pernah saling bertemu?" Tanya Eleanor sembari membantu Hanna mengeluarkan barang belanjaan Hanna dari supermarket.
Sepulang kuliah tadi, Eleanor menemani Hanna berbelanja. Sejak berpisahan sahabatnya itu, El meluangkan banyak waktu untuk menemani Hanna. Eleanor hanya tidak ingin Hanna larut dalam kesedihannya dan melakukan hal yang tidak-tidak. Itulah yang ditakutkan oleh Eleanor selama ini.
"Hmm... beberapa kali tidak sengaja bertemu, tapi dia memalingkan mukanya."
"Dasar pria tidak berperasaan! Dia yang menyakitimu, kenapa seolah-olah kamu yang bersalah kepadanya?"
"Mungkin... memang kita tidak seharusnya bertemu, El. Mungkin juga karena dia begitu membenciku, makanya dia memalingkan wajahnya." Hanna berucap dengan santai, meskipun hatinya terasa sakit saat mengucapkannya.
"Benci? Harusnya kan kamu yang membencinya, Hanna! Selama menikah kau selalu melindunginya, menutupi segala kebohongannya, dan ketika berpisah... dianmalah membencimu? Benar-benar gila!"
"Dia berhak untuk marah, El. Aku sudah mengatakan kalau dia mengingkanku memberikan kesempatan untuknya. Dia ingin menjalani pernikahan kemarin sebagaimana mestinya, tapi aku tidak memberinya kesempatan."
"Tapi itu tidak bisa dijadikan alasannya untuk membencimu! Kamu juga berhak untuk tidak memberikannya kesempatan. Kalau dia memang serius untuk diberi kesempatan, seharusnya dia sedang mengejarmu sekarang, berusaha untuk membuatmu mau rujuk lagi dengannya. Tapi lihat, apa yang dia lakukan? Dia malah sibuk mencari pengganti! Kudengar kalau dia kini sedang dekat dengan Gwen. Huh, kenapa aku yang jadi emosi?"
Eleanor mengibaskan kedua telapak tangannya di depan wajahnya. Entah kenapa dia selalu merasa emosi saat mulai membicarakan mantan suami dari Hanna itu. Belum lagi dengan sikap Hanna yang selalu membela mantan suaminya, itu sungguh membuat Eleanor semakin jengkel.
Hanna hanya tersenyum melihat Eleanor yang tampak sedang emosi itu. Ia lantas membuka kulkasnya dan menyodorkan sebotol minuman dingin untuk Eleanor.
__ADS_1
"Nah, ini akan memadamkan api yang berkobar di dalam dirimu, El." Canda Hanna.
"Kau ini benar-benar ya!" Eleanor menerima uluran botol minuman itu lalu meneguknya. "Arthur bilang, kau juga masih menolaknya untuk berkencan. Apa ini karena mantan suamimu itu?"
Hanna menghela nafasnya sembari menggelengkan kepalanya. "Bukan. Aku... hanya tidak siap."
"Tidak siap karena apa? Ini kan hanya berkencan, kau juga telah mengenal Arthur selama setahun ini. Apalagi yang kamu khawatirkan?"
"Kau tahu statusku, El." Hanna berpindah duduk pada ranjangnya, diikuti Eleanor yang selalu mengekorinya.
"Ya Tuhan, Hanna. Kau tau sendiri jika Arthur sama sekali tidak peduli dengan statusmu, terlebih... yaaa... kita semua tau jika kamu dan mantan suamimu hanya menikah kontrak, tidak pernah ada hubungan intim diantara kalian, jadi itu tidak masalah kan?"
"Tapi tetap saja statusku seorang janda, El. Kau tidak bisa membayangkan kan bagaimana rasanya menyandang status janda diusia yang bahkan belum genap dua puluh tahun? Aku sampai berkata pada ibuku jika rasanya aku ingin mati saja saat itu."
"Aku tidak bilang kalo aku menyesalinya, El." Jawab Hanna dengan tangan yang mengusap-usap bekas pukulan Eleanor. "Aku hanya berpikir, pasti kedepannya tidak akan mudah bagi seseorang yang menjalin hubungan denganku."
"Itu kan hanya dugaanmu saja. Jangan pernah berpikiran seperti ini lagi, Hanna. Kamu kan tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya? Bisa saja hubunganmu dengan Arthur akan berjalan dengan lancar, lalu kalian menikah, memiliki anak-anak yang menggemaskan, dan hidup bahagia selamanya."
"Hahahaha... khayalanmu terlalu jauh, El."
__ADS_1
"Itu sebuah doa, Hanna. Lagian, mantan suamimu juga biasa saja dengan status barunya. Aku lihat diakun media sosial Gwen, dia sering memposting foto dengan mantan suamimu. Yah, meskipun aku tidak tahu bagaimana hubungan mereka saat ini, tapi kurasa mereka memang dekat. Oleh sebab itulah, kau juga harus melakukan hal yang sama, Hanna. Tidak masalah jika nantinya kau tidak menikah dengan Arthur, yang penting kau memberikan Arthur kesempatan, oke?"
"K-kesempatan?"
Eleanor menganggukkan kepalanya. "Ya, kalian bisa berpacaran dulu kan? Ayo, kita siap-siapa untuk pergi nonton sore ini. Aku sudah menghubungi Arthur dan Noah untuk pergi nonton sore ini, jadi kau harus bersiap-siap sekarang?"
"Wait! Ini apa maksudnya? Kau berencana menjadikanku dan Arthur penonton untuk adegan romantismu dan Noah?"
"Hahahaha... bukan begitu. Kau dan Arthur juga bisa mencoba untuk berkencan, anggap saja ini sebagai double date." Jawab Eleanor dengan penuh semangat.
Eleanor lalu menarik Hanna untuk segera bersiap-siap. Dia bahkan membantu memilihkan Hanna baju apa yang harus dikenakannya. Meskipun keberatan, namun akhirnya Hanna menyetujui ajakan Eleanor untuk menonton film sore ini. Yah, bukan setuju untuk mulai berkencan dengan Arthur.
Bagaimana pun itu, Hanna masih menyimpan perasaannya untuk Rafa. Walaupun sejak perpisahan mereka keduanya tak saling bertegur sapa, tapi perasaan itu tak kunjung hilang dari hati Hanna. Tidak peduli seberapa sering ia mendengar gosip dari Eleanor jika Rafa tengah dekat dengan seseorang.
Dan kini, Hanna malah menyaksikan gosip yang Eleanor ceritakan selama ini padanya. Rafa ada di gedung bioskop yang sama dengan dirinya berada saat ini, dengan wanita berambut cokelat yang menggandeng lengan mantan suaminya itu dengan erat. Mungkinkah gadis itu yang bernama Gwen? Jadi gadis itulah yang kini mengisi hari-hari mantan suaminya?
"Hanna, ayo masuk! Filmnya akan segera dimulai." Ucap Arthur membuyarkan lamunannya.
Tatapan mata Hanna menatap Arthur yang berdiri di depannya dengan senyumnya yang menawan. Dialah lelaki yang selama ini bersikukuh untuk menggantikan Rafa dihatinya. Dan mungkin, memang sekaranglah waktunya Hanna untuk melepaskan Rafa.
__ADS_1
Rafa tidak akan pernah menjadi miliknya. Tidak dimasa lalu, masa kini, atau pun di masa depan.
"Hm, ayo masuk." Ucap Hanna sembari menggandeng lengan Arthur, yang tentu saja membuat Arthur terkejut tapi menyambutnya dengan hati yang gembira. Karena ini, Hanna pasti akan memberinya kesempatan.