Back To You

Back To You
Chapter 68


__ADS_3

Rafa tetaplah Rafa. Seiring dengan berjalannya waktu, entah kenapa ia semakin tidak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang Alita. Padahal seharusnya ia bisa kembali seperti dulu, langsung berganti pacar dalam waktu sekejap.


Bahkan kini melihat kedekatan Alita dengan Theo pun terasa menyesakkan untuk dirinya. Rafa menyesal. Mungkin benar apa kata Hanna, dulu ia kurang berusaha. Harusnya tidak semudah itu ia melepaskan Alita. Harusnya ia lebih berjuang untuk kembali mendapatkan kepercayaan dari Alita.


Menghela nafasnya berulang kali, Rafa mencoba menghilangkan rasa cemburu yang kembali hadir saat mendapati postingan foto Alita bersama Theo. Pasangan itu nampak bahagia, memamerkan kemesraan serta hadiah wisuda yang Theo berikan.


Jika saja hari itu Rafa tidak melepaskan Alita, mungkin dialah yang akan terpampang difoto itu. Mungkin dialah yang akan memberikan hadiah wisuda untuk gadis itu. Dan mungkin dilengannyalah Alita akan bergelayut manja.


Tapi semuanya hanya angan belaka. Tak ada gunanya pula Rafa meratapi nasibnya. Karena kini, ia harus puas berfoto wisuda dengan keluarga tercintanya.


......................


Cara terbaik untuk melupakan seseorang adalah menyibukkan diri dan menghindari segala sesuatu yang berhubungan dengan seseorang itu. Dan kini, Rafa telah bersiap untuk menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Karena mulai hari ini, ia telah terhitung resmi menjadi karyawan tetap papanya.


Mematut dirinya di depan cermin, Rafa kembali memeriksa penampilannya yang telah rapi pagi itu. Mama Salma masuk ke dalam kamarnya, saat Rafa tengah sibuk mengancingkan kancing lengan kemejanya dan sebuah dasi yang belum tersampir di pundaknya.


"Butuh bantuan?" tanya mama Salma sambil berjalan mendekat pada anak bungsunya itu.


Rafa tersenyum, lalu menarik dasinya san mengulurkan pada mamanya. "Biasalah, Ma."


Menerima uluran dasi dari Rafa, mama Salma mengikuti Rafa yang kini berpindah duduk di pinggir ranjang. Jika tidak duduk, Rafa merasa kasian pada mamanya karena sampai harus berjinjit dan terlihat kesusahan.

__ADS_1


"Jangan terlalu dipaksa, buat semuanya mengalir saja, Fa. Mama tau sampai sekarang kamu masih kesulitan ngelupain Alita." ucap mama Salma sambil memasangkan dasi di leher Rafa.


Rafa hanya mengangguk. Ia hanya tidak ingin membahas tentang Alita sekarang, ini masih pagi dan ia tidak ingin menghancurkan moodnya.


"Terus juga... jangan sampai kamu takut untuk kenalan atau deket sama cewek lain. Ya siapa tau kan jodoh kamu terselip diantara mereka." imbuh mama Salma sambil merapikan dasi yang telah terpasang itu.


"Mama kenapa sih pagi-pagi udah ngomongin jodoh? Mama udah enggak mau bantuin Rafa ngiketin dasi lagi?" Rafa memasang ekspresi sedihnya, yang kemudian membuat mamanya tak bisa menahan tawa.


"Enggak. Bukan begitu maksud, mama." saking gemasnya, kini mama Salma beralih mencubit pipi Rafa. "Mama cuma enggak mau kamu berlarut-larut dalam kesedihan. Dulu kan kamu kayak enggak kenal sama yang namanya galau. Tau-tau udah ganti pacar aja."


"Ya itu kan dulu, Ma."


"Ajak jalan-jalan tuh Hanna, William atau siapa gitu. Kamu jangan sendirian mulu, yang ada ntar makin inget sama Alita. Hanna juga kayaknya udah sering pulang ke rumah, tante Widya bilang dia enggak begitu betah tinggal sama neneknya. Kamu tau soal itu?"


"Eh? Kenapa? Kalian berantem?"


"Enggak ada apa-apa, Ma."


Rafa menampilkan senyum manisnya, lalu menggandeng tangan mamanya untuk keluar kamar. Jika tidak seperti itu, mamanya pasti akan bertanya lebih lanjut perihal apa yang terjadi antara dirinya dan juga Hanna. Apalagi Hanna kan anak dari teman dekat mamanya, tentu mamanya pasti akan memastikan kalau semuanya baik-baik saja.


......................

__ADS_1


Kembali ke departemen tempatnya magang dulu benar-benar membuat Rafa bahagia. Apalagi kini ia kembali dengan status sebagai karyawan tetap, tentu membuatnya tenang karena tak perlu lagi berpisah dari orang-orang departemen yang telah dekat dengannya seperti keluarga.


Meskipun semua orang tahu jika status Rafa sebagai karyawan hanya sementara, tapi tetap saja mereka menyambut Rafa dengan suka cita. Toh jika nanti Rafa menggantikan posisi papanya, Rafa juga akan tetap berada di kantor ini.


Yang berbeda, kali ini ada satu karyawan baru yang belum lama diterima. Pan Hans bilang, karyawan baru tersebut menggantikan posisi bu Imelda yang mengajukan resign sebelum melahirkan bulan lalu.


"Kayaknya seumuran kamu, Fa. Fresh graduated juga. Dia keponakannya pak Ruri dari divisi keuangan itu. Untung aja emang tuh anak juga mumpuni, kalo enggak bisa jadi bahan cemoohan banyak orang disini karena masuk pake jalur orang dalem " ujar pak Hans saat mengobrol dengan Rafa di ruangannya.


"Lah, saya kan juga masuk pake jalur orang dalem, Pak hahahaha...."


Ucapan Rafa barusan langsung membuat pak Hans terdiam. Benar saja, Rafa kan kala itu masuk begitu saja tanpa melewati proses seleksi dan sebagainya. Duh, sepertinya pak Hans lupa dia berbicara dengan siapa.


"Hahahaha... iya juga ya?" Pak Hans tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal itu. "Yaaa... kalian sebelas dua belaslah, meskipun masuk dengan bantuan orang dalam tapi bisa membuktikan kinerjanya yang bagus. Bedanya kalo nanti kamu bakal jadi bos, dia tetep jadi karyawan biasa."


Mereka kembali menikmati kopi hangat sembari membicarakan banyak hal. Rafa sengaja berangkat pagi karena ingin merapikan meja yang telah lama ditinggalkannya, tapi ternyata pak Hans juga datang pagi.


"Nah, itu dia udah datang. Cantik kan?" Pak Hans memberi kode lewat dagunya.


Rafa menoleh, menatap karyawan baru yang sejak tadi dibicarakan oleh pak Hans melalui jendela di ruangan pak Hans. Rafa hanya manggut-manggut saja, karena sebenarnya memang ia sedang malas memberikan komentarnya apalagi tentang fisik seorang wanita.


"Bisa tuh Fa kamu deketin, disini yang masih single kan cuma kalian berdua. Yang lain udah pada nikah dan bertunangan."

__ADS_1


Kali ini Rafa langsung menyangkalnya. Ia langsung menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ke arah pak Hans. Membuat pak Hans langsung mengucapkan kata maaf karena takut menyinggung Rafa untuk yang kedua kalinya.


Entah apa arti dari gelengan kepala itu. Apakah Rafa menolak untuk dijodoh-jodohkan dengan gadis itu, atau karena Rafa masih belum ingin menjalin sebuah hubungan lagi?


__ADS_2