
Layaknya pasangan yang sedang dimabuk asmara, Rafa dan Hanna menyusuri jalanan Robin Hood's Bay dengan bergandengan tangan. Hanna bahkan seolah melupakan kenyataan jika dirinya telah memiliki kekasih, dan justru menjerumuskan dirinya semakin dalam pada sihir pesona Rafa.
Rafa terus mengeratkan genggaman tangannya pada Hanna. Jika saja ia bisa menghentikan waktu, ia akan menghentikannya sekarang juga. Agar mereka tidak perlu kembali ke realita yang sesungguhnya, dan Hanna pun kembali ke pelukan kekasihnya.
"Kenapa?" Hanna bertanya saat Rafa tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Bukannya menjawab, lelaki itu malah tersenyum lalu melirik ke arah tempat dibelakangnya. Sebuah tempat yang terdapat beberapa meja biliar dan arena bermain bowling.
"Mau masuk ke dalam dulu sebelum kita balik ke hotel?"
Hanna tampak mempertimbangkan ajakan Rafa, lalu tanpa ragu menyetujuinya.
"Tapi cuma main bowling, aku cuma bisa main itu."
"Enggak mau nyoba main biliar?"
Hanna langsung menggelengkan kepalanya. "Aku enggak mau ada modus terselubung dengan ngajarin aku main biliar."
Rafa tertawa, sepertinya maksud dan tujuannya langsung diketahui oleh Hanna.
"Oke, kita masuk ke dalam dan bowling. Tapi aku ada syarat?"
"Syarat?"
Rafa mengangguk. "Untuk pemenangnya akan punya satu permintaan yang harus dikabulkan oleh yang kalah."
"Oke! Itu enggak susah." Jawab Hanna dengan semangat, sebelum akhirnya keduanya masuk dan bermain bowling bersama.
...****************...
Rafa tidak ingin kembali. Ia hanya ingin terus bersama Hanna seperti ini. Tetapi ia tidak mungkin terus memaksa Hanna berjalan sejak siang tadi.
Langkah beratnya memasuki hotel tempat mereka menginap. Ketika mereka masuk ke dalam kamar mereka masing-masing dan pagi menjelang, semuanya akan kembali ke sedia kala.
"Besok... kita masih bisa sarapan bareng kan?" Tanya Rafa saat keduanya sampai di depan pintu kamar masing-masing.
Hanna tampak berpikir, tapi kemudian tersenyum dan mengangguk untuk mengiyakan permintaan Rafa.
"Balik bareng? Daripada kamu naik taksi dan sebagainya, aku juga bisa anter kamu balik dengan selamat sampai di depan apartemen."
__ADS_1
Hanna kembali tersenyum dan mengangguk, mungkin tidak akan masalah. Selain itu juga Arthur masih berada di London, dan Rafa hanya akan mengantarnya pulang. Dirinya benar-benar mengkhianati Arthur sekarang.
"Istirahatlah." Rafa mendekat untuk kemudian mengecup kening Hanna dan mengusap lembut rambutnya. "Kalo butuh apa-apa, kasih tau aku ya. Kamarku pas banget di depan kamar kamu."
"Paling aku akan ngeribetin kak Rafa kalo kelaperan tengah malem."
"It's okay, kita bisa keluar untuk cari tempat makan yang masih buka atau pake room service."
Setelah mengucapkan kalimat selamat malam yang tak kunjung selesai, Rafa dan Hanna akhirnya memasuki kamarnya masing-masing. Merasa lelah berkeliling Robin Hood's Bay dari siang tadi, rasanya berendam air hangat akan sangat menyegarkan.
...****************...
Sudah berapa kali Hanna mengetuk pintu kamar Rafa, tapi tak mendapat jawaban. Hingga akhirnya ia memutuskan akan pergi sendiri, karena mungkin saja Rafa telah terlelap dengan nyenyaknya.
Hanna memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, lalu berjalan menuju lift yang letaknya tak jauh dari kamar mereka. Saat pintu lift terbuka, Hanna terkesiap saat mendapati Rafa ada disana dengan dua paper bag ditangannya.
"Kamu mau kemana?" Rafa bertanya sambil berjalan keluar lift.
"Keluar, barusan aku searching beberapa kafe di deket sini. Aku... tadi telpon kak Rafa berulang kali tapi enggak diangkat."
"Ah, hape aku tinggal di kamar. Soalnya lowbatt, kamu laper?"
Hanna menggelengkan kepalanya. "Enggak, cuma pengen ngemil aja. Tadi harusnya aku mampir untuk beli snack dulu."
"Aku udah beli banyak snack sama minuman, jadi kamu enggak perlu keluar hotel lagi."
"Mau... di kamarku?"
Rafa menggelengkan kepalanya. "Lebih bagus di kamarku. Kita bisa duduk atau berdiri di balkon sambil ngeliat pemandangan teluk di malam hari."
Setelah memasuki kamarnya, Rafa membongkar barang belanjaannya yang cukup banyak itu. Lalu meminta Hanna mendekat dan memilih apa yang ingin dimakannya.
"Ini bukan snack, btw hahahaha.... Ini semuanya adalah cemilan berat."
"Ternyata agak susah nemuin mini market di deket sini, dan aku enggak sanggup untuk kembali jalan ke tempat kita jalan-jalan tadi."
"Terus kenapa beli kue banyak banget?"
"Ini udah hampir jam sebelas, dan toko kue ini ngasih diskon lima puluh persen untuk semua kue yang tersisa. Karena aku bingung beli yang mana, jadi aku asal ambil aja."
__ADS_1
Setelah mengambil kue dan minuman pilihan mereka, keduanya berjalan menuju balkon. Melihat pemandangan teluk di malam hari, sambil membicarakan tempat-tempat yang mereka kunjungi siang tadi.
"Kak Rafa enggak tanya kenapa tiba-tiba aku bisa semanis ini?" Tanya Hanna tiba-tiba.
"Aku penasaran. Tapi aku lebih milih diem aja daripada harus merusak suasana yang mungkin enggak akan aku dapetin lagi besok."
"Kedengerannya bukan kayak kak Rafa yang dulu."
"Hahahahaha... kamu udah nolak aku berulang kali, Han. Jadi aku enggak berani untuk bersikap terlalu kepedean sekarang. Aku hanya berusaha untuk realistis aja."
Suasana hening mengambil alih untuk sesaat. Keduanya saling terdiam sambil menatap perairan teluk yang nampak tenang malam itu.
"Selama ini, aku selalu berusaha untuk menghindar dari kak Rafa. Lebih baik aku enggak ketemu kak Rafa, setidaknya itu enggak akan ngebuat kondisinya jadi kacau setelahnya. Tapi perkataan El benar, enggak selamanya aku bisa ngehindarin kak Rafa. Hari ini contohnya, kita secara enggak sengaja ketemu disini dan... aku enggak bisa kabur lagi seperti biasanya."
"Kacau kenapa? Apa... aku udah ngebuat kamu seburuk itu?"
Hanna menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Enggak. Maksudku...."
Keduanya saling bertatapan. Hanna sedang mencoba merangkai kata-katanya dengan benar, sementara Rafa menunggu penjelasan Hanna dengan tidak sabaran.
"Aku sempet ragu akan perasaanku kepada Arthur, disisi lain aku juga enggak mau ngejadiin dia sebagai pelarian semata. Aku mencoba untuk menerima dan mencintai Arthur setiap harinya, itu sebabnya aku enggak mau ketemu kak Rafa. Dan aku berhasil melakukannya setahun ini."
Meskipun kecewa dengan penjelasan Hanna, tapi Rafa mencoba untuk tetap menerimanya.
"Aku ngerti." Ucap Rafa dengan lirih. Ia kemudian menghela nafasnya, lalu membenarkan posisi berdirinya untuk berdiri dengan tegak menghadap ke arah Hanna.
"Kamu... bahagia sekarang?"
Hanna menggangguk. "Hm, aku bahagia sekarang."
Rafa terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya ingatannya menemukan perjanjian mereka saat bermain bowling tadi.
"Aku belum menggunakan hak kemenanganku saat main bowling tadi, boleh aku ajukan sekarang."
Hanna mengangguk sambil tersenyum. "Tapi jangan sesuatu yang mahal, dan jangan nyuruh aku-"
"Aku pengen cium kamu."
__ADS_1
...****************...
Ettdaaaahhhh... lama menghilang begitu nongol langsung minta cium aja nih Rafa. Kira-kira dikasih ga ya? ðŸ¤ðŸ¤