Back To You

Back To You
Chapter 63


__ADS_3

Jika dulu Alita yang menghindari Rafa, kini giliran Rafa yang menghindari Alita. Seperti sedang membalas dendam juga kepada Alita, lelaki itu enggan menemui atau membalas pesan dan mengangkat panggilan telepon dari Alita.


Rafa hanya ingin menenangkan diri, agar dirinya bisa berpikir jernih dan tidak mengandalkan emosinya. Meskipun sulit baginya untuk tetap fokus dengan urusan skripsinya, tapi Rafa telah memilih untuk mengesampingkan Alita terlebih dulu.


Alasannya, tak lain dan tak bukan adalah karena papanya. Rafa tidak ingin papanya kembali murka terhadapnya karena gagal menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu karena urusan pacar.


Sebenarnya, ingin sekali Alita mengirimkan pesan kepada mama Salma untuk menanyakan keadaan Rafa. Alita bisa saja berpura-pura datang ke rumah dengan membawa buah tangan dari keluarganya agar bisa masuk ke rumah itu dan bertemu Rafa. Tapi Alita tidak mau. Sedari awal Alita tidak ingin melibatkan keluarga dalam urusan penyelesaian masalah mereka.


Mungkin kali ini memang dia harus memberikan waktu untuk Rafa. Sama seperti saat Rafa dulu memberinya waktu tanpa menemuinya sekali pun.


Tapi Alita tidak menyangka jika Rafa memerlukan waktu selama ini untuk menghindarinya. Lelaki itu bahkan membutuhkan waktu lebih lama darinya, Rafa benar-benar menghindarinya. Rafa bahkan mengabaikan semua pesan darinya, padahal statusnya sering online.


Alita tidak memiliki pilihan lain. Ini sudah seminggu sejak pertengkaran mereka di parkiran basement hotel. Mumpung Alita sedang benar-benar free, dia pun memutuskan untuk pergi ke rumah Rafa.


Kali ini, Alita memilih naik taksi karena pak Maman sedang mengantar mamanya mengunjungi saudaranya. Sebenarnya dia merasa takut keluarga Rafa akan mengetahui jika mereka berdua sedang ada masalah, tapi akhirnya Alita tidak peduli. Dia hanya ingin masalah mereka segera selesai.


"Tunggu dulu ya, Non. Saya panggilkan mas Rafa dulu." ucap bi Yati sambil mempersilahkan Alita duduk.


Rumah itu nampak sepi. Alita sedikit menghela nafas lega karena mungkin mama Salma sedang tidak berada di rumah. Cukup lama Alita menunggu, hingga akhirnya Rafa muncul dengan wajah khas bangun tidurnya.


"Maaf. Aku... gangguin kamu ya?" ucap Alita dengan hati-hati. Dia hanya takut Rafa akan semakin marah kepadanya, karena Rafa termasuk golongan orang yang tidak suka jika waktu tidurnya diganggu gugat.


"Kita bicara di luar, bentar lagi Mama pasti balik ke rumah." Rafa begitu saja melangkah keluar, dan kemudian diekori oleh Alita yang tidak tahu kemana Rafa akan membawanya.


......................


Menghentikan mobilnya di pinggiran danau buatan, Rafa tidak berencana untuk mengajak Alita turun. Ia hanya menurunkan kaca jendela mobilnya. Selain karena cuaca sedang terik, Rafa juga tidak ingin menarik perhatian orang yang sedang berada disana.

__ADS_1


"Kita bicara disini aja." ucap Rafa dengan menoleh ke arah Alita. Ia bahkan tidak tahu bagaimana cara memulai percakapan mereka kali ini, karena Rafa takut untuk menghadapi kenyataan yang akan terjadi.


"Kamu... sibuk ngurusin skripsi ya?"


"Iya. Beberapa hari yang lalu juga aku sering bolak-balik ke rumah sakit."


"Rumah sakit? Siapa yang sakit?"


"Ayah Hanna. Aku yang mengajukan diri untuk anter atau jemput Hanna kalo Wildan berhalangan."


Alita hanya menganggukkan kepalanya. Dia sudah mengetahui bagaimana kedekatan Rafa dan Hanna yang terjalin bahkan sebelum Rafa mengenalnya.


"Aku... minta maaf untuk kejadian seminggu yang lalu. Aku tau kalo aku udah ngecewain kamu, tapi aku enggak bermaksud untuk bales dendam ke kamu, Fa."


"Jadi kamu sama Theo sedekat apa?"


"Dan kamu ngerasa nyaman sama dia?"


Rafa tidak menatap Alita. Sedari tadi Rafa mencoba menghindari untuk bertatapan dengan Alita. Karena ia tidak ingin perasaannya semakin terluka.


"Aku merasa... banyak kesamaan antara aku dan Theo. Perasaan sama seperti yang aku rasain saat sama kamu dulu."


"Dulu ya?" Rafa tersenyum sinis, seolah menertawakan dirinya sekarang yang mungkin sudah tidak bisa membuat Alita merasa nyaman lagi didekatnya.


"Maksudku-"


Belum juga Alita sempat melontarkan kalimatnya, Rafa telah lebih dulu menyelanya.

__ADS_1


"Seperti yang kamu bilang beberapa bulan yang lalu, hubungan kita sekarang emang enggak akan berjalan dengan mudah. Kita sama-sama berusaha untuk membuat semuanya baik-baik aja, tapi tetap aja enggak bisa. Kesalahanku dulu bukan hanya menyakitimu, tapi juga menghancurkan hubungan kita. I messed up everything."


"Rafa...."


Rafa kembali menyela Alita dengan meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat. Meskipun berat baginya, tapi akhirnya Rafa mengatakannya.


"Aku enggak akan maksa kamu lagi untuk bertahan kalo kamu enggak bahagia, Lit. Kamu berhak bahagia, dan mungkin sekarang kebahagianmu bukan sama aku lagi."


Rafa mengecup punggung tangan Alita, lalu mendongakkan kepalanya. "Kita bisa jadi teman baik kan setelah ini?"


Baik Rafa maupun Alita, keduanya tidak pernah terpikirkan akan berada pada tahap ini. Kesalahan Rafa beberapa waktu lalu memang membuat semuanya menjadi berbeda. Perjuangan sekeras apapun bahkan tidak bisa untuk menguatkan mereka kembali.


"Kamu udah yakin sama keputusanmu ini? Kamu enggak mau nanya pendapatku gimana?"


"Ayolah, Lit. Kamu akan lebih terluka kalo masih terikat sama aku." Rafa mengusap air mata Alita. "Berjanjilah kamu akan lebih bahagia setelah ini, oke?"


"Fa...."


"Aku enggak pernah diputusin sama cewek, Lit. Jadi kamu jangan ngerusak rekor yang udah aku buat selama ini deh." canda Rafa.


Meskipun diselipi dengan senyuman dibibir mereka, tapi sebenarnya kondisi hati mereka tidak demikian. Perpisahan kali ini tidaklah mudah bagi Rafa. Jika dulu ia malah menantikan saatnya untuk berpisah dengan kekasihnya, tapi semuanya berbeda sejak ia mengenal Alita.


Meski perpisahan itu adalah kenyataan yang tidak mudah untuk diterima begitu saja, tapi memang itulah konsekuensi dari setiap perjumpaan.


Alita begitu saja menghambur ke pelukan Rafa, lalu menangis sejadinya. Rafa juga memeluk Alita dengan eratnya, karena ini mungkin terakhir kalinya ia dapat memeluk Alita-nya.


"Janji sama aku ya, Lit. Kalo nanti kamu enggak bahagia sama Theo atau siapa pun itu, kamu harus balik lagi ke aku. Aku akan tetap nungguin kamu, karena sampai sekarang... cuma kamu satu-satunya orang yang aku mau untuk ngedampingin hidupku." ucap Rafa dengan lirih disela-sela pelukan mereka.

__ADS_1


__ADS_2