
Pagi ini tidak seperti biasanya, kalut yang sempat melanda terasa ringan begitu saja, bukan karena keyakinan hati yang memutuskan untuk kembali menjalin bersama lagi, hanya saja semua alasan tanpa penjabaran sudah bisa diterima tanpa adanya paksaan, semua berjalan sesuai alur yang sudah lama diciptakan dan diinginkan.
Rosé berjalan santai dengan ingatan-ingatan percakapannya dengan Vee tempo hari. Pria itu memutuskan untuk tetap mengejarnya walaupun ia menegaskan berkali-kali bahwa dirinya tidak bisa untuk menali benang lagi, namun ada perasaan lega karena dirinya tidak perlu untuk bersembunyi, karena pria yang sangat dicintainya itu tak akan mengusik hanya untuk mengambil perhatian.
Terkadang rasa sepi menyelimuti mana kala sosok itu tidak muncul hanya sekedar tersenyum ataupun menyapa, rindu itu tiba-tiba menerjang mana kala punggung lebar itu hanya berlalu tanpa adanya sentuhan, semua terasa ringan tapi menyakitkan, apakah wanita ini mengambil langkah yang salah, ataukah prianya yang berhenti memperjuangkan?
Tidak ada yang tau pasti dan rasanya hambar.
Mengehembuskan nafas pasrahnya, Rosé memasuki pintu utama Rumah Sakit, memorinya mengulang adegan lama saat pertama kali dirinya dulu menginjakkan kaki di tempat ini, pemandangan bunga mawar yang tidak akan pernah bosan menjadi latar belakang.
Dentingan notifikasi dari ponselnya membuyarkan berbagai perangai kata dalam sarang otaknya, tangannya sibuk meraih benda plasma yang tergeletak rapi di dalam tas slempangnya.
Forum Hospital of Jakarta: Siapapun tolong ke atap gedung, saya petugas kebersihan, sepertinya saya melihat ada seorang wanita hamil mencoba bunuh diri. Tolong cepat.
"Astaga." pekik Rosé merasa tercengang atas notifikasi gila yang baru saja dia terima, apalagi mendengar kata 'hamil', seakan Rosé adalah wanita paling tidak beruntung di Dunia, kenapa ada wanita sebegitu bodohnya ingin bunuh diri sedangkan dalam tubuhnya masih ada satu nyawa lagi yang harus melihat dunia yang indah ini.
"Aku harus cepat kesana." monolog Rosé gusar tak menghiraukan sekitar yang mungkin merasa sama kawatirnya dengannya.
Mengingat peringatan yang baru saja diterimanya tidak hanya untuk dirinya, tak kehilangan akal, pun Rosé cepat berlari namun tangannya tetap sibuk berurusan dengan benda pipih merah maroon yang sedang dijadikannya sandra dalam jemarinya.
"Halo, Kak."
“Iya, ada apa Lyn.”
"Kakak, tolong siapkan heli atau semacamnya, ada seorang wanita yang mencoba bunuh diri dari atap gedung rumah sakit, tolong kak cepat.
Rosé mengucapkan dengan tidak tenang, jangan lupakan tangannya yang mulai bergetar serta matanya yang terasa berkunang-kunang menahan sesuatu, kesadarannya diambil alih, sisi lain darinya muncul di permukaan, ini merupakan tanda bahaya untuk Rosé sendiri, wanita itu tidak boleh seperti ini.
“Alyn, kau harus tenang, tolong tenanglah.”
"Kak, jangan banyak bicara, cepat lakukan perintahku."
Rosé membentak dengan keras sampai tidak terasa orang-orang yang sudah dilewatinya merasa tercengang melihat Dokter yang biasanya terlihat anggun dan cantik berpenampilan seberantakan ini, sungguh hal yang tak terduga.
“Ok, kakak segera datang dan membantu.”
Keinginan menggebu untuk menolong wanita yang menurutnya sangat bodoh itu adalah tujuan utamanya saat ini, menampik kemungkinan lebih banyak orang lagi yang bahkan mampu untuk menolong lebih darinya mengingat rumah sakit ini sudah bertaraf international, pasti penanganan juga sangat bagus.
__ADS_1
Rosé tidak sabaran untuk segera menginjakkan kakinya ke atap gedung, keadaan ramai membuatnya menjadi lamban, bahkan bukan dirinya saja saat ini yang tergesa untuk menuju tempat yang mengguncang seisi Rumah Sakit.
Ditempat lain, pria bermata sipit jika dia tersenyum hanya akan meninggalkan garis linear saja tengah tersenyum melihat hasil kinerjanya untuk mengembalikan fungsi tulang dari seorang wanita yang baru-baru ini rutin chek up di unitnya, senyum itu pudar setelah panggilan menguar dari balik ponselnya.
"Halo, ba..."
Belum sempat James menyelesaikan kalimatnya, Candra mengambil alih. “Jam cepat susul Rosé ke atap gedung Rumah Sakit.”
James masih tertegun dengan apa yang terjadi, dalam hati nya tak berhenti bertanya, ok, sepertinya ia harus berhenti mengulur waktu dan cepat mencari tau apa yang sebenarnya sedang terjadi di belakangnya.
Tak lama James mulai berjalan dengan cepat menuju atap gedung, dirasakan pandangannya mengedar ke semua penjuru, banyak manusia berlalu lalang, sepagi ini kenapa banyak orang yang merasa sok sibuk sendiri.
James ingat akan notifikasi yang dianggurkan sejak tadi, biasanya ia memang jarang membuka apapun dari forum Rumah Sakit, namun kali ini penasaran mengingat banyak orang disekitarnya fokus pada ponsel masing-masing—adakah sesuatu yang tidak ia ketahui.
James langsung berlari setelah sesaat kedua bola matanya membaca satu persatu kata yang menjadi kalimat ancaman untuk sepupunya, satu kata dari kalimat itu sudah sangat jelas mengintruksi dirinya untuk segera sampai pada tempat yang berkemungkinan dapat menghancurkan hati seseorang bahkan bukan hanya hatinya saja—kesakitan fisik mungkin terjadi.
...****************...
"Berhenti." teriak Rosé lantang ditengah kegaduhan, ya siapa sangka di atas atap gedung ini sudah ada beberapa orang bahkan lebih banyak dari perkiraaan yang merupakan tenaga medis ataupun staf di Rumah Sakit ini.
Tidak ada pencegahan yang berarti atas tindakan wanita gila di ujung sana, segitu mudahnya wanita dengan perut gembil itu ingin mengakhiri hidupnya, sedangkan masih banyak berjuta juta wanita di luar sana bermimpi mendapat anugrah yang sama seperti yang ia punya.
"Stop, jangan mendekat atau aku akan melompat sekarang juga."
Berbagai teriakan dari belakang memperingati Rosé untuk tidak mendekat lebih dari tempatnya, tidak bisa di bohongi jika keadaan cukup mencekam.
"Ok, aku tidak akan mendekat," ucap Rosé dengan tangan mengalun kedepan memperingatkan bahwa dirinya dalam sikap siaga dan melakukan sesuai keinginan wanita malang itu.
"Akh" jerit wanita yang sedang menggunakan dress hijau motif bunga dan terdapat gundukan di perutnya yang dapat terbaca sekitar usia enam bulan kandungan.
"Kenapa semua orang membenciku, kenapa kalian ingin menghalangiku, kalian semua sama," teriaknya lagi putus asa.
Jangan abaikan air matanya yang tak dapat terbendung lagi, tangannya mulai meremas ujung kepala, memegang banyak helaian rambutnya untuk di jambak. Rosé sangat terkejut, tangannya juga bergetar hebat, tontonan ini sangat memilukan baginya, ingin sekali tangan mulusnya itu menggampar wanita hamil didepannya agar cepat tersadar dari tindakan gilanya, namun Rosé tidak mau bodoh—setiap orang punya alasan.
Rosé tersenyum walaupun sangat sulit."Apa kau ingin mendengar ceritaku." dengan tenang Rosé mulai mengulur waktu.
Wanta itu nampak tak begeming sedikitpun, nafasnya masih memburu menahan gejolak gilanya, setelah kepala jadi sasaran, sekarang giliran perutnya jadi hantaman, tanpa kasian seakan mencabik si jabang bayi, perempuan itu dengan teganya memukul-mukul perutnya tanpa ampun.
__ADS_1
Semua orang berteriak histeris, banyak yang merasa kasian, ada pun juga yang mencibir mengatakan bahwa mungkin itu bukanlah calon bayi yang diinginkan, ataukah hasil dari hubungan terlarang dan sebagainya.
Rosé tertunduk tertawa miris. "Sebegitu bencinya kau dengan calon anakmu?" tanyanya dingin, perlahan kepalanya mendongak, kedua netranya menatap datar penuh amarah untuk wanita gembil di depannya.
"Apa kau tau, banyak orang bermimpi punya nasib sepertimu, memiliki kesempatan menjadi calon ibu sepertimu, kurasa kau orang yang memang patut untuk mati."
Wanita yang dianggap Rosé gila itu diam tertegun mendengar rentetan kata tajam yang keluar dari mulut Rosé. Rosé hanya sangat tidak tahan melihat betapa kerasnya pukulan-pukulan yang dilayanhkan wanita berambut pirang pada perutnya.
"Hei. Wanita gila, matilah setelah melahirkan bayi itu, kau bisa memberikannya padakau kalau kau mau."
Rosé sudah tidak perduli lagi dengan mulut pedasnya, banyak seruan di belakang yang tidak menyangka tindakan nekat dari Dokter cantik yang berada di kubu paling depan itu, setiap kata-katanya mungkin bisa saja lebih mendorong wanita hamil itu untuk terjun bebas dari atas gedung.
"Diamlah!!!" Teriak wanita yang tak terima karena merasa terpojokkan oleh Rosé. "Kau tidak tau apa-apa tentang hidupku, jangan ikut campur." dengan sangat tidak tenang wanita itu berteriak dengan telunjuknya menuding Rosé yang menurutnya terlalu masuk kedalam urusannya.
"Aku memang tidak tau apa-apa, bisakah kau ceritakan kisah hidupmu!" ucap santai Rosé. "Dengan begitu aku akan diam dan hanya mendengarkan dan menarik semua tudinganku."
Wanita itu diam namun masih dengan gusarnya.
"Tenanglah, kau bisa ceritakan padaku. Hm" Rosé mulai melembut.
"Tidak, kau tidak pantas ikut campur setelah menyumpai ku mati," tolak wanita itu masih dengan emosinya.
Dari yang dikatakan wanita itu, Rosé dapat menangkap wanita ini tidak benar-benar ingin bunuh diri, namun tidak ada yang tau dengan rencana Tuhan, Rosé hanya perlu waspada dan mengulur waktu.
"Baiklah-baiklah, aku mengerti, bagaimana kalau kita terjun bersama, sepertinya aku juga merasa tertekan dengan hidupku."
Rosé, ada apa dengan wanita ini, Rosé mulai tidak beres dengan kelakuannya sendiri.
"Jangan mendekat," peringat wanita itu setelah Rosé dapat melangkah satu jengkal mendekatinya.
"Tenang, aku tidak akan mencegahmu, aku hanya ingin ikut denganmu, percayalah." Rosé menjelaskan dengan tenangnya tanpa beban.
Sudah tambah banyak saja orang yang berada di belakang untuk menyaksikan perdebatan atara kedua wanita gila itu. Rosé sudah tidak mampu mengontrol dirinya, hidupnya kini juga sudah diambang.
"Kau berbohong, apa alasanmu ingin ikut denganku?”
Rosé tersenyum tipis menanggapinya. "Apa lagi? Karena aku juga putus asa sepertimu, bukankah ide bagus jika kita pergi bersama!!"
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanya wanita gembil yang mulai penasaran akan tindakan Rosé.
"Kau ingin tau?"