
Rafa tetaplah Rafa. Dulu yang mamanya sering mengomel karena dirinya yang hobi bergonta-ganti pacar saja tidak ia hiraukan, apalagi sekarang yang mengomel Alita. Terlebih status Alita yang bukan lagi pacarnya dan sudah benar-benar menolaknya. Jadi Rafa berpikir dirinya tidak harus mendengarkan apa yang Alita ucapkan kepadanya beberapa saat yang lalu.
Belum pergi dari tempat terakhir mobilnya berhenti untuk berbicara dengan Alita, Rafa malah terbuai dengan lamunannya mengamati lalu lalang orang yang berada di taman sore itu. Pikirannya benar-benar buntu. Membawa Hanna kembali pulang ke rumah mereka bukanlah perkara yang mudah baginya. Tapi ia memang harus kembali membawa pulang Hanna ke rumah, secepatnya!
Rafa segera menyalakan mesin mobilnya dan memutar arah untuk kembali ke apartemen Hanna. Setelah beberapa hari hanya mengamati Hanna keluar masuk gedung apartemen itu, kali ini Rafa memutuskan untuk turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju unit apartemen milik Hanna.
Tidak sulit untuk mencari unit milik Hanna di gedung yang hanya terdiri dari tiga lantai itu. Dan Rafa tahu jika Hanna berada di unit paling ujung dengan jendela yang menghadap ke arah matahari terbit, sebab itu adalah spot kesukaan Hanna.
Rafa mengetuk pintu apartemen Hanna dengan keras dan tidak sabaran. Tidak cukup sekali, tetapi berkali-kali. Hingga akhirnya sang pemilik ruangan membuka pintu dan sudah bersiap untuk mengomel, tapi gerakan bibirnya terhenti saat mengetahui jika Rafa-lah yang berdiri di depan pintu.
"K-kak Rafa?" Mata Hanna terbelalak, tidak percaya jika Rafa akan datang ketempatnya.
Padahal tadi saat melihat Alita masuk ke dalam mobil Rafa, Hanna mengira jika keduanya pasti akan membutuhkan waktu lama untuk bertemu, tapi dugaannya salah. Malah sekarang Rafa telah berdiri di depan pintu apartemennya dengan wajah memelas.
"Ngapain kesini?" Sambung Hanna dengan nada terbata.
Rafa langsung mengubah raut wajahnya dengan cepat dan nyelonong masuk begitu saja tanpa dipersilakan oleh sang tuan rumah.
"Gue sakit, Han." Jawabnya sambil membaringkan tubuhnya diranjang milik Hanna.
"Ih, kak Rafa apa-apaan sih? Pulang sana, kalo sakit ya istirahat di rumah." Hanna mencoba menarik tubuh Rafa melalui jaketnya. Tapi tentu saja tidak berhasil karena tubuh Rafa jauh lebih besar dan berat darinya.
__ADS_1
"Enggak ada yang ngurusin gue di rumah."
"Kan bisa minta tolong bibi May, atau... pacar kak Rafa kan banyak tuh. Tinggal tunjuk aja satu buat ngurusin di rumah."
"Pacar apaan? Gue enggak ada status sama mereka." Rafa masih asik berbaring di ranjang Hanna dengan kepala yang ia tutupi dengan bantal.
"Enggak ada status tapi mesra banget." Cibir Hanna yang memilih untuk beranjak pergi ke meja belajarnya.
"Udah sih, enggak usah dibahas. Gue cuma main-main aja sama mereka, enggak ada yang gue seriusin. Eh, malah elo pake acara cerita ke Alita kalo pacar gue banyak."
Hanna tidak merespon. Hanna memang tahu jika Rafa dan Alita sempat pergi bersama setelah dari apartemennya. Daripada mengurusi Rafa yang tidak jelas, lebih baik Hanna mengerjakan tugasnya yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Alita.
"Halah, udah setua itu sakit aja masih manja. Masih bisa nyetir sampai kesini itu tandanya kak Rafa masih kuat, enggak parah sakitnya. Udah sana balik ke rumah aja." Usir Hanna tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop di depannya.
"Gue pusing Han tiap telpon ditanyain mama elo dimana? Kepikiran mulu gue, makanya jadi sakit gini."
Hanna mendengus kesal, tapi kemudian memilih untuk tidak mempedulikan Rafa. Hingga Rafa kemudian bangkit dan mendekat ke meje belajar Hanna dan menyodorkan ponselnya.
"Telpon mama gih, biar gue enggak ditanyain mulu."
Meskipun kesal, tapi Hanna menurut. Hanna lalu bangkit dari kursi belajarnya, dan berpindah duduk diranjangnya. Hal ini dilakukannya agar ibu mertuanya itu tidak curiga dengan tempat mungilnya yang menunjukkan dapur mini dan sebagainya. Sedangkan Rafa, bak layaknya pemilik rumah, ia tak sungkan membuka kulkas mini Hanna dan mengambil minuman serta beberapa camilan. Dan membawanya ke ranjang untuk sesekali ikut nimbrung dalam percakapan antara mamanya dan juga Hanna.
__ADS_1
Selang beberapa saat, panggilan video itu berakhir. Hanna menyerahkan ponsel Rafa dan beranjak dari duduknya, memungut sepatu Rafa yang dilepaskan sembarangan oleh pemiliknya. Bukan untuk ditata dengan rapi, melainkan diletakkan diluar unit apartemennya.
"Aku udah telpon mama dan kayaknya kak Rafa enggak bener-bener sakit, jadi kak Rafa bisa pulang sekarang." Ucap Hanna sambil memegangi handle pintu.
Rafa yang tadinya tengah asik mengunyah keripik kentang kesukaannya pun langsung terperangah, tidak menyangka jika dirinya akan diusir oleh Hanna. Buru-buru ia meletakkan bungkusan keripik ditangannya dan merebahkan dirinya di ranjang milik Hanna.
"Oek, kalo gitu aku aja yang keluar." Hanna berjalan menuju gantungan jaketnya, namun kemudian dicegah oleh Rafa dengan gerakan secepat kilat.
"Elo kenapa sih, Han? Gue kan udah minta maaf dari kemarin-kemarin."
"Enggak ada apa-apa, aku cuma enggak mau berurusan lagi sama kak Rafa." Hanna menjawab dengan santai sembari memakai jaketnya.
"Enggak mau berurusan gimana sih maksud lo? Selama lo disini, elo itu tanggung jawab gue, Han."
"Aku bisa jaga diri." Hanna masih menjawab dengan santai tanpa menatap ke arah Rafa sembari mengucir rambutnya.
Gerakan Hanna ini rupanya membuat Rafa tidak nyaman. Pikiran Rafa langsung melayang pada kejadian sore itu, kala dirinya menikmati tubuh bagian atas milik Hanna. Entah kenapa suhu tubuhnya terasa tiba-tiba panas, bahkan mungkin wajahnya telah memerah sekarang. Belum lagi sesuatu yang bergejolak didalam dirinya.
"E-elo... di rumah aja, Han. Gue mau balik."
Rafa langsung memutar tubuhnya dan berjalan keluar, ia bahkan mengenakan sepatunya dengan buru-buru. Rafa merasa aneh dengan dirinya. Bermesraan seperti itu bahkan sering ia lakukan, dulu saat masih bersama Jihan. Tetapi entah kenapa sekarang terasa berbeda. Entah karena Rafa melakukannya pada istri sahnya, atau karena... memang sudah ada rasa.
__ADS_1