Back To You

Back To You
Chapter 116


__ADS_3

Hanna gelisah, karena sejak tadi panggilan teleponnya kepada Rafa tidak tersambung. Tidak tahukah Rafa jika sekarang dirinya tengah dihadapkan pada situasi yang genting, dan Rafa malah seenaknya sendiri mematikan ponselnya. Hanna berpikir jika mungkin Rafa sedang tidak ingin diganggu lantaran tengah bertemu dengan Alita, tapi setidaknya lelaki itu tidak mematikan ponselnya.


Hanna melirik kembali ke arah lelaki yang tengah duduk disofa sambil sibuk memainkan ponselnya. Lelaki itu pula yang membuat Hanna berlari sekencang mungkin untuk bisa segera sampai di rumah mereka dengan segera. Hanna bahkan harus mengabaikan rasa haus dan ngos-ngosannya, karena langsung diinterogasi oleh Rayyan dan harus segera menelpon Rafa untuk menyuruhnya segera pulang.


"Masih enggak aktif juga?" Tanya Rayyan sambil menatap Hanna yang duduk dihadapannya.


Hanna mengangguk, rasanya tidak ada nyali sedikit pun untuk mengeluarkan suaranya. Ini pertama kalinya Hanna melihat raut wajah marah dari Rayyan, belum lagi nada bicaranya yang terdengar dingin sejak tadi.


"Telpon terus, kalo perlu kamu telpon Alita juga."


Hanna kembali mengangguk. Demi menjaga kewarasan dirinya, Hanna memilih menyingkir dari hadapan Rayyan. Lima belas menit duduk dihadapan Rayyan dengan amarah yang siap meledak itu benar-benar menakutkan. Belum lagi membayangkan akan jadi seperti apa dia dan Rafa nanti saat papa Adit tiba nanti.


Hanna memilih untuk masuk ke dalam kamar yang dulu dia tempati. Ada Zahra dan Abby disana yang sedang asik bermain boneka sambil bercerita. Sedangkan Papa Adit memilih membawa mama Salma ke hotel dulu untuk beristirahat.


"Masih belum bisa ditelpon ya?" Zahra bertanya saat Hanna menutup pintu kamarnya.


"Iya, Kak." Hanna mendudukkan dirinya dipinggiran ranjang sambil menghela nafasnya.


"Maaf ya, Han. Harusnya aku bisa kabarin kalian dulu sebelum kami kesini, tapi... mama bilang ini kejutan. Terlebih... aku juga penasaran sama hubungan kalian yang sebenarnya, makanya aku milih untuk tetap diam."

__ADS_1


Hanna terdiam sejenak saat mengetahui jika sebenarnya Zahra telah mencurigai dirinya dan juga Rafa.


"I-iya, Kak."


"Aku mungkin bisa menerima kalo kamu sama Rafa enggak pernah memposting foto kalian berdua. Mungkin emang kalian enggak mau mengumbar kemesraan kalian dan alasan lainnya. Aku bahkan udah beranggapan kalo selama ini aku salah menilai waktu kamu posting fotomu dan Rafa saat liburan ke London. Tapi... sejak kamu memposting beberapa foto kondisi meja belajarmu, saat itulah aku yakin kalo kamu enggak tinggal dengan Rafa."


Melihat raut wajah Hanna yang kebingungan, Zahra segera menunjuk meja belajar yang ada di kamar itu.


"Aku emang baru ke Bristol sekali, dan cuma sekali masuk ke kamar ini waktu aku bawain kamu obat pas lagi jetlag. Rumah kalian ini enggak setinggi itu hingga sampai bisa memperlihatkan atap-atap gedung bangunan sekitar."


Hanna menundukkan kepalanya. Rasa bersalahnya semakin menjadi karena telah membohongi keluarga besarnya.


"Coba telpon Rafa lagi, mungkin kali ini dia udah dapet sinyal dan bisa dihubungi." imbuh Zahra.


Hanna mengangguk, lalu beranjak dari duduknya dan menjauh dari Zahra. Hanna kembali menekan nomer Rafa untuk melakukan panggilan telpon yang kesekian kalinya, dan kali ini panggilan itu benar-l-benar tersambung.


"Hm?"


"Kak Rafa buruan pulang!" Ucap Hanna tanpa basa-basi, dan tentu saja membuat Rafa bingung karena tiba-tiba saja Hanna menyuruhnya pulang.

__ADS_1


"Dari tadi ditelponin enggak nyambung, enggak tau apa kalo aku-"


"Gue lupa ngecas hape dari kemarin, jadi mati dan baru gue cas sekarang. Kenapa sih? Gue baru sampai di Wrightington." Rafa menyela Hanna yang sudah akan mengomel itu.


"Hah? Duuhhh masih lama banget sih, kak!"


"Yaaaa... masih tiga jam lagi."


Ingin rasanya Hanna menangis sekarang juga. Perjalanan dari Wrightington ke rumah mereka akan memakan waktu kurang lebih tiga jam. Itu berarti selama tiga jam itu Hanna harus menghadapi Rayyan sendirian.


"Ada kak Rayyan di rumah, dan... Papa, mama, kak Zahra sama Abby juga."


Tidak ada jawaban dari Rafa. Hanna tahu lelaki itu pasti sedang terkejut setengah mati saat mendengar jika keluarganya ada di rumah mereka sekarang.


"E-elo... baik-baik aja kan, Han?"


"Kalo keluarga kak Rafa ada disini dan kita sama sekali enggak ada di rumah, apa menurut kak Rafa aku baik-baik aja?"


"Oke, gue akan usahain untuk buruan sampai ke rumah. Elo jangan banyak ngomong ke papa, abang atau mama sekali pun kalo elo ditanya-tanya. Biar gue yang jelasin semuanya nanti."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari Hanna, Rafa langsung memutuskan panggilan telepon itu. Kini yang bisa Hanna lakukan hanya menunggu, dan lebih baik menunggundi kamar sambil bermain dengan Abby daripada harus duduk berhadapan dengan Rayyan.


__ADS_2