
Rafa memang bukan sosok lelaki yang romantis. Lelaki itu hanya bermulut manis tapi sangat perhatian, sedangkan tampan dan kaya adalah bonusnya. Alita sempat takjub dengan tempat makan malam yang telah disiapkan Rafa malam ini, tetapi saat membuka hadiah dari Rafa, Alita merasa perlu untuk menahan tawa.
Alita teringat kado yang diberikan Rafa dulu saat mereka masih dalam masa pendekatan. Rafa memberikannya sebuah lampu tidur LED berbentuk kucing. Alasannya agar Alita merasa ditemani oleh Rafa saat tidur. Sungguh tidak masuk akal!
Dan kini, di dalam paper bag yang cukup besar itu Rafa memberikannya kado sebuah selimut. Kali ini bukan selimut biasa, melainkan selimut dengan gambar foto kebersamaan mereka dan juga kata-kata romantis yang terselip.
"Kamu ngasih aku ini juga?" Alita masih tidak bisa menahan tawanya. Dipegangnya dengan erat tanaman sukulen pemberian Rafa itu. Lucunya, Rafa memindahkan potnya ke dalam sebuah mug yang bertuliskan namanya dan juga Alita.
"Iya, dulu pas nganterin mama beli bunga aku liat taneman ini kayaknya lucu banget. Perawatannya juga enggak susah kan? Iseng aja kemarin beli, soalnya aku enggak tau lagi mau ngasih kamu kado apaan. Kalo beli yang mahal-mahal, ntar pasti kamu omelin."
"Dengan kamu inget hari ulang tahunku dan kamu ngajak aku dinner disini aja aku udah seneng banget kok. Pake dikadoin segala."
"Ya kan biar komplit. Tahun lalu aku kasih lampu, tahun ini aku kasih selimut, tahun depannya bantal, tahun depannya lagi guling, trus tahun depannya lagi kadonya aku, jadi suami kamu."
Setelah mengucapkan kalimatnya barusan, Rafa tak sanggup lagi menahan malu. Ia memalingkan wajahnya sejenak untuk menghindarkan pandangan Alita dari wajahnya yang mungkin kini sedang bersemu merah. Ah, membayangkan dirinya menjadi suami Alita saja sudah sebahagia ini. Bagaimana jika hal itu terealisasi nanti?
Bukan hanya Rafa yang merona, Alita pun demikian. Alita bahkan menundukkan kepalanya untuk menghindari kontak mata dengan Rafa. Untung saja pelayan restoran itu segera muncul dan menghidangkan makan malam yang telah dipesan. Jadi keduanya bisa segera mengakhiri acara malu-malu kucingnya.
"Kayaknya enak banget ya punya rumah di pinggir pantai. Tiap malam bisa makan malam romantis kayak gini."
Rafa menggelengkan kepalanya. Meskipun ia senang bermain dengan ombak, tapi dirinya tidak ingin memiliki rumah yang berdekatan dengan pantai.
"Enggak. Bahaya tau, kalo ada tsunami nanti kita mati duluan."
"Iiihhh... kok mikirnya udah jelek duluan sih!" Alita merasa kesal karena Rafa tidak mendukung impiannya memiliki rumah di pinggir pantai.
__ADS_1
"Tapi kata papa kalo beli rumah itu harus memperhatikan segala aspeknya. Kalo kita punya rumah di pinggir pantai, selain rawan kena tsunami atau pasang, itu juga jauh dari pemukiman warga lainnya. Kalo ada apa-apa dan kita teriak minta tolong, enggak bakal ada yang denger."
"Ya enggak di pinggiran persis kayak gini, sayang. Seenggaknya punya view yang menghadap ke pantai gitu."
"Naahhh, diperjelas dong ngomongnya. Kalo gitu kam jadi beda artinya."
"Pokoknya gitulah. Lagian sejak kapan juga sih kamu jadi kritis gitu?" gerutu Alita.
"Hahahaha... udah, urusan rumah kita bahas nanti aja ya. Sekarang kita fokus makan dulu, kalo dibahas sekarang ntar kita jadi buru-buru kepengen nikah."
Alita tidak berniat menimpali. Dia memilih menikmati hidangan makan malam yang cukup lezat itu dibanding harus meladeni Rafa membicarakan tentang pernikahan yang belum nampak hilalnya itu.
"Kenapa?" Alita menoleh saat Rafa meletakkan sendoknya dengan keras. Raut wajahnya juga terlihat nampak kesal.
Rafa malah menoleh ke arah belakang, mencari-cari pelayan restoran yang tadi menghidangkan makanan untuk mereka.
"Sayang, kenapa sih?"
Rafa tidak menjawab. Ia justru meraih sendok yang tadi ia letakkan dengan kasar dan mengorek kue yang berada di depannya.
"Kue ini harusnya disajikan buat kamu. Di dalamnya aku kasih cincin, biar pas kamu nyendok kamu tau nih ada cincin di dalamnya. Kenapa malah dihidanginnya ke aku sih?" jelas Rafa dengan nada kesal.
Sepanjang Rafa memberikan penjelasan, Alita merasa terharu. Ternyata kejutan dari Rafa belum berakhir, bahkan masih ada hadiah yang tersimpan untuknya. Tapi dengan cepat Alita menguasai dirinya, jika tidak mungkin saja Rafa akan berteriak memanggil pelayan.
"Udah, sama aja. Mau aku atau kamu yang nemu, tetep aja kamu yang harus masangin cincinnya ke jariku kan? Lagian kan piring dan kuenya juga sama, maklumin aja kalo mereka salah waktu penyajian."
__ADS_1
Rafa menghela nafasnya, lalu mengambil cincin itu dan mengelapnya dengan lap makan.
"Aku udah bilang kokinya buat naruh cincinya diposisi yang aman. Jadi misal kamu nyendok kuenya, cincinya enggak akan ikut masuk ke mulut dan termakan." ucap Rafa sambil memasangkan cincin pemberiannya dijari manis Alita.
"Bukan cincin mahal sih, bukan juga cincin lamaran hehehehe.... Aku, cuma pengen kamu yakin aja kalo aku serius sama kamu. Makanya aku beliin kamu cincin sebagai tanda kalo kamu terikat sama aku." imbuh Rafa.
Selesai memasangkan cincin dan mengecupnya, Rafa juga menunjukkan jari manisnya yang juga tersemat sebuah cincin itu. Bedanya cincin itu cenderung polos, sedangkan milik Alita memiliki hiasan dua batu permata berukuran kecil.
Kini, Alita tidak dapat lagi menahan laju air matanya. Selain karena terharu dengan perlakuan Rafa, Alita juga menyesali perbuatannya karena telah menyelidiki masa lalu Rafa.
Alita begitu saja menghambur memeluk Rafa. Dia tidak peduli jika sikapnya ini akan menarik perhatian orang-orang yang berada di dalam restoran. Saking bahagianya, Alita bahkan kehilangan kata-katany untuk sekedar mengucapkan terima kasih kepada kekasihnya.
......................
Malam ini terasa begitu membahagiakan bagi Alita. Hari ini memang hari ulang tahunnya. Tapi karena Rafa memberinya sebuah cincin couple, Alita merasa baru saja dilamar oleh Rafa. Senyumnya bahkan belum juga hilang, padahal kini dirinya telah bersiap untuk tidur.
Diusapnya kembali selimut pemberian Rafa yang kini menyelimuti tubuhnya. Selimut berwarna putih dengan banyaknya gambar foto kebersamaan mereka itu nampaknya akan membuat tidur Alita semakin nyenyak. Bahkan sedari tadi Alita juga tidak bisa berhenti untuk memandangi cincin pemberian Rafa itu.
Saat suara notifikasi dari ponselnya terdengar, Alita buru-buru meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Dia pikir Rafa masih terjaga dan mengiriminya sebuah pesan dengan rangkaian kata-kata romantis seperti tadi. Tapi ternyata bukan. Dahinyam mengernyit saat mengetahui notifikasi itu merupakan sebuah surel dengan pengirim yang tidak dikenalnya.
......................
Siapa yang ngirimin email buat Alita? Cuuuuunnnnggggg! Hahahahaha.... Siap-siap ya gaeeesssss, ini udah aku masukin konfliknya. Kayaknya udah terlalu lama anak bungsunya mama Salma bahagia , kayak enggak pernah punya beban hidup ya? ðŸ¤
__ADS_1