Back To You

Back To You
Awal Mula


__ADS_3

Jika waktu bisa berputar, satu-satunya yang ingin Vee lakukan adalah tidak membiarkan Rosé-nya pergi, namun itu sangat sulit mengingat tidak adanya akses dari keluarga wanita tersebut. Lalu, Vee akan beralih pada kejadian yang baru saja terjadi, hal yang membuatnya menjadi pria brengsek karena membuat istrinya menangis.


Andai saja, Vee mampu memahami gelagat istrinya yang mencoba untuk membuka satu-persatu memori yang selama ini Rosé sembunyikan. Mungkin dadanya tidak akan merasa sesak karena merasakan pundak Rosé yang bergetar dalam pelukannya tersedu karena keegoisannya.


Rosé memulai untuk berdamai dengan masa lalunya dengan mengikuti arahan dokter Hana. Menggunakan cara untuk mengingat tragedi perih yang merenggut kepercayaan dirinya. Mengembalikan kelogisan pikirannya dengan maksud untuk memperbaiki masa depannya.


Mulai terhitung satu bulanan Rosé secara diam-diam menemui dokter Hana. Merileksasikan otaknya untuk mengungkap apa saja yang pernah dialaminya. Awal pertemuan memang tidak berjalan dengan lancar, Rosé berbicara dengan terengal-engal meskipun dokter Hana memberikan relaksasi ketenangan. Hingga akhirnya keadaan normal menjelang pernikahan meskipun hanya tinggal sedikit saja yang membebani pikirannya—Vee nya yang belum tahu apa-apa.


"Aku ingin memberi tahu semuanya, semuanya yang pernah aku alami."


Vee mengangguk saat Rosé mengatakan itu. Hal inilah yang ia tunggu, penjelasan dari Rosé nya yang ia nantikan. Berkali-kali Vee mendobrak kejujuran dari orang-orang terdekat Rosé hanya untuk sekedar informasi, namun nihil, tak satupun dari mereka yang bisa mengatakannya. Sampai pada akhirnya, Niko selaku kakak kandung Vee yang kebetulan telah mengenal istrinya sedari lama mewanti-wanti agar ia sabar menunggu, sabar sampai Rosé sendiri yang akan membuka luka lama untuknya.


"Apapun, apapun akan aku dengarkan." jawab Vee pada akhirnya.


"Kita harus ke tempat dokter Hana. Kamu akan mendengarkan semuanya di sana, aku belum terlalu pulih. Kamu henar-benar tidak apa-apa dengan kondisiku?"


Vee melepas pelukannya, menyelipkan kedua tangannya di belakan telinga Rosé, sampai ranumnya berhenti untuk mengecup kening istrinya. "Aku rasa pertanyaan itu tidak perlu aku jawab. Kamu sudah memenuhi hidupku, aku tidak butuh apapun lagi selain kamu yang akan selalu ada di sampingku."


Rosé meringis mendengar penuturan yang terlewat romantis. "Sok romantis." ejeknya.


Vee memberengut sembari memberi jarak, tangannya bersendekap di bawah dada, rautnya tidak suka, sampai-sampai membuat Rosé kelimpungan karena merasa ejekannya tidak benar.


"Jangan marah, satu ronde, aku beri satu ronde, sekarang." bujuk Rosé terlihat lucu.


Vee tersedak air liurnya sendiri. Astaga, mulut istrinya sefrontal itu untuk menawarkan sebuah hubungan intim. Vee belum terbiasa karena jujur malam tadi adalah pengalaman pertama baginya. Sedangkan Rosé semakin bingung karena Vee menepuk-nebuk dadanya akibat batuk.


"Kamu nggak apa-apa? Kenapa tiba-tiba batuk? Kamu sakit?" Rosé memberondong pertanyaan yang anehnya ditanggapi oleh Vee dengan raut datar.


Vee dengan jelas melihat Rosé menahan senyumnya, mengulum bibirnya, sandiwaranya membuat Vee ingin mengerjai balik istrinya.


Vee menggendong Rosé dengan tiba-tiba. "Satu ronde tidak cukup sayang, akan ku buat kau kelelahan." ucapnya dengan kerlingan nakal setelah itu membawa Rosé masuk ke dalam kamar yang jaraknya tak begitu jauh.


...****************...


Rosé tidak pernah membayangkan di masa lalunya akan membawa Vee dalam hidupnya setelah naas yang dialaminya. Menikah dengan Vee membuat Rosé memiliki keharusan untuk meluruskan permasalahannya. Memperbaiki keadaan untuk masa depan rumah tangganya.


Vee memandang ruang serba putih dengan tataan minimalis milik Dokter psikiater yang menangani kasus istrinya. Setelah pandangan jatuh kepada wanita yang sudah duduk di kursi kerjanya saat Vee masuk ruangan, lantas pria itu berbinar dan ingin berlari memeluk. "Kak-"


"Aku disini sebagai dokter, panggil aku dengan benar Vee. Jangan seperti bocah." Ucapan Vee terputus oleh teguran Hana.


Vee memutar bola matanya, jika saja yang ia hadapi bukanlah kakak iparnya yang bernama Hana, mungkin saja Vee akan menjaga image nya. "Selamat sore dokter Hana." Salamnya dibuat-buat sedangkan Rosé yang berada disampingnya mencoba menahan tawa.


Setelah pergulatan pagi tadi, Vee dan Rosé memutuskan untuk menemui Hana di sore hari. Rosé mengabaikan rasa perih ber campur ngilu yang dirasakan di bagian bawah, menurutnya bukan masalah besar yang mampu menjadi hambatan.


Sedangkan Vee yang sedari awal tidak tahu apa-apa mencoba untuk diam meskipun penasaran sangat besar. Terlebih dokter itu adalah Hana, orang yang sangat disayanginya, wanita yang menikah dengan kakak kandungnya. Setelah Rosé menyebut nama Hana saat pagi tadi, Vee sempat tertegun, tapi memilih untuk tidak bertanya membiarkan tubuhnya dan perasaannya yang hanya akan mengikuti alur saja.


"Selamat sore dok." giliran Rosé yang menyapa.

__ADS_1


"Panggil aku kakak seperti biasanya Rosé, sekarang kita keluarga." balas Hana sembari tersenyum. "Silahkan duduk."


Vee membelalak. "Me-"


"Sudah, jangan protes, Vee." Hana memotong protesan Vee dengan telapak tangan terdorong ke arah pria itu.


Sabar, Vee, kau harus sabar. Vee mengelus dadanya merana.


"Kau memang harus sabar saat ini, Vee. Jujur aku marah mendengar keadaan ini semua." ucapan Hana begitu serius.


Sepeti tebakan. Hana selalu dapat membaca apapun gerutuan Vee terhadap dirinya, seperti dukun saja.


"Aku bukan dukun, Vee."


"Stop, kak. Aku pusing mendengar protesmu." Vee mengeluh dan menaruh tubuhnya lemah di kursi.


Rosé yang menyaksikan perdebatan keduanya memilih diam sebagai pengamat. Harmonis. Rosé merasakan adanya ikatan kuat antara Hana dan Vee.


Hana menghela napas diantara semrawutnya segala keadaan yang berputar di dalam kepalanya. "Aku mungkin hanya diam saja waktu lalu. Tapi aku bersumpah ingin menjambak rambutmu, Vee. Bagaimana mungkin kau tidak tahu kondisi Rosé. Kau ini pria macam apa!!!"


Meledak. Hana begitu marah. Kali ini tidak dibuat-buat. Menurut Hana, Vee pria yang tidak terlalu tegas untuk hubungannya. Sedangkan bagi Hana, kesembuhan Rosé, segala kondisi yang dialami Rosé memiliki tali yang erat dengan Vee.


"Kak," Rosé menggeleng sembari memegang tangan Hana, mengisyaratkan untuk berhenti mengomeli Vee.


"Biar semakin jelas Rosé."


"Vee tidak bersalah kak, demi Tuhan, akulah yang selalu menolak."


"Vee, kau bisa pergi ke berbagai negara hanya untuk mencari Rosé, kenapa kau tidak mau melakukan? Karena permohonan ibu Rosé membuatmu terpaku jika Rosé memang jodoh dia pasti akan kembali."


"Buktinya dia kembali, kak."


"Jangan memotong saat aku berbicara." sentaknya. "Jika kau lebih cepat, trauma yang dirasakan Rosé tidak akan terlalu lama. Dia hanya butuh orang yang bisa menerima keadaannya. Rosé tetaplah wanita yang tidak mungkin bergerak duluan. Harusnya kau tahu teori itu."


Sedangkan Rosé yang mendengar nampak berkaca-kaca dimatanya. Menurutnya Hana begitu peduli dengan keadaannya, tapi tidak harus juga mengomeli Vee sebegitunya.


"Baiklah, sekarang kita mulai sesinya. Rosé, kau yakin akan melakukan hari ini? Kau siap?"


Rosé nampak tersenyum lalu mengangguk. "Tapi tunggu Daniel dulu."


"Daniel?" Vee menengok ke samping kiri, menuntut penjelasan tentang nama tersebut kepada istrinya.


Rosé nampak tenang. "Aku bersalah padanya, kondisiku saat itu tidak baik, aku sempat menjadi calon tunangannya, Nesh."


"Jangan bilang dia Daniel Andreas Gunawan." seakan waktu berhenti, Vee sulit untuk berbicara. Otaknya mengulang adegan lama saat ia berbicara dengan Hana perihal Daniel yang ditolak mentah-mentah oleh calon tunangannya dengan kondisi persis seperti wanita yang sekarang menjadi istrinya.


"Kenapa kamu. Astaga, Lyn. Bagaimna bisa kamu bisa berterus terang dengan kondisimu dihadapan Daniel. Sedangkan kamu nggak bicara sedikitpun kepadaku." protesnya melanjutkan setelah Rosé mengangguk.

__ADS_1


Rosé nampak terkejut. "Nesh, bagaiamana kamu bisa tahu?"


"Daniel adalah adikku, Rosé." giliran Hana memberi jawaban.


Tidak berbeda jauh dengan Vee. Hana pun merasa terkejut saat mendengar berita ini. Saat itu Hana memang belum mengenal Rosé, terlebih adik laki-lakinya tidak memberitahu identitas wanita yang menolaknya. Daniel hanya bercerita kondisi calon tunangannya, tidak lebih.


"Aku tidak tahu, dunia memeng sesempit ini." Rosé menjawab getir, kenapa semuanya saling berkaitan, jika memang benar Daniel adik dari Hana, itu akan lebih sulit.


"Aku benar-benar merasa bersalah karena sok mengatakan hal benar, Daniel sangat menghormati keputusanku yang saat ini terdengar omong kosong. Aku wanita sehat, aku-"


Vee menyalurkan elusan tangannya di punggung tangan Rosé. Menenangkan jika semua akan baik-baik saja. Vee ingin protes lebih sebenarnya, tapi urung ia lakukan, takutnya membikin keadaan tambah lebih rumit lagi.


"Semua akan baik-baik saja. Aku yakin Daniel akan mengerti. Daniel menceritakan penolakan tegasmu, tapi dia tidak mengatakan siapa wanita itu, aku rasa dia bisa menjaga identitasmu. Dan itu keren." Hana memberi dorongan kuat agar Rosé bisa mengendalikan keadaan.


Kondisi Rosé memang jauh lebih baik. Tapi kemungkinan buruk untuk terpuruk juga harus diwaspadai. Bertepatan itu, telepon di ruangan Hana berbunyi. "Suruh dia masuk." ucapnya. Setelah itu menaruh kembali gangang telepon.


"Daniel datang." Hana menginfokan membuat Rosé tampak menengang.


"Rilex, tarik napas, kau harus tenang Rosé. Jangan gugup hanya karena Daniel adalah adikku. Percayalah dia pria yang sudah dewasa. Pasti dia paham."


Vee tak kalah memberi perhatian dengan mengelus punggung istrinya, berharap dapat sedikit membantu meskipun otak pria itu bercabang kemana-mana, memikirkan kemungkinan terburuk jika saja Rosé dulu tidak menolak Daniel, pasti saat ini Vee tidak akan mungkin bisa bersama Rosé. Sedikit perasaan lega juga menyelimuti hatinya.


Daniel masuk ruangan membuat ketiga orang yang berada di dalam menoleh kearahnya. Pria pemilik kulit bening itu tampak tercenung, tapi bisa mengatasi kondisi. "Kak, ponselmu mana?"


Hana tersenyum, "berilah salam dulu. Ponselku di rumah, lupa," jawabnya.


"Selamat sore," Daniel memberi salam. "Jujur aku bingung, ada apa? Dokter Rosé?" pertanyaan itu terpaku pada Rosé yang saat ini  tengah berdiri diikuti Vee yang menggandeng istrinya.


Hana juga sudah bersiap untuk menyiapkan tempat relaksasi.


"Daniel. Aku ingin memberitahu sesuatu padamu."


Daniel tampak berpikir. Lalu ingatannya kembali saat pertama kali Candra yang merupakan kakak dari Rosé memberitahu perihal keadaan Rosé terhadapnya. Meminta dengan sabar agar menerima jika saja adiknya menolak mentah-mentah.


Rosé berjalan setelah melepas genggaman tangan Vee, mengikuti Hana yang sudah siap dengan tindakannya. "Kau harus tenang, ingat, semua akan segera berakhir. Kau paham." Rosé mengangguk saat Hana menjelaskan.


Sedangkan Daniel dan Vee saling berdiaman. Daniel sangat tahu hubungan Vee dan Rosé yang ia dengar dari gosip rumah sakit beberapa hari yang lalu, sampai pada acara pernikahan mereka berdua berlangsung tak luput mampir di telinganya. Daniel tidak datang meskipun Vee sudah mengundang. Alasannya karena calon mempelai adalah Rosé, wanita yang telah menolaknya demi kebaikan keluarga besar Daniel, tapi menerima Vee tanpa memikirkan keluarga besar suaminya. Dilihat dari manapun, semua berkaitan—Hana yang menjadi pokok pertimbangan diantara dua belah pihak keluarga.


Daniel sempat bingung dan tidak bisa mencerna keputusan Rosé. Tapi daripada memikirkan hal yang sudah terlanjur, Daniel memilih bungkam. Tapi pagi tadi, satu notifikasi membuat Daniel mengerutkn keningnya.


Daniel, datanglah ke rumah praktek dokter Hana sore nanti pukul lima.


Pesan itu dari Rosé. Tanpa banyak bertanya, Daniel hanya membalas. Iya. Hanya itu saja. Daniel sempat menghubungi kakaknya saat perjalanan kesini, tapi tak kunjung diangkat karena ternyata ponsel Hana tertinggal di dalam rumah.


"Kalian kenapa bengong, duduklan di kursi ini."


Intruksi Hana membuat Vee dan Daniel mengerjab. Keduanya memang melamumkan beberapa hal. Vee nampak canggung setelah tahu jika Daniel hampir saja menjadi tunangan wanita yang paling ia cintai. Vee takut untuk alasan yang sudah seharusnya ia lupakan.

__ADS_1


"Sekarang kita mulai. Rosé ceritakn sedari awal. Dengan tenang, rileks, fokuskan tujuanmu sampai tuntas. Tarik napas. Tapi jangan dipaksakan."


Intruksi Hana menjadi awal dimana rahasia Rosé terbongkar satu persatu. Seperti puzzles yang berkaitan dan menemukan tempatnya tanpa harus mencari-cari lagi. Seperti labirin yang mampu membuka jalan yang terkunci tanpa tersesat lagi.


__ADS_2