
Entah apa yang merasuki Rafa sore itu, hingga membuatnya tega menyiksa Hanna dibawah kungkungan. Selama ini, ia selalu menganggap Hanna sebagai adiknya dan sering mem-bully tubuh Hanna yang dianggapnya tidak proporsional. Tapi kini, ia malah menikmatinya.
Tidak peduli dengan perlawanan Hanna yang meronta untuk membebaskan dirinya dari cekalan dirinya. Tidak peduli seberapa keras tangisan Hanna yang tertangkap oleh daun telinga. Rafa tidak peduli akan semuanya. Mungkin karena dirinya telah terhanyut oleh permaian yang ia ciptakan sendiri, diatas tubuh Hanna.
Tepat saat Rafa hendak ingin mencium bibir Hanna kembali, Rafa barulah tersadar. Ia menghentikan aktifitas yang sedari tadi dilakukannya, melepas cekalan tangannya pada kedua tangan Hanna, dan memandangi mata Hanna yang sudah basah akan air mata itu.
Tampilan Hanna benar-benar sudah kacau. Kancing kemejanya bahkan telah terbuka semua, menampilkan tubuh bagian atas dan perutnya. Bahkan dibagian dada Hanna beserta leher telah tercetak banyak tanda berwarna merah akibat ulahnya.
Rafa menaikkan pandangannya, untuk kembali menatap Hanna yang telah tak berdaya dibawahnya.
"Han, gue... minta maaf soal hal ini." Rafa menarik diri dari atas tubuh Hanna.
Lelaki itu lantas duduk di ranjangnya dengan memunggungi Hanna. Disusul oleh Hanna yang langsung terbangun dan mengancingkan kemejanya.
"G-gue... enggak bermaksud untuk melakukan itu ke elo."
__ADS_1
Hanna sama sekali tidak ingin menimpali perkataan Rafa. Yang dia inginkan sekarang hanyalah segera keluar dari kamar Rafa dan menjauh darinya.
Setelah selesai mengancingkan kemejanya, Hanna segera memungut jaket tebal yang berhasil dilepaskan Rafa dari tubuhnya. Namun usahanya untuk keluar dari kamar Rafa tidak semulus rencananya. Rafa menghadang dirinya tepat di pintu kamarnya.
"Minggir!" Ucap Hanna dengan nada yang tegas dan tatapan tajam ke arah Rafa.
"Han... maafin gue dulu, baru lo boleh keluar dari kamar gue." Rafa memaksa, sementara kini Hanna berusaha untuk tidak menangis dihadapan Rafa.
"Menurut kak Rafa kesalahan kayak gini adalah kesalahan yang mudah untuk dimaafkan? Aku tau statusku sebagai istri sah kak Rafa, tapi sampai kapan pun aku enggak akan mau untuk melakukan hubungan suami istri dengan pemaksaan seperti ini. Apalagi kalo dihati kak Rafa masih ada perempuan lain. Aku enggak mau dijadiin pelampiasan!"
"G-gue tau, Han. Makanya gue minta maaf sama elo. Gue terbawa emosi tadi."
Hanna tidak menyangka Rafa akan berlaku demikian kepadanya. Meskipun Rafa belum melakukan aksinya secara menyeluruh, tapi tetap saja Hanna merasa kotor akan tubuhnya sendiri. Karena Rafa telah menikmati sebagian dari tubuhnya.
Buru-buru Hanna melempar jaketnya dan berjalan menuju kamar mandi. Seperti layaknya scene pada film-film galau, Hanna pun kini menangis dibawah guyuran air dari shower.
__ADS_1
...****************...
Sudah lewat dari jam makan malam, Rafa masih setia duduk di meja makannya sembari berharap Hanna akan keluar dari kamarnya. Tapi sepertinya gadis itu tidak akan keluar dari kamarnya, apalagi untuk bertatapan dengannya.
Ponsel Hanna yang ia lempar ke sofa tadi telah beberapa kalo berdering. Ia berdecak kesal saat mendapati nama Arthur tertera disana. Panggilan yang diangkat oleh Rafa adalah panggilan telepon dari Wildan. Kakak Hanna itu menanyakan kenapa Hanna tak juga membalas pesannya, dan Rafa berasalan jika Hanna sedang tidak enak badan jadi harus banyak beristirahat.
Tak tahan menahan lapar karena beberapa hari ini pola makannya berantakan, Rafa akhirnya memilih untuk beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar Hanna. Saat Rafa akan mengetuk pintu kamar Hanna, pintu itu justru terbuka dari dalam dan membuat kedua kaget saat saling bertatapan.
Mungkin Hanna pikir Rafa telah tertidur dengan pulas karena tidak adanya suara di rumah itu. Oleh sebab itulah Hanna keluar dari kamarnya untuk mengambil ponsel dan juga tasnya yang masih berada di luar.
"Gue... udah angetin makanan dari mama untuk makan malam. Kita makan dulu yuk, Han. Ini udah lewat banget dari jam makan malam, gue panasin lagi deh ya lauknya."
Tapi Hanna seolah tidak peduli, gadis itu berlalu begitu saja tanpa mempedulikan Rafa. Dia bergegas untuk mengambil tasnya, namun kebingungan saat mencari keberadaan ponselnya.
"Ah, ini ponsel elo. Tadi Wildan telpon mulu, jadi gue angkat. Dan sorry karena gue bilang ke Wildan kalo elo lagi sakit." Rafa merogoh ponsel Hanna disaku celananya dan mengulurkannya kepada Hanna.
__ADS_1
Tanpa berbicara sepatah kata pun, Hanna mengambil ponsel itu dari tangan Rafa dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Dan entah mengapa, ingatan Rafa langsung tertarik pada kejadian sore tadi. Apalagi saat tadi dengan tidak sengaja Rafa menangkap bekas memerah dileher Hanna tanpa terhalang oleh kerah kemeja dan sebagainya.
Rafa bahkan merasakan suatu gelenyar aneh saat dirinya mengingat kejadian itu. Semua kejadiannya bahkan terekam dengan sempurna diingatannya. Memang dasar ya otak mesum, kejadian begituan pasti akan terus diingat sampai kapan pun.