
Rafa melangkahkan kakinya, menuju ruangan tempat dimana Alita sedang dirias. Hari ini adalah hari pernikahan Alita, dan entah perasaan apa yang sedang berkecamuk dihati Rafa hari ini. Bukan hanya karena mantan kekasihnya akan menikah, tapi dengan perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Hanna.
Untuk bisa masuk ke dalam ruangan ini, Rafa bahkan sampai harus memohon kepada ibu dan kakak Alita. Mungkin karena takut Rafa akan merusak pesta hari ini.
"Hei." Sapa Rafa begitu bertatapan dengan Alita.
Alita yang merasa kebingungan, langsung melihat ke sekeliling. "Kamu... ngapain disini?"
"Cuma mau ngobrol sebentar." Jawab Rafa dengan santainya.
Rafa seolah tidak peduli dengan kegugupan Alita lantaran mantan kekasihnya itu masuk ke dalam ruangannya.
"Eeee... Kak, disini aja enggak apa-apa. Dia temen saya, kita cuma ngobrol biasa."
Alita mencegah kru make up-nya saat akan keluar ruangan, meninggalkan dirinya hanya dengan Rafa. Tentu saja Alita tidak ingin Theo atau keluarga lainnya menjadi salah paham dengan keadaan sekarang. Jika ada orang lain diantara mereka, setidaknya Alita memiliki saksi mata.
"Aku kesini bukan untuk bikin batal pernikahanmu sama Theo, seriusan aku cuma pengen ngobrol."
"Ngobrol apa cepetan! Akadnya mau mulai beberapa menit lagi."
"Ciiieeee... yang mau jadi istrinya Theo udah enggak sabaran aja."
"Aku serius, Fa." Ucap Alita dengan nada kesal.
Rafa menahan tawanya, lalu menarik kursi untuk duduk di dekat Alita. Dipandanginya wajah gadis yang sekian lama bertahta dihatinya. Gadis yang membuatnya belajar arti kata setia, meskipun akhirnya kalah oleh godaan setan.
"Kamu bahagia?" Tanya Rafa dengan lirih, dengan tatapan mata yang belum beralih dari wajah Alita.
"Tentu aja bahagia! Ngapain sih pake ditanya segala." Alita memukul pundak Rafa tanpa sadar. Lalu mengucapkan kata maaf begitu menyadarinya, dan Rafa hanya melemparkan senyuman termanisnya.
__ADS_1
"Kamu harus bahagia, Lit. Aku tau Theo akan selalu bikin kamu bahagia, sampai kamu lupa bahwa kamu pernah punya mantan seberengs*k aku ini." Rafa menertawakan dirinya sendiri.
"Kayaknya kamu udah pernah ngomong begitu." Gumam Alita sembari mengalihkan pandangannya. "Jadi kamu kesini cuma mau ngomong itu?"
"Hmmm... Sebenernya karena pengen liat kamu duluan daripada Theo. Kalo dia kan ntar bisa mandangin kamu sepuasnya, beda sama aku. Aku udah enggak bisa lagi, bisa dibogem Theo ntar." Jawabnya dengan nada bercanda.
Melihat wajah tidak senang dari Alita, Rafa bergegas menyerahkan paper bag yang berisi kado pernikahan darinya.
"Sama mau kasih ini. Aku enggak mau kadoku bercampur sama yang lain. Ini nyarinya susah, jadi aku enggak mau dibukanya paiing belakangan karena kecil. Atau mungkin bisa aja keselip."
"Masa sekelas Rafa ngasih kado kecil begini." Sindir Alita sambil memandangi paper bag yang dibelikan oleh Rafa.
"Biarin aja kecil, itu kalo diuangin bisa dapet mobil dua!"
"Iya, mobil-mobilannya Abby sama Zayn kan?"
"Makasih, Fa. Aku harap kamu bisa jadi lebih dewasa dan... jadi laki-laki yang baik untuk pasangan kamu nanti." Alita menerima uluran kado dari Rafa.
Rafa hanya tersenyum dan mengangguk pelan untuk mengamini doa dari mantan kekasihnya.
"Kamu dateng sama Hanna? Kenapa dia enggak ikut kesini?"
"Enggak. Hanna dateng sama Wildan."
"Kenapa? Kalian berantem lagi?"
Rafa menggelengkan kepalanya. "Bukan. Tapi... ya kamu tau sendirilah, situasinya sangat sulit buat bikin keluarganya nerima aku kayak dulu lagi. Jadi ya... begitulah."
Mendengar jawaban dari Rafa, Alita tidak tahu harus berkomentar seperti apa. Terlebih, Alita juga tidak ingin membuat Rafa semakin bersalah karena ikut menyalahkannya.
__ADS_1
"Aku.... bukannya mau ngusir nih, tapi seriusan Fa waktunya udah mepet mau akad. Kamu harus keluar sekarang."
"Itu sama aja ngusir, Lit." Ucap Rafa dengan pura-pura menunjukkan wajah kesalnya. Lalu berdiri dari posisi duduknya diikuti oleh Alita.
"Berdoa aja biar Theo enggak salah pas akad nanti. Kalo sampai salah, aku yang akan langsung maju mengambil alih qabulnya."
Tangan Alita langsung meluncur, memukul lengan Rafa dengan cukup keras. Membuat Rafa mengaduh dan mengusap-usap bekas pukulan Alita.
"Aku keluar dulu, mau nyari duduk paling depan. Biar cepet kalo mau ambil alih posisinya Theo."
"Enggak boleh! Barisan depan buat keluarga, dan kamu bukan keluargaku."
"Bisalah nyempil satu kursi doang."
Alita menggelengkan kepalanya. "Enggak bisa, tempat kamu tuh barisan paling belakang. Kursi yang disediakan khusus mantan."
"Kayak mantannya ada banyak aja." Rafa terkekeh, lalu melangkah maju untuk memeluk Alita.
Tentu hal itu membuat Alita kaget. Tetapi lebih ke perasaan takut jika ada anggota keluarganya atau keluarga Theo yang melihat kejadian ini.
"Bahagia terus ya, Lit. Kalo ada apa-apa, kabarin aku pokoknya."
Alita mengangguk sesaat setelah Rafa melepaskan pelukannya. Lalu tersenyum saat Rafa menarik handle pintu dan keluar dari ruangannya.
Rafa berjalan menuju aula yang akan digunakan Theo dan Alita mengikat janji suci. Saat itu pula, langkahnya terhenti dan pandangannya terfokus pada seseorang.
Seseorang yang nampak begitu cantiknya saat berdandan. Seseorang yang memakai warna baju yang tidak senada dengannya. Seseorang yang menolak ajakan untuk datang bersamanya. Seseorang yang tengah membuatnya bingung tak karuan.
Hanna!
__ADS_1