Back To You

Back To You
Chapter 147


__ADS_3

Rafa sedang mengadakan room tour kamar hotelnya. Sang mama rela terbangun pada dini hari untuk mengetahui apakah putra bungsunya itu telah sampai di tempat liburannya.


"Jadi Rafa tau The Raven ini juga dari blog wisata gitu, Ma. Banyak yang ngebahas kalo disini hotelnya bagus, sarapannya juga banyak yang bilang enak, dan yang paling ada beberapa kamar yang pemandangannya langsung menghadap ke teluk. Nah, kamar Rafa ini salah satunya, Ma. Makanya agak mahal harganya hehehehe...."


"Ya enggak apa-apa, kan enggak tiap hari juga kamu nginep disitu. Habis ini mau langsung jalan-jalan?"


"Iya, Ma. Rafa disini kan cuma sampai besok sore. Cuma belum tau juga mau kemana dulu."


"Kalo liburannya cuma sampai besok sore, kenapa hari Seninnya kamu cuti?"


Rafa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal itu.


"Pengen aja istirahat di rumah, Ma."


"Yaudah kalo gitu, jangan lupa kabarin Mama ya? Makan jangan sampai lupa, liat-liat tempatnya juga kalo mau beli makan. Jangan pesen makanan yang sekiranya-"


"Ma...." Rafa memotong kalimat mamanya. "Rafa tau, Ma. Mama enggak perlu khawatir, mending sekarang mama lanjut tidur aja. Kalo kurang tidur, nanti omanya Abby sama Zayn berubah jadi oma panda hehehehehe...."


Dalam layar ponsel Rafa, nampak mamanya itu menoleh ke arah papa Adit yang masih nyenyak dalam alam mimpinya.


"Kayaknya mama mau langsung masak aja, udah mau jam empat. Nanggung banget kalo mau tidur lagi."


"Mama sehat-sehat ya, Rafa disini sehat banget kok."


Sesaat setelah mengakhiri panggilan video dari sang Mama, Rafa segera bersiap-siap untuk berkeliling. Ia melepas kaos yang tadi ia kenakan dalam perjalanan, lalu menukarnya dengan kaos yang ia ambil dari dalam koper.


Setelah memastikan penampilannya, Rafa meraih ponsel dan memasukkannya ke dalam saku celana. Entah mimpi apa yang ia dapat semalam, tapi sosok gadis yang berdiri diseberang kamarnya adalah gadis yang selama ini dirindukannya.


Hanna.


...****************...


Semenjak beberapa tahun tinggal di Inggris, ini adalah kali pertama Hanna pergi liburan seorang diri. Seringnya, ia berlibur bersama teman-temannya, lalu bersama Arthur, dan pernah sekali bersama Rafa.


Hanna memutuskan pergi ke Robin Hood's Bay lantaran Eleanor pergi kesini bulan lalu bersama keluarganya. Menikmati pemandangan dengan laut luas rasanya sangat menyenangkan, apalagi sebagai perayaan atas keberhasilannya menyelesaikan studinya.


Setelah berhasil menemukan letak kamarnya, Hanna lalu menempelkan kartu untuk membuka pintu kamarnya. Suara pintu yang terbuka dibelakang tubuhnya, membuatnya bergerak refleks untuk menoleh ke arah belakang.

__ADS_1


Matanya membelalak, saat mendapati lelaki yang menginap di depan kamarnya adalah Rafa. Buru-buru ia masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya.


"Hanna! Buka pintunya, Han!" Ucap Rafa sembari mengetuk pintu kamar Hanna.


Hanna masih bersandar dibelakang pintu sembari mengatur nafasnya.


"Dari sekian banyak wilayah di Inggris, kenapa aku pilih untuk datang kesini sih? Dan kenapa pula harus ketemu sama kak Rafa." Hanna menggumam sambil memejamkan matanya.


Sementara Rafa masih berada disebalik pintu dengan memanggil namanya dan mengetuk pintunya.


"Han, please buka pintunya."


Hanna menggelengkan kepalanya. Ia tidak akan membuka pintu dan membiarkan Rafa masuk ke kamarnya. Ia lantas mengintip melalui lubang intip yang ada di pintu.


"Mungkin sebaiknya setelah kak Rafa pergi, aku mau check out aja." Hanna mencoba menenangkan dirinya. "Ya, check out dan pergi dari sini. Mungkin sebaiknya pergi ke tempat yang lain. Seharusnya aku pergi ke Rye aja, kenapa malah kesini sih?!"


Hanna masih menggerutu dan menyalahkan dirinya sendiri, tetapi posisinya tidak beranjak kemana pun. Ia masih berdiri di belakang pintu dan sesekali mengintip keluar.


Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Hanna, Rafa akhirnya menyerah. Rafa mengetuk pintu kamar Hanna sekali lagi.


"Hanna, kopermu... masih ada diluar. Kamu tau kan kamarku ada di depan kamarmu? Jadi kamu bisa ke kamarku untuk mengambil kopernya."


Dengan langkah kaki yang lemas, Hanna membawa tubuhnya untuk berbaring di kasur. Harusnya ia bisa menikmati liburan perdananya seorang diri, tapi justru gagal bahkan disaat ia belum memulai acara berkelilingnya.


...****************...


Butuh waktu hingga lebih dari satu jam hingga akhirnya dia menyerah. Tentu saja karena terpaksa demi mendapatkan kopernya kembali, kini Hanna berdiri di depan pintu kamar Rafa. Sempat ragu-ragu, Hanna akhirnya mengetuk pintu kamar mantan suaminya itu.


"Lama banget sih, Han? Kirain enggak pengen kopernya balik." Rafa langsung menggerutu saat membuka pintu kamarnya.


"M-mana koperku?" Todong Hanna tanpa basa-basi.


Tapi ternyata Rafa telah memiliki sebuah rencana.


"Masuk dulu." Ucap Rafa sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar.


"Enggak!" Hanna mundur satu langkah. "Aku enggak akan masuk."

__ADS_1


Rafa berdecak kesal, Hanna pasti berpikiran macam-macam tentangnya.


"Aku bilang masuk dulu." Rafa menarik pergelangan tangan Hanna dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. "Aku enggak akan ngapa-apain kamu."


Hanna melihat kesekeliling kamar Rafa, yang nampak lebih besar dari kamar yang dia pesan.


"Sekarang mana kopernya?" Ucap Hanna dengan tak sabaran.


"Ada." Rafa menjawab dengan santai sembari duduk di pinggiran kasur.


"D-dimana?" Hanna kembali melihat sekeliling untuk mecari dimana Rafa meletakkan kopernya.


"Adaaa...." Jawaban Rafa masih sama, malah sekarang diucapkan dengan senyuman yang lebar.


"Ih, cepetan mana kopernya, Kak!"


'Kak'.


Panggilan yang sebenarnya sangat wajar, tapi karena yang mengucapkan Hanna dan sudah lama sekali Rafa tidak mendengarkan, kini hatinya terasa begitu berbunga-bunga.


"Aku akan kasih kopernya, tapi aku ada syarat."


Hanna langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Enggak ada syarat-syaratan, aku mau koperku sekarang."


"Gimana kalo aku enggak mau kasih kopernya?"


"Kak!" Hanna mencoba menggertak Rafa, tapi justru malah membuat Rafa melebarkan senyumnya.


"Itu kan koper aku, kenapa aku harus nurutin syarat dari kak Rafa untuk ngedapetin koperku lagi?"


"Kamu yang ninggalin koper itu diluar, itu salah kamu. Jadi wajar dong kalo aku minta imbalan karena udah ngejagain kopernya."


Hanna menghela nafasnya sambil memijat pangkal hidungnya. Entah apa syarat yang akan diajukan oleh Rafa, yang pasti itu akan menjadi syarat yang susah untuk dia iyakan. Tapi jika dia menolaknya, tentu saja Hanna tidak bisa mendapatkan kopernya. Padahal segala keperluannya ada di dalam koper itu


"Oke, apa syarat dari kak Rafa?"


Rafa beranjak dari duduknya, lalu berjalan beberapa langkah untuk mendekat ke arah Hanna.

__ADS_1


"Selama disini, kamu harus jalan-jalan sama aku. Enggak ada pengecualian, pokoknya kita akan berkeliling dan menikmati liburan di Robin Hood's Bay bersama."


Rafa menyeringai. Kini Hanna tidak akan lagi bisa menolak, dan ia akan mendapatkan kesempatan untuk kembali berdekatan dengan Hanna.


__ADS_2