Back To You

Back To You
Chapter 97


__ADS_3

Rafa mengabulkan permintaan Hanna, pergi jalan-jalan ke London berdua setelah ujian selesai. Tidak masalah bagi Rafa untuk absen pergi ke Glasgow sekali, karena Alita pun pasti memahami jika dirinya pasti memiliki kesibukan lain di kampusnya.


Memutuskan untuk mengendarai mobil mereka sendiri, Rafa bersyukur karena sepertinya cuaca hari ini cerah. Secerah wajah Hanna yang tampak berseri sejak pagi tadi. Perjalanan dua setengah jam menuju London akan jauh lebih mudah, karena Rafa telah terbiasa menempuh perjalanan jauh ke Glasgow setiap minggunya.


"Kak Rafa mau beli sesuatu?" Tanya Hanna saat Rafa membelokkan mobilnya ke sebuah mini market.


"Beli minum gih, Han. Gue pengen minum yang berasa."


"Harusnya tadi bilang, dikulkas kan ada stok beberapa botol."


"Yaudah, itu buat minum kita di rumah aja." Jawab Rafa dengan santai.


Keduanya lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam mini market untuk membeli minuman dan beberapa snack. Perjalanan menuju London masih satu jam lagi, dan karena tadi pagi mereka tidak makan sarapan dengan benar, snack pasti akan cukup mengisi lambung mereka.


"Nanti mau makan siang dimana?" Rafa bertanya setelah meneguk minumannya.


Hanna yang tengah berkutat dengan ponselnya langsung mendongak menatap Rafa.


"Katanya kak Rafa mau makan siang di sekitar Buckingham."


"Kayaknya mahal-mahal banget disitu, Han. Coba lo cari tempat makan lain, yang kita bisa sekalian jalan-jalan."


Hanna terkekeh mendengar alasan Rafa. Padahal semalam, Rafa mengatakan tidak masalah jika harus membayar mahal untuk makan di sekitar Buckingham. Katanya buat makan enggak usah perhitungan, tapi nyatanya kini Rafa telah berubah pikiran.


"Gue bukannya perhitungan, tapi kan bisa buat jalan atau makan ditempat lainnya lagi, Han. Kita mau nginep juga kan disini." imbuh Rafa yang membela diri karena tahu jika Hanna pasti menertawakan dirinya.


"Iya-iya, aku ngerti."

__ADS_1


Hanna mencoba mencari tempat yang sesuai untuk makan siang mereka. "Paling ke Camden Town, kak. Disana ada banyak stan makanan murah sama tempat belanja wisatawan kalo lagi ke London gitu."


"Yaudah, ayo cus sekarang." Rafa melangkah lebih dulu menuju mobilnya, diikuti oleh Hanna yang mengekorinya.


"Berarti, nanti aku boleh beli aksesoris atau benda lainnya dong, Kak?" Tanya Hanna saat keduanya baru saja duduk di dalam mobil.


"Iya, beli aja. Asal jangan yang mahal-mahal."


"Dibeliin kak Rafa?"


"Emangnya lo punya duit buat bayar sendiri?"


"Iihh, kak Rafa!" Dengan spontan, Hanna langsung memukul lengan Rafa. "Punyalah, kan selain uang dari kak Rafa, aku juga dikirimin sama Ayah."


"Yaudah lo simpen aja, dua hari ini lo mau apa aja gue yang beliin. Asal jangan rewel selama di London."


Rafa dan Hanna kembali melanjutkan perjalanan ke London. Tujuan pertama mereka adalah Camden Town, lalu mereka akan ke depan istana Buckingham sebentar, dan liburan hari ini akan ditutup dengan kunjungan mereka ke London eye.


"Jadi... kak Alita belum tau soal pernikahan kita?" Tanya Hanna dengan ragu-ragu.


Kini keduanya tengah berada di London eye. Seharusnya Hanna menikmati pemandangan kota London dimalam hari dari ketinggian dengan naik London eye ini, tapi Hanna justru menggunakannya untuk mengungkapkan perasaannya.


"Hm, Alita belum tau."


"Sampai... kapan?"


Rafa yang sejak tampak sibuk dengan ponselnya untuk membalas banyaknya pesan masuk pun lalu menoleh ke arah Hanna.

__ADS_1


"Kenapa pertanyaan lo jadi kayak gini?"


"Aku cuma pengen tau aja, Kak. Sebenernya, kak Rafa itu emang berniat enggak ngasih tau kak Alita soal status kita sekarang, atau... Kak Rafa nunggu waktu yang tepat?"


"Gue nunggu waktu yang tepat, Han. Gue baru aja ketemu sama Alita, dan enggak mungkin kan kalo gue bilang kalo kita ini udah nikah."


"Emang kenapa? Kak Rafa takut ditinggalin kak Alita lagi? Emangnya kalo kak Alita tau dikemudian hari, kak Rafa bisa jamin kak Alita akan tetep bertahan dan mau nerima kak Rafa?"


"Lo kenapa sih, Han? Perasaan dari pagi lo biasa-biasa aja, kenapa sekarang jadi nyolot begini?"


Nada bicara Rafa yang meninggi membuat Hanna terlonjak dan cukup takut jika Rafa akan marah besar. Tapi tekadnya kali ini telah bulat, Hanna tidak akan mundur sedikit pun.


"Karena aku udah enggak sanggup dengan kepura-puraan kita ini, Kak!" Jawab Hanna dengan nada yang setengah berteriak, dan matanya bahkan mulai berkaca-kaca.


"Kalo emang kak Rafa mau balikan sama kak Alita, kita akhiri aja sandiwara pernikahan ini. Kita terima segala konsekuensinya, termasuk kemarahan dari keluarga besar kita. Tapi, kalo kak Rafa mau mempertahankan aku dan melupakan kak Alita, kita bisa mulai semuanya dari awal."


"Han...."


"Aku mau kak Rafa bikin keputusan saat juga. Apapun keputusannya akan aku terima, sekalipun aku harus pisah sama kak Rafa."


"Lo tau keputusan apa yang bakal gue ambil, Han." Jawab Rafa dengan lirih.


Air mata Hanna tak bisa lagi dibendungnya. Kini, membayangkan untuk berpisah dengan Rafa menjadi ketakutan tersendiri bagi Hanna. Bukan karena mengecewakan keluarganya, tetapi juga telah mengecewakan hatinya yang sekarang mulai mengharapkan Rafa sepenuhnya.


Dering ponsel Rafa membuat keduanya memutuskan pandangan yang sejak beberapa detik yang lalu terhubung. Hanna segera memalingkan wajahnya untuk menyeka air matanya, sedangkan Rafa buru-buru mengangkat panggilan telepon dari papanya itu.


"Han... Kita harus pulang ke Bristol sekarang."

__ADS_1


"K-kenapa?" Tanya Hanna dengan suara seraknya.


"Papa sedang mengusakan kepulangan kita secepatnya. Kita harus balik, ayah... dalam kondisi kritis."


__ADS_2