Back To You

Back To You
Chapter 168


__ADS_3

Rafa memutuskan untuk pulang lebih awal hari ini. Tujuannya adalah pergi menemui Wildan. Dua hari yang lalu, ia mengunjungi rumah Hanna. Namun hanya bertemu dengan tante Widya, karena Wildan memang sedang sibuk akhir-akhir ini. Oleh sebab itulah Rafa untuk menemui Wildan di kantornya.


"Ngapain lo?" Tanya Wildan begitu mendapati Rafa tengah duduk menunggu di ruangannya.


"Udah selesai rapat?" Rafa menghentikan kegiatan bertukar pesan dengan Hanna. Ia segera memasukkan ponselnya ke saku celana.


"Ada apa?" Wildan bertanya lagi, kini posisinya telah duduk berhadapan dengan Rafa.


"Dua hari yang lalu gue ke rumah, tapi cuma ada tante Widya. Katanya elo lagi sibuk banget, jadi gue terpaksa datang ke kantor."


"Datang untuk?"


"Tante Widya enggak cerita?"


"Gue cuma pengen elo sendiri yang jelasin ke gue."


"Ah, begitu. Oke, jadi kedatangan gue kesini itu untuk minta restu ke elo. Gue dan Hanna memutuskan untuk balikan, dan... mungkin kami akan segera mengadakan pernikahan lagi." Rafa menjelaskannya dengan tenang.


Wildan adalah temannya, ia tahu dan mengenal bagaimana Wildan. Dia memang keras kepala, tapi menghadapi Wildan haruslah tenang agar tidak membuat lelaki di depannya ini semakin keras kepala.


"Kenapa harus Hanna sih, Fa? Elo bisa pacaran sama siapa pun, elo bisa nunjuk gadis mana pun, tapi kenapa harus Hanna? Dia baru dua puluh dua tahun, Fa. Dan elo udah mau kepala tiga!"


"Umur cuma angka, Wil. Enggak ada yang bisa menghalangi kapan, dimana dan dengan siapa kita jatuh cinta. Papa dan mama gue udah membuktikan, kalo usia yang terpaut jauh sangat bisa untuk membangun sebuah pernikahan yang bahagia."


"Itu kisah cinta orang tua elo, belum tentu kisah cinta elo bakal seindah dan sebahagia mereka. Kalian udah membuktikannya, pernikahan kalian bahkan berantakan sejak awal."


Rafa menghela nafasnya. "Itu memang kesalahan, Wil. Gue dan Hanna bahkan enggak memulai pernikahan itu dengan benar. Tapi yang kali ini beda, gue janji bakal ngebahagiain Hanna."


Wildan terdiam. Dia memijat pangkal hidungnyaz entah kenapa tiba-tiba saja kepalanya terasa pening.


"Please, Wil. Kalo dulu gue enggak peduli elo setuju atau enggak sama pernikahan gue dan Hanna, kali ini gue beneran butuh restu dari elo. Dia mau balik Jumat ini kan? Gue butuh jawaban elo sekarang, biar nanti Hanna enggak banyak pikiran pas dia balik."


Wildan menghembuskan nafasnya dengan berat. Entah jawaban apa yang harus dia berikan kepada Rafa, karena sejujurnya dia sangat berat hati untuk menerima Rafa sebagai iparnya kembali.

__ADS_1


...****************...


Hanna menarik kopernya keluar terminal kedatangan. Tangannya terus memantau ponselnya, menunggu kabar dari kakaknya. Karena hingga sampai detik ini, dirinya belum mendapat kabar ada yang menjemputnya atau tidak.


Saat mencari-cari keberadaan Wildan diantara para penjemput penumpang, Hanna malah menemukan sosok Rafa yang berdiri disana dengan senyumnya yang merekah. Yang lebih mengejutkan Hanna adalah dengan benda yang sedang dipegang erat oleh Rafa.


"Kenapa kak Rafa yang jemput?"


Adalah kalimat yang dilontarkan oleh Hanna begitu dirinya menghampiri Rafa. Mendengar kalimat itu, Rafa langsung cemberut seketika.


"Ish, kak Rafa! Sayang, Hanna. Sayang! Udah mau nikah masih aja manggilnya 'kak'."


Hanna terdiam dengan pipi yang bersemu merah. Memang dirinya masih kesulitan untuk memanggil Rafa dengan sebutan seperti itu. Rasanya terlalu... mendadak.


"Jadi... kenapa bukan kak Wildan yang jemput?"


"Kirain bakal seneng kalo aku yang jemput, emang enggak kangen apa?"


"Yaaaa... kangen. Tapi kan kak Rafa bilang ada urusan penting siang ini."


"Urusan pentingnya ya jemput kamu." Jawab Rafa sembari mencubit pipi Hanna dengan gemas.


"Terus, ini ngapain bawa-bawa beginian?" Hanna menunjuk ke arah bouquet yang berada dipelukan Rafa.


"Oh, ini buat kamulah sebagai ucapan selamat datang."


Hanna menautkan kedua alisnya. "Harusnya tuh kak Rafa pesennya bouquet bunga gitu, bukan malah bouquet begini." Jawab Hanna dengan memandangi bouquet yang baru diberikan oleh Rafa.


Bouquet tersebut berisi beberapa lembar uang seratus ribuan dan banyak snack kesukaan Hanna.


"Bunga? Itu enggak pantes sama kamu, kamu kan sukanya jajan. Udah yuk, kita balik sekarang, kita udah ditungguin buat makan siang keluarga."


Rafa segera mengambil alih koper Hanna dan menggenggam tangan Hanna, lalu membimbingnya berjalan menuju tempat dimana ia memarkir mobilnya.

__ADS_1


...****************...


Tujuan Rafa dan Hanna kali ini adalah sebuah restoran, dimana keluarga mereka telah menunggu untuk makan siang bersama.


Hanna masih terlihat canggung. Gadis itu langsung melepaskan gandengan tangan Rafa saat memasuki ruangan tempat makan keluarga. Pertemuan kali ini bagaikan acara temu kangen Hanna pada mama Salma, Eowyn dan juga Zahra.


Pasalnya selama setahun ini mereka bertiga sama sekali tidak mengetahui keberadaan Hanna. Padahal para suami mereka mengetahui dan berinteraksi dengan Hanna.


Wildan tampak biasa saja. Selama makan siang ini, lelaki itu seolah memasang mode friendly. Berbeda dengan kemarin saat Rafa menemuinya untuk meminta restu.


"Aku udah minta restu ke mama, papa, tante Widya dan juga Wildan." Bisik Rafa saat Hanna baru saja menyelesaikan makannya.


"Hah? S-secepat ini?"


Rafa menganggukkan kepalanya. "Waktu itu aku bilang aku mau nunggu sampai kamu siap kan? Tapi kayaknya aku berubah pikiran. Papa dan Abang juga bersedia untuk bantu kamu pindah kerja disini secepatnya."


"Hah?"


"Wildan juga udah setuju." Rafa menyela perkataan Hanna, saat gadis disebelahnya itu tampak menoleh ke arah kakaknya yang duduk diseberangnya.


"Aku udah bilang ke Wildan, dan dia setuju kalo kita mau nikah lagi. Emang susah awalnya, tapi akhirnya dia setuju juga."


"Hah?"


Rafa menganggukkan kepalanya. "Segampang itu, cuma butuh sabar doang kalo ngadepin Wildan. Udah, jangan hah-hah mulu. Bikin pengen nyium tau."


Hanna segera mengatupkan bibir dan menegakkan punggungnya, dia bahkan menggeser kursinya agar tidak terlalu dekat dengan Rafa. Lelaki itu memang berbahaya, bahkan saat ada keluarga mereka pun bicaranya masih bisa seenaknya sendiri.


"Sini ih deketan!" Rafa menarik paksa kursi Hanna agar kembali dekat dengannya.


Ternyata gerak-gerik Rafa barusan tak luput dari pandangan orangtua mereka, yang tentu saja langsung mengomentarinya.


"Mentang-mentang udah ketemu jadinya enggak mau jauh-jauhan." Ujar mama Salma.

__ADS_1


"Hm, kayaknya emang kudu cepet-cepet dinikahin aja mereka ini." Balas Widya sambil meletakkan gelas minumnya.


"Iya, fixlah bulan depan mereka nikah. Iya kan, Pa?" Mama Salma menoleh ke arah papa Adit yang kemudian dijawab dengan anggukkan kepala.


__ADS_2