Back To You

Back To You
Persiapan


__ADS_3

Vee adalah pria dengan perkataan yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Mengingat kembali kehilangan gadisnya disaat usia remaja membuat dirinya berubah menjadi sosok angkuh yang teramat luar biasa. Melihat ada kesempatan kedua, maka tak ragu ia untuk mengambilnya.


Tepat tiga hari yang lalu, pria yang sedang berkaca dengan menilik penampilannya itu membuat janji yang mutlak untuk ditepati. Seakan alam ikut mendukung tekadnya, secepat itulah Vee telah berhasil mempersiapkan acaranya.


Waktu semakin dekat, dentuman jantungnya menggema di rongga dada. Cairan bening pun diloloskan dari pelipisnya. Basah kuyup sudah wajahnya paripurna Vee Kanesh Bellamy.


"Ck! Awas saja sampai Rosé pingsan di altar." Niko tiba-tiba berseru dari belakang, mengaketkan Vee saja.


"Huh! Bang, kenapa tiba-tiba, ketuk pintu dulu kek.” Protes Vee kemudian.


Disaat Vee yang tak berhasil menguasai kegugupan, Niko datang dengan ocehan dan itu membuat calon mempelai pria benar-benar gugup tak tertahankan.


"Kau harus yakin dan jangan sampai membuat Rosé gugup." Kemudian Niko memberi petuah.


Vee nampak tidak terima. "Siapa yang tidak gugup saat akan menikah, Bang? Kau saja dulu juga begitu. Kau tidak ingat, kue jatuh berantakan hanya karena lenganmu yang luar biasa perusak itu." Protesnya lagi.


Ya memang benar yang dikatakan Vee. Kakaknya itu memang perusak. Untung saja saat berada di meja operasi tangan itu sangat hati-hati dan rapi. Jika tidak, berapa nyawa yang akan melayang karena ulahnya.


Bisa dikatakan Niko adalah pria yang ceroboh, tapi untuk pekerjaan pria itu sangat bisa dipercaya.


Niko berdecak tidak terima. "Bukan itu maksudku, Vee."


Vee mengangkat alisnya dengan tatapan penuh ke arah kakaknya. "Lalu?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Hanya percaya padaku. Jangan gugup dihadapan Rosé. Itu saja." Niko sebenarnya ingin memberitahu detail tentang apa yang bisa membuat Rosé gugup atau tidak percaya diri, tapi bagaimanapun juga Niko tidak berhak, setidaknya Niko akan menghormati Rosé, membiarkan wanita itu sendiri yang mengatakannya sampai benar-benar siap.


"Aku tetap tidak mengerti, bang." Vee membeo dengan kepala menggeleng pelan.


”Ada sesuatu yang mengganggu Rosé, dan itu adalah masalah yang ada pada diri Rosé sendiri, kau tahu Vee, aku sangat menghargai Rosé dan aku juga tidak akan berkata sembarangan meskipun kau adalah adikku.” Biar Vee tahu, Niko adalah orang yang sangat menghormati calon istri adiknya itu. “Aku hanya bisa mengingatkanmu saja, memberitahu agar jangan membuat Rosé gugup, itu sangat mudah dan kau tidak perlu bertanya panjang lebar. Apa kau mengerti?”


“Aku tahu bang, banyak sekali rahasia yang Rosé simpan. Meskipun aku sangat penasaran dan aku juga tahu kau dan yang lainnya mungkin masih tetap merahasiakan padaku, jujur aku tidak apa-apa, terimakasih sudah menghormati keputusan Rosé. Tapi di dalam sini.” Vee menyentuh dadanya sendiri. “Aku seperti orang tidak berdaya bang, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak tahu apa-apa. Bayangkan jadi aku. Tapi baiklah, aku akan menunggu samapi Rosé benar-benar siap.”


Niko menekan pelipisnya, mau berceloteh panjang lebar juga tidak bisa lagi, waktu semakin mendekat di penghujung acara. Mana mungkin ia bisa menjelaskan keadaan Rosé yang teramat rumit dan sulit untuk di cerna. Pasti akan membutuhkan waktu yang begitu panjang dan itu akan membuatnyaningkar janji juga.


"Oke, aku akan memberimu sesuatu yang mungkin bisa sedikit membantu. Buat Rosé yakin, yakin kau menerima dia apa adanya tanpa kurang apapun. Buat Rosé nyaman. Tunjukkan senyum bahagiamu dengan penuh dihadapannya. Dengan begitu, Rosé bisa yakin jika kau memang benar-benar menerimanya. Dan hasil akhirnya, Rosé akan percaya jika dirinya bisa membahagiakanmu juga.”


Sejauh ini, Niko memang jarang berbicara panjang lebar dengan adikknya, terlebih soal wanita. Tapi jika ini menyangkut tentang Rosé dan keadaan yang melemahkan wanita itu, Niko tentu saja harus ikut campur.


"Baiklah, aku percaya padamu."


Kondisi jiwa Rosé memang sedikit rumit untuk dijelaskan. Kritis percaya diri wanita itu benar-benar di ujung tombak, tipis dan runcing. Merasa menjadi wanita paling tidak sempurna membuat dirinya selalu tidak yakin untuk membuat pria yang akan menjadi suaminya kelak bahagia.


Semakin yakin bahwa dirinya bisa, semakin pula membuat fisiknya terluka, terutama pada bagian bekas operasi di perutnya—nyeri luar biasa akan menyerang tanpa ampun. Berulang kali terjadi, yang terparah saat pertengkarannya dengan James di atap gedung lalu itu.


Niko menepuk pundak adiknya kemudian berlalu dari ruangan itu. Vee sebenarmya sedikit tahu tentang kondisi Rosé yang sedikit trauma dengan kecelakaannya. Tapi tetap saja, melihat ekspresi kakanya membuatnya penasaran akan kondisi Rosé yang sebenarnya. Membuang pikiran buruk ke tong sampah, pria itu segera keluar menuju altar pernikahan. Memang sudah waktunya saat Fandi ayahnya yang baru saja memanggilnya.


Soal ayah Vee, pria paruh baya itu setuju-setuju saja dengan putranya yang akan menikahi Rosé. Hanya saja waktu itu Vee membuat keputusan mendadak yang sepihak. Ya salah Vee juga tidak membicarakan dulu ke keluarga inti.

__ADS_1


Sedangkan Rosé berkali-kali menggulir langkah untuk mengukur lantai, kekanan ke kiri tanpa henti. Sang ibu yang ada di dalam tak berhenti untuk melengkungkan bibirnya ke atas.


"Mom, ini sangat mendadak. Kenapa si Vee itu suka sekali membuatku terkejut."


"Karena dia mencintaimu, Alyne."


Rosé menggigit bibir bawahnya, sama seperti Vee yang dilanda kegugupan, Rosé pun juga merasakan. Menatap ibunya yang duduk di kursi dekat cermin. "Apa aku bisa membahagiakan, Vee?" tanyanya.


Sandara lantas berdiri, mengelus rambut Rosé dengan lembut, lalu tangannya beralih untuk menyentuh dada putrinya. "Jangan egois, Vee membutuhkanmu lebih dari apapun."


Rosé tersentil sampai ulu hatinya, yang dikatakan ibunya memang benar. Segala pertanyaan muncul lagi untuk mengobrak-abrik kepercayaan dirinya. Ya, sampai saat ini, wanita itu masih saja ragu, ragu jika dirinya bisa.


"Mau sampai kapan kamu terus begini? Hm?" tatapan Sandara beralih sendu. Seakan kesalahan tertumpuk pada putrinya seorang.


"Mommy hanya ingin kamu bahagia, percayalah pada dirimu. Kau bisa. Vee sudah cukup menderita."


Rosé mengangguk seraya memegang erat telapak tangan wanita paruh baya itu. Mencoba mengambil kekuatan untuk disalurkan ke tubuhnya.


"Aku janji, Mom. Aku akan melakukannya. Aku pasti bisa," ucap Rosé bernada yakin.


Sandara tentu saja tersenyum bahagia. Lantas memeluk putrinya dalam dekapannya lagi. Meyakinkan Rosé sangatlah sulit sedari awal. Tapi entah mengapa saat paksaan dari Vee yang sudah sebegininya membuat putrinya setuju-setuju saja.


Mungkin kekuatan cinta itu memang benar-benar ada.

__ADS_1


__ADS_2