
"Sayang, Rafa belum bangun?" Tanya Papa Adit sambil mendongak ke arah lantai dua rumahnya.
Mama Salma yang sedang sibuk menyiapkan sarapan lalu berhenti sejenak dan ikut mendongak ke atas.
"Papa kenapa enggak bangunin Rafa sih? Kan Papa dari atas, udah jam tujuh loh. Nanti kalo telat gimana? Bisa-bisa enggak jadi nikah dia."
"Rafa kan nurutnya sama Mama, lucu juga kalo setelah tiga puluh tahun tiba-tiba aku yang bangunin Rafa."
Mama Salma berdecak sambil melepas apronnya. "Apa bedanya sih, Pa. Kan cuma bangunin tidur anak-anak doang."
Papa Adit hanya tersenyum kaku dikursinya, sambil menerima uluran secangkir kopi dari mama Salma. Pandangan matanya lalu mengikuti istrinya yang terburu-buru menaiki tangga.
"Pelan-pelan, Sal. Kamu udah enggak muda lagi." Ucap papa Adit yang kemudian mendapat pelototan mata dari istri tercintanya itu.
...****************...
"Rafa!" Mama Salma sedikit berteriak saat memasuki kamar anak bungsunya yang masih gelap itu. Langkahnya langsung mengarah jendela dan menyingkap tirainya.
"Bangun ih! Kamu niat mau nikah hari ini enggak sih? Masih mau jadi duda lagi?" Imbuh mama Salma sembari menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Rafa.
"Rafa masih ngantuk banget, Ma." Jawab Rafa sambil menggeliat. "Rafa baru bisa tidur habis subuhan tadi."
"Itu salahmu. Dulu kamu beliin abang obat tidur biar semalaman bisa tidur, kenapa sekarang kamu enggak beli obat tidur buat diri sendiri?"
Rafa langsung memaksa tubuhnya bangun dan mendudukkan dirinya. "M-mama kok bisa tau?"
"Apa sih yang enggak mama tau dari kalian? Udah buruan bangun, mandi terus sarapan gih."
"Acaranya kan siang, Ma. Ini masih jam tujuh, Rafa tidur sejam lagi deh ya. Please?"
Mama Salma memijat pangkal hidungnya. "Terserah ya, Fa. Kalo sampai nanti kamu telat dan gagal nikah sama Hanna, mama enggak peduli lagi itu nanti Hanna bakal nikah sama siapa. Mana tau ada sodara kita yang mau nikah sama Hanna ya kan? Si Edo mungkin, dia kan juga udah siap nikah, pilot pula kan?"
"Ma! Mama kok gitu sih, sama anaknya sendiri juga." Rafa mulai merajuk. Kini ia telah beranjak dari tempat tidur dan merapikan selimutnya yang berantakan.
"Ya habis gimana dong? Mama udah bantuin kamu, tapi giliran hari H pernikahan kamunya malah males-malesan gini."
"Rafa bukannya males, Ma. Tapi ngantuk."
__ADS_1
"Sama aja! Udah buruan mandi, nanti kalo udah di hotel dan liat Hanna juga bakal melek tuh mata."
...****************...
Sepertinya memang benar apa yang dikatakan mama Salma pagi tadi. Rasa kantuk itu kini telah hilang sepenuhnya, apalagi setelah kini Hanna telah resmi menjadi istrinya kembali. Istri yang sesungguhnya.
Setelah selesai berganti pakaian dengan gaun yang lebih simple, Hanna memandangi Rafa yang dengan setia menungguinya bersiap. Keduanya saling melempar senyum, membuat perias yang berada di dalam ruangan itu ingin segera berlari keluar. Karena tidak ingin terjebak diantara pengantin baru ini.
"Hanna udah siap, Fa?" Tanya mama Salma yang baru saja memasuki ruangan tempat Hanna dirias.
"Udah, Ma. Bentar lagi kita keluar."
"Hm, tamu-tamu udah pada dateng soalnya. Kamu jangan main hape mulu."
Rafa hanya mengangguk, padahal sedari tadi ia memandangi foto-fotonya dengan Hanna yang tadi dikirimkan oleh kakak dan saudara-saudaranya.
Tak berselang lama, keduanya pun bersiap untuk keluar dan menyambut tamu-tamu mereka. Hanna telah melingkarkan tangannya di lengan Rafa. Keduanya kini merasakan suasana pernikahan yang sebenarnya. Tidak seperti pernikahan pertama mereka dulu, yang lebih terkesan seperti pesta biasa bagi mereka.
Senyuman lebar keduanya selalu terukir diwajah keduanya saat menyalami dan menerima ucapan selamat dari tamu undangan.
Alita segera memeluk Hanna dengan erat, lalu beralih untuk menyalami mantan pacarnya itu.
"Maaf ya, beberapa waktu lalu kami sempet ngerepotin Rafa. Padahal kalian lagi ribet nyiapin pernikahan." Imbuh Alita.
"Iya, gara-gara kamu tuh, Hanna jadi ngambek."
Hanna langsung menyikut perut Rafa, yang disikut mengaduh kesakitan.
"Enggak, bukan begitu, Kak. Kemarin itu karena kak Rafa bohong aja."
"Hmm... kebiasaan dari dulu enggak ilang-ilang." Alita memukul lengan Rafa.
"Ini kenapa sih pada mukulin gue?! Theo, istri lo nih. Tambah gendut aja kalo dilihat-lihat."
"Heh, hamil gue! Wajarlah kalo gendut." Alita memamerkan perut buncitnya yang disembunyikan dengan dress selutut yang cukup longgar itu.
Rafa dan Hanna sama-sama terkejut, terlebih lagi Rafa. Pasalnya beberapa waktu lalu ketika ia mengantarkan Alita ke rumah sakit, Alita tidak seperti wanita yang tengah hamil. Atau bisa jadi karena saat itu Rafa juga panik, sehingga tidak memperhatikan dengan seksama.
__ADS_1
"Udah kayak kak Eowyn aja, anak masih kecil udah hamil lagi."
"Ya emang kenapa? Suami gue fine-fine aja kenapa elo yang repot? Lo liat sendiri gimana suami gue, seksi begini gimana gue bisa tahan." Alita langsung menyandarkan kepalanya dilengan Theo.
"Enggak usah ngiri, ntar juga kalian ngerasain." Goda Alita sambil mengerlingkan matanya ke arah Hanna dan Rafa.
"Oh iya, sebagai permintaan maaf, kami kasih kado yang spesial banget buat kalian. Pokoknya kado dari kami wajib dibuka hari ini ya. Itu kado super spesial dan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya."
"Cek ya? Isinya cek kan sesuai permintaan gue ke Theo kemarin?"
"Hm, kayaknya sih udah diselipin sama Theo." Alita lalu menoleh ke arah suaminya. "Udah masuk ke kotak kan, sayang?"
"Apanya?" Tanya Theo dengan datar.
"Cek, yang udah kamu siapin kemarin."
"Aku cuma nyelipin voucher taksi. Oh, sama ada voucher untuk potongan hotel dan belanja. Pokoknya voucher-voucher yang ada di kantor."
"Pantesan kaya, pelit gitu suami lo."
"Enggaaaakkkk....Theo cuma bercanda, pokoknya kado dari kami spesial. Dia emang suka bercanda, walaupun wajahnya datar tanpa ekspresi begini hehehehe...."
"Ng-" Rafa langsung mengatupkan bibirnya saat kembali disikut oleh Hanna.
"Makasih banyak loh kak Alita, kak Theo dan Aldric udah nyempetin datang. Makasih banyak kado spesialnya, pasti akan kami gunakan sebaik-baiknya."
"Janji loh ya bakal digunakan sebaik-baiknya?"
Hanna menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan Alita.
"Yaudah, kami mau nikmatin makan siang dulu deh ya. Kalian silahkan menyambut tamu-tamu yang lain. Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian, semoga langgeng, bahagia selalu, dan cepet dikaruniai anak-anak yang lucu."
"Nanti kita besanan deh ya."
"Enggak... enggak.... enggak ada cerita kayak gitu. Yuk sayang, kita makan disana." Theo langsung menolak dengan keras.
"Mereka memang begitu, Han. Aslinya sih akur, cuma pada gengsi aja." Alita berbisik sebelum akhirnya melangkah pergi mengikuti suaminya
__ADS_1