Back To You

Back To You
Sebenarnya Tahu


__ADS_3

Suara deruman benda bermesin yang biasa disebut mobil berwarna pink rose memasuki pelataran rumah Niko, mobil itu milik Rosé, namun dia tidak ada di salah satu tiga nyawa di dalamnya.


Vee dan Sena telah pulang dari menjemput Saroja di bandara, ke tiganya pun langsung memasuki rumah. Saroja sungguh tidak sabar, langkahnya memburu dengan diiringi bisunya bibir—tak mengeluarkan sepatah katapun. Ayunan kaki Saroja berhenti kala netranya mendapati Dera dan Hana yang menyambut kedatangannya.


"Dimana bocah itu?" Tanya langsung Saroja tanpa ragu, semua pasang mata yang melihatpun tidak pernah menyangka akan sikap Saroja hanya karena mendengar kedatangan Rosé saja.


"Nenek, duduklah dulu." pinta Vee, cucu kesayangan wanita tua renta itu. "Mah, dimana Alyne?" Tanyanya setelah mengubah pandangan pada Dera ibunya.


Dera hanya mengarahkan pandangan pada Sena yang setengah tertunduk, Dera sedih, dia sangat tahu apa yang dirasakan Sena saat melihat semua anggota keluarga termasuk dirinya sendiri sangat menaruh perhatian karena munculnya kembali mantan kekasih anaknya.


Sena yang awalnya mencoba baik-baik saja seakan sudah tidak tahan, sedikit muncul rasa benci pada sosok Rosé yang mendadak datang mengusik kehidupannya dengan Vee.


"Dera, dimana Alyne?" Tanya Saroja sekali lagi.


Hana, terpaksa menuntun Saroja untuk menemui Rosé yang sedang kacau di dalam kamarnya, akibat mobil miliknya dulu yang dengan cerobohnya dibawa oleh Candra talak membuat Rosé pening seketika.


Rosé yang sedang membenahi tatanan wajahnya karena baru saja membersihkan sisa air mata dengan membasuh muka menoleh pada arah pintu yang kenopnya menurun akibat ulah dari seseorang yang berada dibaliknya.


"Hana, bolehkah nenek masuk sendiri?" Pinta saroja ramah pada Hana yang hanya diangguki dengan senyuman yang tulus darinya.


"Nenek," lirih Rosé saat tahu Saroja melangkah pendek kearahnya, langkah nya jauh lebih pelan dari tujuh tahun yang lalu.


Tatapan yang sangat sulit diartikan dari Saroja talak membuat Rosé jadi takut, tidak pernah sekalipun ia mendapatkan tatapan seperti itu dari sosok Saroja dihadapannya.


"Kenapa kau kembali?" Tanya Saroja datar.


Rosé gugup, seperti dihantam batu besar yang mampu menenggelamkannya sampai inti Bumi, Rosé terkejut akan pertanyaan yang tak terduga.


Rosé sangat merindukan nenek tua ini, rasanya ingin memeluknya seperti dulu, namun ia hanya bisa meremat jemarinya serta bibirnya yang tiba-tiba kelu.


"Kau tidak bisa menjawab? Apa kau mencoba kembali pada Vee setelah dia sudah mempunyai calon istri?" Tanya Saroja dengan nada remeh.


Demi Tuhan Rosé ingin menangis rasanya, tidak pernah dalam benaknya mendapat pertanyaan seperti ini dari orang yang sudah dianggapnya sebagai nenek sendiri.


Dan juga.


Tidak ada dalam benak Rosé ingin kembali pada Vee.


"Apa yang kau lakukan disini? Di rumah ini?"


"Nenek, tolong jangan salah paham." Rosé berkata dengan mulut yang bergetar menahan tangis serta langkah pelannya mencoba untuk mendekat.


"Apa sebenarnya tujuanmu setelah pergi dan kembali seperti ini, kau mengingkari janjimu?" Saroja tidak berhenti untuk mendesak Rosé dengan mengungkit perjanjian yang dibuatnya dengannya dulu.


"Nenek, Alyne minta maaf."


"Aku akan memaafkanmu jika sekarang juga kau menikah dengan Vee." talak Saroja.


Rosé menegang, tubuhnya kaku, ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang baru saja terdengar dari bibir keriput wanita tua di depannya. Bagaimana bisa Saroja menyuruhnya menikah dengan Vee disaat pria itu sudah memiliki tunangan, permainan macam apa ini.


"Nenek."


"Aku butuh jawabanmu, bukan air matamu." tuntut Saroja lagi dan lagi setelah melihat Rosé yang sedang tidak sadar dengan lelehan air matanya yang sudah membasahi pipi.

__ADS_1


Rosé sangat ingat sekali, janji dimana ia akan kembali dan akan menikah dengan Vee setelah empat tahun mendapat gelar Dokter-nya, janji dimana dia akan segera memberikan seorang Vee junior untuk Saroja.


"Nenek, ak-aku tidak bisa hamil, Alyne kecelakaan, Alyne tidak bisa hamil, Nek." Rosé dengan sesegukan akhirnya limpuh juga, berjongkok dengan telapak tangan yang memegang dada menahan sakit yang menjalar di rongganya.


Dunia seakan runtuh, gadis kecil didepannya begitu rapuh saat ini, Saroja sangat menyayangi Rosé. Saroja akhirnya bersimpuh meraih tubuh Rosé untuk mendekat ke pelukannya.


"Apa hanya dengan cara ini kau bisa jujur pada nenek, kenapa kau menahannya sendiri?" Akhirnya usaha Saroja untuk membuat Rosé jujur membuahkan hasil.


Saroja sangat tahu, Rosé tidak akan pernah mengingkari janji jika memang tidak ada sesuatu yang serius terjadi pada dirinya.


"Kau merendahkan nenek, Alyne." Rosé menggeleng masih dengan tangisnya.


"Apanya yang tidak? Apa kau pikir keluargaku tidak mau menerimamu setelah tau keadaanmu? Kau sangat bodoh, Alyne."


Rosé dimarahi habis-habisan oleh Saroja, seakan sudah terbiasa, Rosé hanya mendengarkan saja.


"Nenek juga kecewa dengan keluargamu yang hanya bungkam saat nenek memaksa mereka berkata jujur."


Sontak saja Rosé melonggarkan pelukannya, tangisnya tiba-tiba berhenti dengan mimik muka terkejut. "Nenek mendatangi keluarga, Alyne?" Tanyanya.


"Tentu saja, aku tidak tahan melihat Vee seperti orang gila karena tidak dapat menemukanmu." jawab Saroja seraya menghembuskan nafasnya pasrah.


"Seperti orang gila?" Tanya Rosé heran dengan perlahan mengajak Saroja berdiri dengan menggenggam tangan wanita tua itu lalu menarik ke atas sampai benar-benar telapak kaki yang menyangga tubuh masing-masing.


"Ayah Vee terpaksa mengenalkan anak temannya pada bocah itu, dan akhirnya, mereka bertunangan."


"Mereka sangat serasi Nek."


Rosé tersenyum dengan telapak tangannya mengusap lelehan air mata. "Bukankah Nenek tahu bagaimana keadaan sekarang ini. Vee sangat menginginkan anak yang banyak. Hanya Sena yang sapat memberikannya."


"Apa Vee tau keadaanmu?"


"Nenek, apa kau masih menganggapku sebagai cucumu sendiri?" Tanya Rosé mengalihkan pembicaraan.


"Apa yang kau bicarakan Alyne, sampai kapanpun tidak ada yang berubah."


"Bisakah Nenek turuti permintaan Alyne? Kali ini saja," pinta Rosé memohon.


Saroja menanggapi dengan senyum tipis, wanita tua itu seperti tau saja yang akan di minta oleh Rosé. "Nenek janji tidak akan mengatakan pada siapapun, itu 'kan keinginanmu?"


Rosé mengangguk, Saroja menarik Rosé lagi dalam pelukannya. "Bagaimana bisa kau melewatinya sendiri, aku seperti mengalami mimpi buruk."


...****************...


Suara air saling beradu dan bertabrakan dengan piring yang sedang dicuci oleh Rosé, setelah acara makan malam bersama keluarga Bellamy berserta Sena yang berada di dalamnya, Rosé memutuskan untuk mengambil alih dapur untuk membereskan semuanya.


"Kau cari perhatian sekali Rosé!" suara nyaring namun mengejek pun dilayangkan oleh Sena sesaat setelah telapak kakinya menapak menghampiri Rosé hingga tubuhnya sekarang berdiri tepat di samping tubuh Rosé.


Rosé memilih diam seraya memutar bola matanya jengah, mematikan keran bersamaan menghembuskan nafasnya kasar, setelah ia berhasil meredam amarahnya sendiri, Rosé melanjutkan untuk mencuci piring, mengabaikan wanita yang tingginya tidak sampai mensejajari tubuhnya—lebih pendek.


Sena tidak suka diabaikan, dia merebut piring yang sedari tadi dicuci oleh Rosé, sabut yang berada di tangan kanan Rosé pun juga direbut paksa, kini sekarang Sena yang telah menggantikan posisi Rosé untuk mencuci piring.


"Apa sebenarnya maumu, Sen?" Tanpa menoleh Rosé bertanya.

__ADS_1


"Tidak bisakah kau pergi dari sini?" Permintaan Sena datar bersamaan menaruh piring dan sabut asal di wastafel dengan membiarkan air yang mengalir melalui kran yang tetap menyala.


"Baiklah aku pergi, kau selesaikan sendiri saja ini semua," jawab Rosé tak kalah datar.


Rosé membalikkan badan, berniat meninggalkan Sena sendirian di dapur, lama-lama berada didekat Sena tidak baik untuk kesehatan mentalnya.


"Pergi dari rumah ini maksudku, jangan berlagak bodoh Rosé." mata Sena bergetar—ia berubah total.


Rosé merapalkan tangannya kuat. "Kau ingin aku pergi dari sini? Apa karena Vee?"


"Kalau kau tahu malu seharusnya kau tahu apa yang harus kau lakukan, Rosé." penuh penekanan disetiap kata yang Sena ucapkan.


Pernyataan menohok dari mulut Sena telah menjadikan Rosé berapi, ia sama sekali tidak tahu letak kesalahannya dimana. Seingat Rosé, dirinya tidak pernah mencuri-curi waktu untuk mengganggu hubungan antara Vee dan Sena.


Rosé tersenyum getir, membalikkan badan menatap Sena yang ternyata sedari tadi sudah menatap punggung-nya. "Kalau memang aku mau, sudah kupastikan saat ini kau takkan memakai cincin mu itu, Sen."


Sena terkesiap, mata berkaca itu mencoba untuk tetap kuat menghadapi Rosé yang menurutnya sangat berbahaya, disetiap kata mengandung ancaman.


Sedangkan Rosé mencoba untuk menakuti Sena. Tidak ada maksud buruk, Rosé tahu dirinya tidak akan pantas untuk Vee. Ia hanya berusaha membantu membangun dinding yang kokoh untuk pertahanan Sena agar Vee tidak bisa lari dari radarnya. Mencoba untuk menjadi jahat tidak apa-apa, karena yang dihadapi Rosé saat ini bukankah manusia yang mudah untuk diajak bicara layaknya orang dewasa.


"Setidaknya menghilanglah dari pandangan kami. Itu akan membuatku tenang." terdapat serat memohon saat Sena mengatakan itu semua.


Sebenarnya dari awal Rosé tahu dirinya juga salah berada disituasi seperti ini. Tapi ia hanya menghargai tawaran Niko, tidak lebih.


"Kau yakin dengan aku menghilang semua akan baik-baik saja?"


"Apa maksudmu, Rosé?"


"Hanya saja, aku tidak yakin Vee mampu berada jauh dariku."


Ancaman demi ancaman terpaksa Rosé layangkan. "Kumohon Sen, tarik Vee dari hadapanku," batinnya merapal dalam hati.


"Aku tidak bisa meninggalkan kewajibanku di Rumah Sakit, Sen. Jadi sekarang kumohon, berhentilah bersikap seperti anak kecil."


Sena sangat geram "Berani sekali kau mengatakan aku seperti anak kecil!!!"


Rosé tersenyum remeh, mengabaikan Sena yang sudah berkobar. "Lalu aku harus bagaimana? Vee bukan mainan yang dapat diperebutkan. Aku tidak berminat juga. Tapi aku tidak tau kalau Vee berminat padaku, buktinya kau sangat ketakutan."


"Aku membencimu, Rosé. Sangat!!!"


"Aku menyukaimu, Sen. Tapi sayangnya perasaanku bertepuk sebelah tangan." Rosé semakin pintar memancing keributan.


"Mau sampai kapan kita terus berdebat, Sen? Kalau ada yang tau apa yang harus aku katakan? Haruskah aku memberitahu mereka tentang permintaanmu?"


Sena tidak menjawab, masih memendam amarah didalam dadanya. Nafasnya pun naik-turun


"Baiklah-baiklah, aku akan mencari alasan untuk meninggalkan Rumah ini." final Rosé pada akhirnya, sangat santai untuk mengatakan itu semua, kenapa tidak dari awal saja Rosé, tidak kasihan apa melihat Sena se emosi itu.


Rosé pun berjalan meninggalkan Sena yang entah Rosé tidak tau bagaimana reaksi Sena setelah ia mau mengambil keputusan untuk meninggalkan rumah ini.


Rosé sedang berada di kamar mandi, berjongkok serta menghapus lelehan air matanya. Kalau ada yang bilang Rosé sangat kuat dan sedikit arogan saat dihadapan Sena tadi, maka jawabannya salah. Rosé terlampau gugup berhadapan dengan wanita yang akan menjadi calon istri orang yang paling dicintainya.


"Hah, hari yang menyebalkan, hiks."

__ADS_1


__ADS_2