Back To You

Back To You
Chapter 61


__ADS_3

Rafa memacu mobilnya, mengikuti arahan maps yang terpampang dilayar ponselnya. Tadi, Wildan mengiriminya sebuah pesan dan meminta tolong padanya untuk menjemput Hanna. Wildan juga melampirkan lokasi rumah kakek dan neneknya karena Rafa belum pernah kesana. Sementara Wildan bersama ibunya membawa sang Ayah ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, Rafa berdoa agar tidak diarahkan menuju jalan yang sempit atau jalan buntu. Ia harus segera membawa Hanna menuju rumah sakit, untuk segera melihat kondisi ayahnya yang semoga baik-baik saja.


"Iya, ma?" Rafa mengangkat panggilan telepon dari mamanya dan mengaktifkan loud speaker.


"Udah dimana? Mama sama Papa udah siap mau berangkat ke rumah sakit sekarang."


Ya, sekeluarnya dari klub malam tadi Rafa langsung mengirimkan pesan untuk mamanya. Mengabarkan jika teman kuliah mamanya itu masuk ke rumah sakit karena serangan jantung.


Rafa masih terfokus melihat ke arah kiri jalan, mencari rumah dengan nomer lima puluh delapan. "Udah mau sampai rumah neneknya Hanna, Ma. Ini lagi nyari nomer rumahnya."


"Oh, oke. Nanti ke rumah sakitnya hati-hati ya. Bilang ke Hanna sama kakek neneknya kalo om Taufik udah tertangani."


"Oke, Ma. Rafa tutup telponnya ya, Ma. Ini udah sampai."


Tanpa menutup panggilan telepon dari mamanya, Rafa keluar begitu saja dari mobilnya. Hanna nampak akan tengah menutup pintu pagar rumah, sementara kakek dan neneknya telah terlebih dulu masuk ke dalam sebuah mobil.


"Hanna." panggil Rafa begitu berlari mendekat ke Hanna. "Aku kan udah bilang tunggu, kenapa pake pesen taksi online sih."


"Kak Rafa lama." jawab Hanna dengan suara terdengar seperti sedang menahan tangisnya.


"Yaudah, pindah mobil gue gih." Rafa langsung membuka pintu mobil untuk berbicara kepada kakek dan nenek Hanna serta sopir taksi online tersebut.

__ADS_1


"Kakek... Nenek... pindah ke mobil Rafa aja ya, Rafa yang antar ke rumah sakit sekarang." Rafa lantas merogoh dompetnya lalu menarik selembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya kepada sang sopir. "Bapak nanti tetep aja ke RS ya, sampai sana langsung diakhiri aja perjalanannya. Biar mereka sama saya aja."


Sopir taksi online itu terlihat ragu untuk menerima uluran uang dari Rafa, begitu pula dengan kakek dan nenek Hanna.


"Kita naik mobil ini saja. Kasian masnya jalan sampai rumah sakit tapi enggak ada penumpangnya, biar Hanna naik mobil kamu." ucap kakek Hanna yang kemudian diangguki oleh sang nenek.


Tanpa berpikir banyak, Rafa lalu menyelipkan uang seratus ribuannya tadi ke cup holder disebelah sopir. "Yaudah, saya ngikut dibelakang ya, Pak." ucapnya pada sang sopir.


Rafa segera menggandeng tangan Hanna, membukakan pintu mobilnya dan menyuruh Hanna masuk tanpa perlawanan. Rafa lalu bergegas melajukan mobilnya mengikuti taksi online yang berada di depannya.


"Enggak usah nangis lagi, Han. Kata mama, om Taufik udah tertangani kok." Rafa mencoba menghibur Hanna yang sedari tadi terus menyeka air matanya.


Tapi Hanna masih diam seribu bahasa. Nampaknya Hanna tak serta merta percaya begitu saja kepada Rafa sebelum melihat kondisi ayahnya secara langsung.


"Om Taufik pasti baik-baik aja, Han." Rafa mengulurkan tangan kirinya untuk mengusap rambut Hanna, seolah ingin membantu gadis itu untuk tenang dan tidak menangis lagi.


"Emangnya aku anak kecil yang kalo nangis bakal diem kalo dibeliin es krim?" teriakan Hanna barusan sungguh membuat Rafa terkejut. "Bercandaan kak Rafa itu enggak sesuai sama kondisinya sekarang."


"G-gue enggak bercanda, Han. Gue seriusan. Ntar... kalo om Taufik udah sehatan, beneran gue bakal traktir lo makan es krim sepuasnya."


Tapi Hanna kembali terlihat bodo amat dan tidak tertarik dengan janji manis Rafa barusan. Kalo cuma es krim kan dia bisa beli sendiri ya!


Begitu Rafa selesai memarkirkan mobilnya, Hanna begitu saja keluar dari mobil tanpa menunggu Rafa. Gadis itu berlari, bahkan melewati kakek dan neneknya yang baru saja turun dari taksi online tadi.

__ADS_1


Setelah mengucapkan terima kasih pada sopir taksi online, Rafa lalu membimbing kakek dan nenek Hanna menuju ruangan tempat om Taufik dirawat. Terlihat Mama dan Papanya telah berada di luar ruangan, bersama Wildan, Hanna dan juga tante Widya.


Pertemuan keluarga itu tentu saja mengharu biru. Belum lagi nenek Hanna yang tampak begitu terpukul dengan kondisi anaknya sekarang.


"Sorry Fa gue ngerepotin lo, dan makasih banget karena udah nganterin Hanna dan juga kakek nenek kesini." ucap Wildan.


"Its okay, gue enggak lagi sibuk kok. Cuma tadi bingung aja sama jalannya, makanya agak lama."


"Gue terpaksa ngehubungin elo karena biasanya lo mainnya deket-deket situ. Lo tau sendiri kan gimana ayah sebegitu protective-nya ke Hanna gara-gara kejadian yang dulu?"


"Iya, tapi adek lo yang enggak sabaran. Dia tadi udah mesen taksi online, untung aja gue dateng tepat waktu. Kalo enggak, bisa diculik lagi dia."


Tentu kali ini Rafa sangat berlebihan. Hanna akan menaiki taksi online itu bersama kakek dan neneknya. Dan secara tidak langsung kan Rafa menuduh sopir taksi tadi berniat menculik Hanna!


Setelah berbincang sebentar dengan Wildan, Rafa berpindah mendekati mamanya. Semuanya masih menunggu dokter keluar dari ruangan setelah melakukan pemeriksaan kepada km Taufik. Rafa menyandarkan kepalanya dibahu sang mama, tidak peduli jika nanti papa Adit akan mengomelinya, yang penting Rafa hanya ingin bersandar pada mamanya.


"Kamu keliatan lemes banget, sakit ya?" tanya mama Salma sambil mengusap rambut Rafa.


"Enggak. Rafa cuma capek kok, Ma."


"Udah bilang Alita kalo kamu lagi nganterin Hanna dan lagi di rumah sakit?"


Pertanyaan mama Salma barusan seolah langsung menyadarkan Rafa. Nama Alita kembali menyusup masuk memenuhi pikirannya. Padahal tadi ia bahkan sempat lupa jika sebelumnya Alita-lah yang mengambil alih pikirannya bahkan hampir membuatnya gila.

__ADS_1


Kepala Rafa kembali terasa pening. Dadanya juga bergemuruh, apalagi kalau mengingat bagaimana canda tawa Alita bersama pria yang katanya bernama Theo itu.


Rafa menghembuskan nafasnya yang terasa sesak. Alita pasti kini kembali bercengkerama dengan lelaki itu. Hati Rafa juga terasa sakit saat mengingat bagaimana Alita berkata jika dia merasa nyaman bersama Theo. Sulit sekali membayangkan jika Alita akan berbahagia bersama lelaki lain, dan bukan dirinya.


__ADS_2