Back To You

Back To You
Chapter 166


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan, keduanya masih bertahan di kafe untuk menikmati pemandangan matahari terbenam. Sesekali Rafa melemparkan candaan yang ternyata mampu membuat Hanna tertawa.


Tangan Rafa tidak henti-hentinya merangkul dan menggenggam jemari Hanna. Seolah ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa gadis disebelahnya ini adalah miliknya.


"Setelah ini kita mau kemana?" Tanya Rafa dengan jarinya yang sibuk menggulung rambut Hanna.


Hanna mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepalanya. "Mungkin... kita balik ke hotel aja dan istirahat."


Rafa langsung menarik jarinya dan menghela nafas panjang.


"Ini malam minggu, Han. Dan besok siang aku udah harus balik. Kamu enggak mau ngabisin waktu sama aku?"


"Y-ya gimana, aku juga enggak tau kita harus kemana. Tempat hiburan deket sini hanya ada klub dan tempat untuk nyari oleh-oleh."


"Klub malam? Kamu udah pernah kesana? Mau coba masuk sama aku?"


Dan sebuah pukulan langsung mendarat dilengan Rafa, sesaat setelah ia selesai mengucapkan kalimatnya.


"Aku cuma bercanda, sayang."


Hanna memalingkan pandangannya ke arah lain. Entah kenapa mendengar Rafa memanggilnya dengan kata 'sayang' malah membuatnya tergelitik, tapi juga membuatnya merona.


"Ah iya, Bunda sama Wildan enggak dateng kesini?"


Hanna menggelengkan kepalanya. "Kak Wildan lagi sibuk banget."


Rafa ber-oh ria, membenarkan jawaban Hanna jika Wildan memang sedang sibuk-sibuknya. Siapa yang menyangka jika Wildan bisa mengembangkan tempat bimbingan belajar milik ayahnya hingga menjadi besar seperti sekarang.


"Kayaknya... kamu yang harus segera pulang, Han."


"Aku? K-kenapa?"


"Kita kan harus segera ngomongin kelanjutan hubungan kita sama keluarga. Yah, meskipun sekarang pasti mereka semua udah pada tau."

__ADS_1


"Se... cepat i-itu?"


Rafa menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Aku pikir... orangtua kita pasti juga akan setuju kalo kita mempercepat proses rujuknya kita. Mereka pasti malah akan was-was kalo tiap minggu aku bakal kesini dan ngebiarin kita tanpa pengawasan. Yah, kayak pas kamu mau berangkat ke Bristol dulu."


"Kak Rafa... seyakin itu?"


"Hm, emangnya kenapa?"


"Maksudku... kak Rafa bahkan belum tentu dapet restu dari Bunda dan kak Wildan. Tapi kenapa... kak Rafa bisa seyakin itu kalo kita bisa secepatnya nikah?"


Rafa terdiam sejenak. Perkataan Hanna barusan memang benar. Karena peristiwa terdahulu, pastilah Rafa akan sedikit mendapat hambatam untuk mendapatkan kembali kepercayaan dan restu dari keluarga Hanna.


"Tapi aku yakin bisa." Jawab Rafa dengan percaya diri. "Yang mau nikah kan kamu, dan kamu enggak keberatan untuk balikan lagi sama aku. Bunda juga kayaknya enggak ada masalah sama aku, karena Bunda selalu welcome banget waktu aku sering nyariin dan nanyain kamu di rumah. PR-ku sekarang cuma sama Wildan."


Hanna masih belum merespon. Gadis itu tampak sedang menerawang kejadian seperti apa yang akan terjadi saat Rafa berhadapan dengan kakaknya.


"Udah, enggak usah terlalu dipikirin. Kita bukan mau nikah karena udah hamil duluan. Aku cuma perlu ngeyakinin Wildan kalo kesempatan yang dia beri nanti enggak akan aku sia-siain lagi. Yang penting kamu harus usahain pulang secepatnya, aku bisa bantu untuk ngomong sama Papa atau Abang biar kamu enggak kerja disini lagi." Rafa mengusap puncak kepala Hanna.


Hanna langsung menggelengkan kepalanya. "Tapi... aku enggak bisa balik dalam waktu dekat. Ada banyak banget kerjaan, dan... aku enggak mungkin ninggalin kerjaan itu gitu aja."


"Enggak segampang itu. Pokoknya aku enggak bisa balik dalam waktu dekat. Dan lagi, aku enggak mau nilai performaku berkurang, jadi peluang untuk dapetin bonus lagi jadi berkurang."


Rafa mengerti kenapa Hanna untuk kembali secepatnya. Selain karena ingin menyelesaikan pekerjaannya, ternyata gadis itu masih memikirkan bonus tahunan.


Rafa kemudian beranjak dari duduknya, dan mengulurkan tangannya kepada Hanna.


"Kalo gitu... kita pergi sekarang? Aku enggak mau kita menghabiskan malam minggu pertama kita disini."


Butuh waktu beberapa detik bagi Hanna untuk kemudian untuk membereskan barang bawaannya dan menerima uluran tangan Rafa. Keduanya berjalan keluar kafe, dengan bergandengan tangan dan bersiap menikmati malam minggu pertama mereka.


...****************...


Tidak ada yang spesial dengan malam minggu Rafa dan Hanna. Mereka berdua hanya berjalan-jalan untuk mengunjungi toko souvenir dan oleh-oleh, serta menikmati pertunjukan live music di pinggiran pantai.

__ADS_1


Dengan menenteng beberapa kantong belanjaan, Rafa dan Hanna memasuki hotel saat waktu menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Ini memang bukan kali pertama Hanna keluar hingga larut malam. Biasanya dia akan pergi dengan beberapa temannya atau bersama keluarganya saat mereka berkunjung kesini.


"Aku enggak bisa nawarin kak Rafa untuk masuk ke dalam. Bukan karena kamarku berantakan, tapi...."


"Tapi karena takut terjadi hal-hal yang diinginkan?" Rafa menyela dengan cepat, dan diselipi dengan senyuman nakal dibibirnya.


Hanna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Bukan, tapi karena itu."


Hanna melirik ke arah kamera pengawas yang berada dipojok seberang kamarnya. Rafa mengikuti arah pandangan Hanna, tapi tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Hanna.


"Selain lewat beberapa karyawan disini, mungkin om Adit mungkin juga ngecek keadaanku lewat cctv itu. Jadi kalo aku ngajak kak Rafa atau sembarang orang masuk ke kamar, tamat sudah riwayatku."


"Papa? Mantau kamu dari situ?"


"Mungkin. Aku bilang mungkin, kak. Kalo bener iya, pasti bentar lagi kak Rafa akan dapat tel... pon."


Tebakan Hanna ternyata benar adanya. Sebuah panggilan masuk diponsel Rafa dan menampilkan nama papanya dilayar. Keduanya lalu saling menatap, dengan Hanna yang tidak bisa lagi menahan senyumannya.


"Buruan angkat!" Perintah Hanna.


Rafa pun menurut, ia segera menerima panggilan itu dan mengarahkan ponselnya ke telinganya.


"H-halo, Pa?" Rafa menjawab panggilan itu dengan terbata, lalu mendengarkan serentetan kalimat yang diucapkan oleh ayahnya.


"Iya, Pa. Rafa cuma nganterin Hanna ke kamarnya doang, bentar lagi juga Rafa turun."


Rafa menghela nafas setelah panggilan telepon itu berakhir. Sepertinya sang ayah menggunakan cctv itu bukan untuk memantau Hanna saja, tapi juga memantaunya.


"Kenapa pula ada yang nyiptain cctv?" Rafa menggerutu.


Ia lantas menyerahkan tas Hanna yang sejak tadi dibawa olehnya, agar bisa segera kembali ke kamarnya sesuai perintah papanya.


"Aku akan anter kak Rafa ke bandara besok siang."

__ADS_1


"Hm, wajib itu hukumnya." Rafa lalu membungkuk dan mencuri sebuah ciuman dipipi Hanna.


"Papa enggak akan marah hanya karena ciuman dipipi. Good night, sayangku!" Rafa berbisik lalu segera melangkah pergi dari depan kamar Hanna dan melambaikan tangannya ke arah cctv.


__ADS_2