Back To You

Back To You
Chapter 167


__ADS_3

Rafa melangkah keluar dari terminal kedatangan. Nampak Abangnya dan juga Abby yang telah menunggu kedatangannya. Abby langsung melepas gandengan tangan ayahnya.


"Om Rafa!" Teriak Abby sambil berlari ke arah Rafa.


Rafa langsung memeluk dan menggendong Abby.


"Kenapa om Rafa naik pesawat tapi enggak ngajak Abby?" Abby bertanya dengan polosnya.


"Abby kan sekolah. Lagian om Rafa sama Papa pergi naik pesawat kan buat kerja, bukan buat jalan-jalan."


"Tapi Abby pengen naik pesawat lagi."


"Iyaaaaa... nanti kalo adik bayi diperut tante Eowyn udah lahir, kita jalan-jalan naik pesawat lagi ya. Oiya, om Rafa beliin oleh-oleh buat Abby."


"Buat Zayn?"


"Zayn juga ada dong! Cuma adik bayi yang masih diperut tante Eowyn yang enggak dikasih oleh-oleh sama om Rafa."


"Oleh-oleh apa?" Abby bertanya dengan penuh penasaran.


"Rahasia dong! Nanti kita buka di rumah ya, pokoknya ada banyak."


"Asiiikkkk!"


"Mau langsung balik kan?" Tanya Rayyan yang kini telah menghampiri Rafa.


"Iya, Bang."


Rayyan langsung menarik koper adik bungsunya itu, membimbing Rafa untuk mengikutinya berjalan menuju parkiran. Membiarkan putrinya melepas rindu pada om-nya yang tidak ditemuinya selama beberapa hari ini.


...****************...


"Wiihhh... wajah tampak berseri-seri!" Goda Zahra saat Rafa baru saja masuk ke dalam rumah.


"Dan tercium aroma bukan jomblo lagi." Imbuh Eowyn.

__ADS_1


"Lebih ganteng ya kan sekarang?"


"Tapi masih gantengan suami gue!" Jawab Eowyn sambil berlalu menuju dapur untuk membantu mama dan Zahra yang sedang menyiapkan makan malam.


Rafa mengekori Eowyn, dan langsung menghampiri mamanya yang sedang mencuci sayuran di wastafel. Rafa langsung memeluk mamanya dengan wajah sumringah yang tidak bisa ditutup-tutupinya lagi.


"Sekian lama dicari sampai pusing, taunya diumpetin papa sama Abang di Lombok ya, Fa." Ucap mama Salma.


"Jadi mama juga baru tau?" Rafa melepaskan pelukannya, merasa tak percaya jika mamanya baru mengetahui keberadaan Hanna sekarang.


Mama Salma mengangguk. "Hm, mama baru tau waktu Rayyan bilang kamu masih mau stay di Lombok gara-gara ada Hanna disana. Eowyn sama Zahra juga baru tau."


Rafa terdiam, lalu menoleh ke arah Abangnya yang sedang duduk di meja makan sambil asik memakan apel ditangannya.


"Kalo mama tau dari awal, pasti mama udah kasih tau kamu, Fa." Imbuh mama Salma yang membuyarkan lamunan Rafa.


"Kok bisa sih, Bang?"


Rayyan mengangkat kedua bahunya dan menjawab dengan santai. "Aku cuma ngejalanin perintah Papa. Oh, dan parahnya Rafa nuduh aku selingkuh di Lombok hanya karena aku terima telpon diam-diam. Padahal itu telpon dari Hanna."


"Y-ya, mana Rafa tau, Bang. Begitu ada telpon Abang langsung ngejauh, gerak-geriknya mencurigakan."


"Demi Allah itu telepon dari Hanna, sayang. Kamu jangan kepancing omongan Rafa dong."


"Udah, ini malah jadi berantem gini." Mama Salma menengahi, lalu menyuruh Rafa untuk membersihkan diri. "Kamu mandi dulu sana."


"Rafa mau ketemu Papa dulu. Papa dimana, Ma?"


"Di taman belakang. Tadi sih katanya mau nyiram sama nyabutin rumput yg numbuh di pot."


Setelah mencium pipi mamanya, Rafa bergegas menuju taman belakang. Dilihatnya sang papa yang sedang menyirami tanaman kesayangan mamanya itu


"Pa...." Rafa menyapa dari arah belakang, yang membuat papa Adit menoleh ke arah sumber suara.


"Hm? Udah sampai?" Papa Adit segera menghentikan acara menyiram tanamannya dan mematikan kran air.

__ADS_1


"Iya, barusan sampai, Pa."


"Semua berjalan sesuai harapan?"


Rafa terdiam sejenak, mencoba mencerna apa maksud pertanyaan dari papanya.


"Kalo yang Papa maksud soal kerjaan, semua berjalan dengan lancar dan sesuai rencana. Abang juga pasti udah melapor ke Papa. Tapi...."


Papa Adit menoleh ke arah Rafa yang menghentikan perkataannya, dan menatap wajah putra bungsunya dengan seksama.


"Tapi kalo soal Hanna, Rafa belum bisa pastikan semuanya berjalan sesuai dengan rencana."


"Jadi, Hanna masih ragu sama kamu?"


Rafa menggelengkan kepalanya. "Bukan itu maksud Rafa, Pa. Hanna... bisa dibilang kami udah balikan. Tapi Rafa masih belum minta restu dari tante Widya dan juga Wildan. Mungkin itu akan sulit, tapi Rafa enggak mau nyerah, Pa."


"Hm, memang seharusnya begitu kan? Wildan pasti enggak akan dengan mudahnya bilang iya saat kamu minta ijin untuk nikahin Hanna lagi, tapi itu wajar. Karena dia sekarang kepala keluarganya, dan dia bertanggung jawab atas anggota keluarganya."


Rafa mengangguk, lalu melangkah maju untuk memeluk papanya. "Makasih banyak, Pa. Makasih banyak karena udah bantuin Rafa."


"Bantuin apa?" Papa Adit menjawab dengan canggung dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Rafa.


Rafa melepaskan pelukannya, lalu menjawab pertanyaan papanya dengan senyuman dibibirnya.


"Ya kan Hanna mau pulang karena Papa yang ngebujuk, Hanna ada di Lombok juga karena Papa. Pokoknya makasih banyak udah selalu bantuin Rafa."


"Papa enggak ngelakuin itu buat kamu."


Jawaban papa Adit barusan langsung membuat senyuman dibibir Rafa hilang seketika.


"Papa ngelakuin ini semua demi Papa sendiri." Papa Adit melirik ke arah Rafa yang masih mematung di depannya.


"Papa enggak mau mama terus-terusan enggak bisa nyenyak tidur dan gelisah karena mikirin kamu waktu di Bristol. Kamu tau kan, sejak kecil kamu selalu caper ke mama? Dan sekarang kamu udah hampir tiga puluh tahun, seharusnya bukan mama yang khawatir ke kamu sampai segitunya."


"Ck, ternyata karena cemburu." Rafa bergumam, tapi kembali memeluk papanya lebih erat dari yang tadi.

__ADS_1


"Rafa enggak peduli apa alasan papa, yang penting bagi Rafa, Papa udah bantuin Rafa buat dapetin Hanna lagi."


Papa Adit menepuk punggung Rafa dengan perlahan. "Ini kesempatan terakhirmu, Fa. Jangan buat kami kecewa lagi. Diusiamu yang sekarang, udah seharusnya kamu enggak main-main lagi kayak dulu lagi. Kamu udah belajar soal kehilangan Hanna, jadi sekarang kamu harus belajar buat mempertahankan dia."


__ADS_2