Back To You

Back To You
Chapter 102


__ADS_3

Semuanya terasa begitu cepat. Setelah kabar meninggalnya ayah Hanna tersebar dan pihak keluarga mengurus perihal pemakaman, secepat itu pula semua prosesnya dilalui dengan cepat.


Malam ini, mau tidak mau Rafa akan tidur di rumah orangtua Hanna. Dalam keadaan begini, tentu Hanna tidak ingin meninggalkan rumah dan juga ibunya. Dan Rafa tidak ingin meninggalkan Hanna. Selain karena tidak ingin menimbulkan berbagai macam spekulasi, Rafa juga mengkhawatirkan kondisi Hanna.


Setelah dokter memberitahukan jika ayahnya telah tiada, tak lama setelahnya Hanna jatuh pingsan dipelukan Rafa. Bahkan saat ayahnya akan dimakamkan, lagi-lagi Hanna pingsan. Rafa bahkan harus menggendongnya dan membawanya ke mobil agar Hanna bisa cepat sadarkan diri.


Rafa tidak mungkin meninggalkan Hanna dalam keadaan seperti itu. Statusnya yang sah sebagai suami Hanna tentu saja mengharuskan dirinya untuk tetap berada disisi Hanna dalam kondisi apapun.


"Suap lagi, Han. Elo belum makan dari siang, dan sekarang lo cuma makan dua sendok doang. Pikirin kondisi elo sendiri, jangan terlalu larut dalam kesedihan begini."


"Kak Rafa bisa enteng ngomong begitu, karena kak Rafa belum ngerasain gimana rasanya ditinggal sama orang tua." Ucap Hanna sembari mengusap air matanya yang kembali keluar.


Waktu telah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, dan Hanna baru mau dibujuk untuk makan oleh Rafa. Tapi sabar bukanlah sifat yang dimiliki oleh Rafa, tetapi kini lelaki itu harus mulai mengenal dan belajar sabar untuk menghadapi Hanna.


Ia merasa lelan. Seharian ini tidak ada waktu istirahat untuknya karena harus mengurusi Hanna dan pemakaman ayah mertuanya, dan kini masih harus menghadapi Hanna yang susah makan karena kesedihannya

__ADS_1


"Iyaaaa... gue emang belum pernah ada diposisi lo sekarang. Tapi tolonglah makan yang agak banyakan lagi, lo bisa sakit kalo begini caranya."


Rafa bisa saja berteriak kepada Hanna, atau bersikap bodo amat seperti biasanya. Tapi kali ini, ia tidak bisa melakukannya. Mereka sedang berada di rumah orangtua Hanna, dan Hanna sedang dalam suasana duka karena kehilangan ayahnya. Jadi meskipun ia merasa lelah dan ingin marah, Rafa harus tetap menahannya.


"Kalo lo sakit, ntar kasian bunda." Rafa kembali menyendokkan makanan dan diarahkan kedepan mulut Hanna.


"Ayah udah tenang disana, udah enggak sakit lagi. Elo boleh sedih, tapi jangan lupa sama kesehatan diri lo sendiri. Elo juga harus nguatin diri untuk bantuin Wildan nguatin bunda. Kalo lo kayak gini terus, yang ada ntar elo makin kurus. Aaaaa... makan lagi, seenggaknya makan setengah porsi deh." Rafa masih berusaha untuk membujuk Hanna.


Hanna kembali mengusap air matanya. Meskipun tidak berselera untuk makan, tapi akhirnya dia menuruti perkataan Rafa. Ya, Rafa memang benar. Dirinya harus segera menguatkan diri agar bisa menguatkan ibunya. Ibunya bahkan bisa sekuat tenaga untuk tetap tegar padahal harus ditinggal separuh jiwanya, sementara Hanna malah dua kali pingsan. Dan pasti membuat ibunya kebingungan.


Rafa mendongak ke arah Hanna yang berada dihadapannya. Mata Hanna begitu sembab, hidungnya bahkan memerah karena terlalu sering digosok dengan menggunakan tisu.


"Keputusanku masih sama kayak semalem. Aku enggak mau kak Rafa bertahan sama aku hanya karena keluargaku lagi dalam kondisi berduka. Kak Rafa enggak usah terbebani sama status kita, aku bisa jelaskan semuanya ke bunda dan kak Wildan."


Rafa menghela nafasnya, tidak menyangka Hanna masih saja mengungkit perihal perpisahan mereka.

__ADS_1


"Itu bisa dipikirin ntar enggak sih, Han? Udah gue bilang, elo fokus sama diri lo dulu." Rafa sedikit kesal, hingga ia meletakkan piring makan Hanna di nakas dengan cukup keras.


"Elo mungkin akan baik-baik aja dengan perpisahan kita, tapi enggak dengan keluarga kita, Han. Terlebih... pernikahan kita baru jalan delapan bulan, Han. Masa iya kita udah mau pisah aja."


"Emangnya ada patokan harus berapa lama kalo mau pisah? Yang beberapa jam terus cerai juga ada kan?"


Hanna menerima uluran segelas air minum dari Rafa. Pembahasan mereka kali ini sebenarnya serius. Tapi karena sejak awal pernikahan mereka hanya main-main saja, mungkin menjadi penyebab keduanya bisa membicarakan hal ini dengan begitu santainya.


"Kan gue kemarin udah bilang, seenggaknya sampai lo lulus kuliah dulu."


Hanna tersenyum tipis. "Kak Rafa enak, banyak cewek yang mau dideketin meskipun udah pada tau kalo kak Rafa punya istri. Lah, aku? Begitu tau aku udah bersuami, pada mundur teratur semua."


"Kayak banyak yang deketin aja." Rafa terkekeh sembari mengambil gelas. "Selama masih berstatus jadi istri gue, jangan macem-macem. Ntar kalo elo ketahuan genit sama cowok lain, nama elo bisa langsung jelek. Cukup gue aja yang ngelakuin kesalahan, elo cuma harus bertahan aja. Udah, buruan tidur. Istirahat, jangan nangis mulu karena wajah elo jadi jelek gini. Gue balikin piring dulu ke dapur."


Hanna menatap punggung Rafa yang bergerak meninggalkan kamarnya. Mungkin memang Hanna harus menyerah sekarang. Karena sepertinya, Rafa tidak akan membuka hatinya dan memberikan kesempatan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2