Back To You

Back To You
Chapter 65


__ADS_3

"Capek?" tanya Rafa sambil menyodorkan botol air minum kepada Hanna.


Gadis itu baru saja mengakhiri keseruannya bermain Pump It Up entah berapa lama tadi. Rafa hanya menunggui Hanna disamping mesin itu, sesekali tersenyum saat Hanna mulai menggila dengan gerakannya.


Hanna tidak menjawab. Dia terlalu lelah untuk mengeluarkan kata-kata, hingga akhirnya memilih untuk meneguk minuman yang disdorokan Rafa padanya.


Bukan hanya lelah dan keringat yang bercucuran, kaki dan pinggang Hanna bahkan terasa pegal. Entah kapan terakhir dia bermain disini, tapi kali ini Hanna benar-benar menikmatinya.


"Capeklah. Kak Rafa tau sendiri tadi aku udah kayak apaan." Hanna menjawab dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Lo badan segitu aja ngos-ngosan. Padahal badan kurus kan gampang gerak kesana-sini."


"Bukan masalah kurus atau enggak tau, kak. Kak Rafa cobain aja tuh, biar enggak seenaknya ngoceh mulu."


"Ogah, malu gue diliatin banyak orang. Apalagi kan gue ganteng, ntar jadi menimbulkan kerumunan disini."


Kalau sudah seperti ini, Hanna tentu saja malas untuk menimpali. Lagian juga percuma saja, karena Rafa pasti punya sejuta cara untuk menyombongkan diri.


Hanna beranjak dari kursi yang didudukinya bersama Rafa. Tapi kemudian, dia terduduk kembali sambil menyembunyikan wajahnya dibalik lengan Rafa.


"Lo ngapain sih, Han?"


Rafa menoleh ke arah Hanna, tapi kemudian beralih ke arah lain saat sebuah suara terdengar memanggil nama Hanna.


Tahu jika Hanna tidak mau berurusan dengan anak laki-laki itu, Rafa kembali menoleh pada Hanna dan meminta gadis itu untuk tidak bersembunyi.


"Hanna... ternyata lo disini."


"Oh, hai Dani." sapa Hanna dengan senyum canggungnya. Sedangkan Rafa tampak menikmati pertemuan Hanna dan temannya yang tidak diinginkan itu.

__ADS_1


"Gue tadi ngechat elo, tapi enggak lo bales dari pagi."


"Ahh... hape Hanna ada sama gue." Rafa menjawab ucapan Dani dengan cepat, lalu merogoh crossbody bag-nya untuk mengambil ponsel Hanna.


Rafa memang membawa donpet dan ponsel Hanna sejak turun di parkiran mall tadi. Hal ini karena ia tadi melarang Hanna memakai sling bag-nya, katanya karena Hanna kelihatan terlalu feminim.


"Ehh, iya. Hape gue... dibawa sama kak Rafa."


"Sorry, gue enggak tau kalo lo lagi jalan sama kakak lo."


"What? Kakak?" Rafa langsung berdiri dan berhadapan dengan Dani. "Lo liat baik-baik wajah gue ya, dibagian mananya gue sama Hanna itu mirip sampai lo bilang gue ini kakaknya?"


Dani mundur selangkah, merasa terintimidasi dengan Rafa. Dani bahkan tanpa sadar mengamati wajah Hanna dan juga Rafa secara bergantian, swolah mencoba mencari jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Rafa.


"Kak... udah sih! Diliatin orang tuh, dikira mau berantem." Hanna berucap lirih sembari menarik ujung kaos yang dikenakan Rafa.


"Mirip enggak?" Rafa kembali bertanya pada Dani yang entah kenapa tampak ketakutan padanya.


"Hanna ini pacar gue. Awas aja kalo lo asal ngomong lagi."


Setelah mengeluarkan ultimatumnya, Rafa segera menggandeng Hanna pergi dari hadapan Danni. Meninggalkan Dani yang masih terkejut, tidak mempercayai jika Hanna telah memiliki kekasih. Padahal selama ini Hanna selalu berkoar-koar tidak memiliki pacar.


......................


"Dia ngedeketin elo kan?" tanya Rafa begitu keduanya telah berada di salah satu tempat makan.


Hanna menjawabnya dengan anggukan kepala sambil memilah menu makanan dibuku menu.


"Jangan sama dia, Han. Pokoknya jangan, lo bisa dapet yang lebih dari dia."

__ADS_1


"Apaan sih, kak?" Hanna meletakkan buku menunya dengan kesal. "Aku kan cuma bilang kalo dia yang lagi deketin aku, tapi aku kan enggak bilang kalo aku nerima dia." Hanna mengerucutkan bibirnya.


"Dia gue gituin aja takut, Han. Gimana nanti dia bakal ngelindungin elo? Terus juga... dia ngerokok."


"Hah? Kak Rafa jangan asal nuduh deh. Dia itu terkenal kalem di sekolah, mana mungkin dia ngerokok?"


"Oiya? Hahahahaha.... Gue enggak asal nuduh, Han. Gue nyium sendiri bau rokok dari nafasnya dia. Kalo lo enggak percaya, lo cium aja dia. Pasti kerasa kok mana orang yang ngerokok mana yang enggak." Ucapan Rafa barusan membuat Hanna melotot tajam ke arah Rafa.


"Eh, jangan deh. Pokoknya jangan sekali-kali lo mau disentuh sama dia." imbuh Rafa.


Hanna tidak mempedulikan Rafa. Lebih baik dia memanggil pelayan saja dan segera memesan makanan dari pada harus mendengarkan ceramah dari Rafa.


Setelah selesai dengan pesanannya, Hanna melihat ke sekeliling tempat makan yang tampak ramai dijam makan siang itu. Terlihat satu sosok wanita yang Hanna kenal, membuat Hanna begitu sama memanggil namanya sambil melambaikan tangannya.


"Kak Alita!"


Seruan Hanna barusan bukan hanya mengagetkan pengunjung di sekitar mereka, tetapi juga Rafa. Lelaki itu menoleh sekilas ke arah Alita yang sedang tersenyum kepada Hanna.


"Ngapain sih, Han, lo panggil Alita kesini?" bisik Rafa sambil mencubit punggung tangan Hanna.


"Iihhh... kak Rafa enggak boleh ngehindar tau! Kan waktu itu kak Rafa bilang sendiri katanya pengen temenan baik sama kak Alita."


"Tapi gue belum siap buat ketemu Alita." bisikan Rafa terdengar seperti orang yang sedang mencontek saat ujian. Wajahnya juga nampak bingung, merasa guguk karena bertemu dengan Alita.


"Telat! Kak Alitanya udah kesini."


Dan tak lama kemudian, hidung Rafa mulai membaui parfum khas yang selalu dikenakan oleh Alita. Membuat hatinya terasa nyeri karena teringat jika dirinya bukan siapa-siapa lagi untuk Alita.


Hanna dan Alita tampak heboh untuk saling menyapa, seakan lupa jika didekat mereka ada seseorang yang sedang mengontrol detak jantungnya agar kembali normal, dan berharap raut wajahnya tidak tampak seperti orang yang gagal move on.

__ADS_1


"Hai, Fa. Udah lama banget kita enggak ketemu."


Akhirnya, Rafa kembali mendengar suara Alita. Suara yang begitu dirindukannya tetapi juga dihindarinya sebulan ini. Dan sekarang ia tidak hanya mendengar suara Alita, tetapi juga orangnya.


__ADS_2