
"Kanesh."
Rosé memanggil entah sudah ke berapa kali saat tubuhnya direngkuh kokoh oleh suaminya sepanjang malam tanpa menutup mata sedikitpun. Vee, masih dengan keterkejutannya mendengar semua kisah yang Rosé buka lebar di depan telinganya, pun perasaan bersalah menyeruak ramai hingga membuat ia secara cuma-cuma membenarkan perkataan Hana—bahwa ia tak begitu keras memperjuangkan Rosé sedari dulu.
Sedangkan Rosé tahu betul yang dirasakan Vee. Tak mau memaksakan Vee untuk paham atas kondisinya. Ia yakin Vee teramat sangat tertekan. Seolah semua dari sudut pandang menyalahkan pria itu. Rosé tidak bermaksud, jujur, bahkan Rosé merasakan bahwa semua adalah salahnya.
Bahkan sampi pagi tiba pun, mereka tak mengeluarkan sepatah kata. Tiba-tiba sudah tidur saja dengan perasaan yang ber campur aduk.
"Sayang, bangun."
Rosé yang telah membuka mata terlebih dulu mencoba mengelus rahang tegas Vee yang terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya meskipun kerutan di dahi nampak jelas yang artinya Vee tidak benar-benar nyaman. Rosé semakin merasa bersalah.
Vee menggeliat. Membuka mata perlahan hingga pamandangan pertama yang ia lihat adalah senyum istrinya, hal pertama yang Vee lakukan adalah mencium bibir Rosé singkat, tak ada penolakan berarti dari wanita itu, malahan Rosé memejamkan mata sejenak.
"Aku berpikir semalaman." setelah pangutan selesai, Vee buerujar seperti itu.
Kendati Rosé dibikin mampus karena ekspresi Vee begitu menusuk matanya. Ada kilatan kecewa dimata suaminya, yang sayangnya Rosé sendiri tak tahu apa itu, dan lebih sial nya ia tak mampu untuk bertanya, hanya alis sebelah saja yang mampu ia ekspresi-kan. Pengecut sekali aku ini.
Vee sedikit memberi jarak. Damn. Benar dugaan Rosé. Ada yang aneh dari suaminya. "Apa jadinya jika kamu nrima Daniel waktu itu. Lalu gimana dengan aku?"
Hahahahahahahaha.
Rosé tertawa dalam hatinya. Hambar sekaligus lucu. Iya. Suaminya suka melucu. "Kamu 'kan udah sama Sena."
Giliran Vee yang terpukul talak di ulu hatinya. Namun lega juga. Benar juga ya. Lantas kenapa aku cemburu. Udah jadi istriku ini.
Vee akhirnya tersenyum kotak. Merasa aneh dan malu. Namun melihat ekspresi Rosé yang cemberut membuat Vee mengecup bibir Rosé berulang kali hingga wanita itu sendiri yang melepaskan diri.
"Mau apa? Ngelak ngak bisa 'kan. Kamu duluan lho yang udah bisa move on dari aku. Move up nya ke wanita super cantik pula, uh, seksi pula."
Rosé tidak bisa menolak pesona Sena yang teramat cantik, putih kulitnya seperti porselen hasil impor terbaik, tubuh seksinya bagai model Victoria's Secret namun tak setinggi para model itu juga. Apa lagi dadanya. Uunnch. So hot. Rosé jadi iri saat melihat punyanya yang tak sampai genggaman Vee. Rasanya ingin menangis saja.
"Kamu cemburu."
Rosé bangkit dari tidurnya. "Kamu ngeselin."
Lantas tak mau melihat tubuh Vee yang tak berbalut atasan, Rosé bergegas berlari ke dapur. Meraup udara segar dari luar kamarnya, serta menuntaskan dahaga dengan segelas air putih.
Ada perasaan sedikit lega juga saat melihat Vee melupakan sejenak kejadian tempo hari yang menguras sedikit pikirannya. Mengetahui fakta yang ia beberkan, ia yakin Vee cukup tertekan.
Belum sedetik Rosé memalingkan wajah pada tangga, sosok itu muncul, dengan kaos longgar sebagai atasan. Yaah, dada seksinya tertutup. Vee sedikit berlari menghampiri Rosé yang ia kira marah besar karena tiba-tiba meninggalkannya sendirian. Padahal Rosé tak semarah itu.
"Sayang, jangan marah dong."
Vee mendusel pada ceruk leher Rosé. Memeluk istrinya dari belakang. Rosé tersenyum usil. "Mana bisa aku marah sama kamu. Ih."
"Itu tadi. Kamu tiba-tiba ninggalin aku."
"Duh. Nggak usah melankolis."
__ADS_1
Vee mendengus. "Aku belajar dari pengalaman tau."
Dada Rosé sedikit sesak. Ia tahu maksud Vee. Rosé yang meninggalkannya secara mendadak karena sebuah teagedi. Lantas Rosé membalik badan. Menempelkan kepalanya di dada bidang milik suaminya.
"Maaf."
"Kamu minta maaf, justru aku yang salah tidak tahu apa-apa."
"Itu salahku, Kanesh. Aku nggak ngijinin mereka bilang sama kamu, aku ngancem mereka. Nggak tahunya kamu kesiksa. Maafin aku."
Dada Rosé naik turun. Artinya ia sedang menangis. Tak mudah melakukan semua selama tahunan. Rosé juga tersiksa sama dengan Vee yang ditinggalkannya. Sekali lagi Rosé dengan keras kepalanya yang membuat semua jadi rumit. Rosé sangat sadar.
Terimakasih kak Hana.
Jika tidak Hana yang mendorongnya begitu kuat. Mungkin Rosé hanya akan berdiri di tengah-tengah keegoisan. Hatinya yang teriris terbelah yang tak mampu memilah segala perasaan yang terpecah membuat ia egois untuk nya sendiri maupun Vee orang yang dicintainya. Berpikir bahwa tidak adanya dirinya mampu membuat Vee bahagia, padahal kebalikannya.
Vee lantas tersenyum saja. Mengelus surai Rosé yang sedikit berantakan. "Aku nggak apa apa. Beneran. Kamu disini, itu lebih dari cukup. Aku mau kok meski nunggu sampai kapanpun itu."
"Tapi kamu hampir nikah sama Sena."Rosé berteriak meskipun tersedam oleh pelukan.
Vee tetawa, namun sedikit ditahan. Pikirnya Rosé ini sangat lucu sekali. "Kan hampir. Tapi nggak jadi."
"Kalau kejadian, gimana dengan aku?" Rosé menjeda sembari melepas pelukan. "Oh iya. Aku kan bisa nrima Daniel ya." Sengaja Rosé mengatakan itu, balas dendam.
Benar kan. Vee memberengut, bersendekap dada. Lalu membalik badan.
Ngambek, lagi?
"Astaga, mulutmu sayang. Minta di servis. Siapa yang ngajarin!!!"
Rosea hanya menyengir kuda. Sangat merasa tidak bersalah. Lalu sepersekon selanjutnya membuat Rosé menyesal telah mengatakan perang. Iya, perang ranjang. Vee menggendongnya dalam satu tarikan. "Kita buat kesebelasan."
Benar 'kan, ada ronde.
...****************...
"Maaf udah nunggu lama."
Rosé sedikit terbata saat bokongnya sudah duduk di kursi restoran. Menyapa orang yang pernah diajak nya makan malam bersama dengan tangis sesegukan akibat penolakan seorang pria.
Ya. Dengan restoran yang sama dan orang yang sama pula. Sena. Mantan tunangan suaminya. Dengan balutan santai dress semi floral yang nampak melekat dengan baik di tubuh Sena. Wanita itu kapan tidak cantik sih. Otak Rosé sedikit panas.
"Nggak apa-apa."
Jawaban datar dari Sena membuat Rosé begitu gugup. Rasa bersalah masihlah sangat melekat. Tak begitu mudah melakukan pertemuan saat ia sudah merebut Vee dari wanita itu, ibarat kata, Rosé itu bisa dianggap sebagai perebut pria orang. Atau bukan? Entahlah.
"Vee sangat kacau saat aku pertama bertemu dengannya dulu." Sena tersenyum. Wanita itu begitu tulus saat mengatakannya.
"Aku pikir semua mungkin karena kamu ya, Rose."
__ADS_1
Mendadak Rosé merasakan euforia yang begitu berbeda. Apakah ini sisi sebenarnya dari Sena. Mau dipikir beribu kalipun saat Sena menghinanya dulu, Rosé hanya sedikit sakit hati. Karena ia mengakui yang dikatakan Sena ada betulnya.
"Butuh waktu lama banget buat Vee bisa yakin mau tunangan sama aku. Tau nggak. Aku ngancem dia."
"Ngancem?" Akhirnya Rosé mengeluarkan suara juga.
Sena lagi-lagi tersenyum menanggapi. "Lucu ya, aku aja butuh ngancem cuma buat Vee mau tunangan sama aku, nggak ngancem secara ekstrim sih, aku mau siarin di seluruh media kalau aku cinta sama dia, biar dia malu."
Rosé tersenyum hambar. Perjuangan Sena boleh juga, nggak sepeti aku yang pengecut.
"Maafin aku."
Rosé terperajat saat sena meminta maaf. Tujuan Rosé kesini adalah ia yang akan minta maaf, bukan untuk mendapatkan permintaan maaf.
"Kamu jangan ngomong dulu Rosé. Ini diluar masalah Vee itu. Aku minta maaf, mulutku beneran buruk. Aku minta maaf atas kondisimu karena omongan ngawur dari mulutku. Maafin Marko yang udah ngarang cerita di depan kakakmu. Dia cuma pengen ngelindungin aku, dia sahabatku. Tapi aku udah mukul kepalanya kok. Sekali lagi aku minta maaf. Maaf juga udah ngehina kamu, ngehina Kak Hana. Tapi aku masih sedikit marah sama kamu karena kamu nggak bilang udah tahu kalau aku yang salah. Penusukan itu, aku penyebabnya. Aku seperti seorang pembunuh yang masih membunuh untuk ke dua kali korbanya, tanpa hati nurani, aku ngehina kamu habis-habisan, aku minta maaf."
Sena bahkan menangis untuk itu. Kepalanya memandang ke bawah, tak berani menatap terus terang manik mata milik Rosé. Yang ia tidak tahu, Rosé pun juga sama menangis seperti dirinya. Ini adalah kedua kalinya mereka mendapati keadaan yang sama.
"Sena," Rosé meraih tangan Sena yang ada di atas meja, menggenggam telapak tangan wanita itu.
"Aku berani bersumpah, aku tidak bermaksud menyembunyikan."
Sena menggeleng. "Aku tahu. Kamu orang baik. Bahkan kamu minta aku jagain Vee karena kondisimu. Dari situ aku iri, aku takut jika Vee bakalan balik sama kamu."
"Aku cuma pengemis. Nggak pantes buat Vee. Aku penyebab kamu ninggalin Vee. Aku yakin itu. Maafin aku Rosé."
Yang dikatakan Sena benar. Jika tak ada omongan ngawur dari Sena. Rosé tidak akan tertusuk. Jika Rosé tidak tertusuk. Mungkin hari itu ia pasti akan mendapat kan pelukan dari Vee di depan kampus pria itu. Dan kejadian naas yang membuat Rosé menjadi wanita tidak waras selama lima tahun tidak akan pernah terjadi.
"Aku udah maafin kamu dari dulu, bahkan sebelum aku tahu jika kamu yang nyebabin ini semua. Aku udah pasrah."
Sena mengangguk beberapa kali. Lalu tangan sebelah yang tidak digenggam Rosé meraih sebuah ponsel yang terhubung panggilan cukup lama semenjak Rosé datang ke tempat ini. Sena menempelkan benda itu di daun telinganya. "Masuklah."
Dari arah pintu masuk, Vee datang dengan perasaan tak karuan. Sena sengaja menghubungi Vee. Membeberkan kesalahannya langsung dan membuka panggung untuk Vee dengar secara live di telinganya.
Rosé mencelos. Apa maksudnya? Hanya itu pertanyaan yang mampu ia rangkai dalam otaknya.
"Aku mengaku bersalah." Ucap Sena, bersamaan Vee yang sudah berdiri diantara dua wanita yang masih terduduk dengan mata sembab dan wajah kemerahan.
Vee meraup wajahnya dengan kasar. Kenyataan yang baru saja terkuak membuatnya syok berat. Kenyataan apa lagi ini. Belum cukup ya yang hari kemaren itu. Rahasia apa lagi yang disembunyikan Rosé-nya yang masih belum ia ketahui. ****.
Rosé masih memandang sena dengan ekspresi bertanya. Sena paham.
"Aku tidak mau menjelaskan ulang, intinya aku minta maaf untuk kalian berdua, aku tidak mau repot harus mengulang untuk pengakuan kesalahan, jadi aku tadi udah telfon Vee saat kamu datang kesini, Rosé, tidak apa 'kan?"
Rosé masih sibuk mencerna. Lantas satu-persatu penjelasan dari Sena mampu ia tangkap. "Kamu nggak harus ngelakuin ini, Sen. Aku tidak suka membuatmu jadi buruk dihadapan, Vee."
Sena menggeleng. "Lebih baik menjadi buruk daripada menyimpan dosa, Rosé. Biarkan aku jadi buruk, tak apa."
Lantas Sena bergegas. "Aku harus pergi, kalian makanlah, aku udah nyiapin emu spesial." Mata Sena mengedip satu lalu meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Tanpa Vee dan Rosé tahu. Sena meneteskan air mata lagi, lebih sesak dari sebelumnya. Ia masih, dan masih sangat mencintai Vee.