Back To You

Back To You
Penyebab


__ADS_3

"Kenapa kau melakukannya?" tanya pria berumur kepala tiga yang memiliki tubuh bongsor yang biasanya terlihat imut di wajahnya, namun tidak untuk kali ini, dengan tatapan seolah membunuh dia pun mencengkram beberapa kali kerah kemeja lawan bicaraya yang tak kunjung untuk membuka mulut.


"Apa mau mu? Apa sebenarnya tujuan mu?" Tanya Candra lagi namun tetap tidak ada jawaban.


Seno dan Lucky masuk ke dalam ruangan dimana Candra dan tawannanya berada didalamnya, tak butuh waktu lama untuk kedua orang itu mengenal seorang tawanan yang masih membisu dihadapan bos-nya, tawanan itu pun membolakan matanya terkejut atas kedatangan Seno dan Lucky.


"Kalian? Kalian baik-baik saja?" tak bisa dipungkiri tawanan itu menunjukkan kekawatiran. "Kenapa kalian kemaren lari saat melihatku?" tanyanya lagi.


Seno dan Lucky hanya diam, sungguh tidak tahu harus menjawab bagaimana atas pertanyaan mantan bos-nya dulu, merasa bersalah karena menjadi penghianat, tapi sejauh ini mereka merasa tidak melakukan hal salah, merekapun tidak pernah membocorkan apapun tentang mantan bos-nya.


"Kau tidak usah memperdulikan mereka, kau harus memperdulikan nasibmu sendiri! Apa tujuanmu menyuruh mereka mengambil photo adikku?" Candra angkat bicara lagi.


"Baiklah, aku akan menjawab rasa penasaranmu." jawab tawanan itu, tangannya yang di ikat di belakang tidak membuat gentar sekalipun, dengan mata menyorot tajam ke arah Candra, perlahan tawanan itu bersimpu.


"Kalian berhianat padaku? Aku tahu sekarang, terimakasih telah melakukannya, berkat kalian aku bisa menebus kesalahanku." ucap tawanan itu seraya mengedarkan pandangannya ke arah mantan anak buahnya, Seno dan Lucky pun sangat kesulitan untuk mencerna perkataan mantan bis-nya.


"Dan untukmu tuan Candra," Tatapan tawanan itu berubah menjadi sendu seketika, menyimpan beribu kesalahan yang terpendam sampai saat ini. "Maafkan aku, aku yang menyebabkan adikmu tertusuk lima tahun yang lalu."


Candra sangat geram, matanya memerah menahan amarah, pria didepannya telah mampu menghancurkan masa depan ­­­­­­­­­­­orang yang dicintainya. "Apa tujuanmu, Marko Sbastian?" tanyanya penuh dengan penekanan disetiap kalimat.


Marko menghembuskan nafas sejenak, beban di pundaknya begitu berat. Seno dan Lucky yang melihatpun seperti tidak menyangka akan perbuatan Marko, setau mereka pria itu adalah orang baik.


Seandainya mereka tahu dari awal bahwa mantan bos-nya itu tenyata orang di balik penusukan gadis yang beberapa tahun ini dijaga oleh mereka, maka tidak segan mereka akan mengatakannya pada Candra, namun mereka malah menjunjung tinggi asas anti penghianatan—mereka menyesal.


"Aku tidak punya tujuan tuan Candra, aku penyebeb!!" jelas Marko lagi.


Sekarang Candra mulai menangkap maksud dari pekataan Marko yang terlewat serius itu, ia mulai tertarik. "Baiklah, bagaimana kau bisa menjadi penyebab?"

__ADS_1


Lagi-lagi Marko mengehembuskan nafas berat, tidak menyangka permintaan maaf yang direncanakan sedari dulu berakhir dengan adegan yang memalukan seperti ini. "Aku akan menceritakan dari awal."


"Cepat!" perintah Candra.


"Waktu itu, aku sedang melintas di sebuah gang, aku melihat dua pria sedang mendiskusikan sesuatu yang sangat serius, sebenarnya aku tidak terlalu mendengar apa perkataan mereka, namun dari cara berpakainnya aku sangat yakin mereka adalah pembunuh bayaran, setelah itu aku langsung saja meninggalkan tempat itu." Marko menjeda sejenak. "tapi aku tidak sengaja menjatuhkan gantungan kunci,-"


"Kuda berwarna ungu?" Candra menyela dengan pertanyaan.


"Iya betul, bagaimana kau bisa tau?" tanya Marko dengan tertegun.


"Itu tidak penting, lanjutkan ceritamu."


Marko merasa bodoh sekali sekarang ini, bagaimana bisa di sangat menurut dengan pria bongsor di depannya ini. Namun dia sadar yang salah disini adalah dirinya, jadi dia harus rela menurunkan harga dirinya.


"Lalu kedua preman itu tiba-tiba sudah berada dibelakangku, menepuk pundakku dan bertanya."


"Hei bocah apa kau pemilik gantungan kunci ini ?" tanya preman itu dengan sangat lembut, mungkin itu taktik seorang preman agar pertanyaannya cepat dijawab.


"Ayolah om, tidak mungkin aku memiliki gantungan kunci seperti itu, tapi aku tau tadi ada seorang gadis berambut ungu melintas sekitar sini, sepertinya dia pemilik gantungan kunci itu." alasan yang sangat brilian menurut Marko, karena tidak disangka preman itu akan mudah percaya.


"Kau tau dia kearah mana, bocah?"


"Ke arah sana, om." tunjuk Marko ke arah minimarket depan Universitas Jakarta Hit.


Lalu kedua preman itu berjalan sesuai arahan dari Marko, sedangkan Marko yang penasaran memlilih untuk mengikuti dari belakang dengan santainya, ia merapalkan Doa semoga saja tidak ada gadis dengan warna rambut ungu, warna itu sangat langka saat itu, jadi Marko memang membuat alasan yang sangat mustahil nyata adanya, setidaknya itu yang sempat terlintas di otaknya.


Marko sesaat mengabaikan kedua preman yang agak jauh darinya, namun tidak begitu lama banyak teriakan dari orang-orang yang persis di depan minimarket, Marko yang penasaran langsung berlari pada sumber suara

__ADS_1


Seketika kaki Marko melemas, dia tahu betul pisau yang telah tertancap sangat dalam pada perut wanita cantik yang sialnya berambut ungu.


Marko merasa dunianya hancur, saat itu ia hanya bisa menyebut dirinya adalah seorang pembunuh. Dia tidak pernah menyangka bahwa perkataan ngawurnya bisa mebuat nyawa seseorang melayang.


"Saat itu aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku memang mengikuti ambulan yang membawa gadis itu, namun setelahnya aku hanya mendengar dokter Joan yang kebetulan tidak sengaja mengatakan bahwa dirinya baru saja mengoperasi gadis dengan luka tusukan, aku juga mendengar gadis itu di pindah rawatkan di Amerika."


"Bagaimana kau bisa mengenal dokter Joan?" Tanya Candra.


"Dia teman kakak-ku sesama Dokter," jawab Marko terus terang.


"Dan satu lagi, kau juga tidak sopan memphoto gadis yang sekarat dengan pisau yang masih menancap, brengsek," ucap Chanyeol bergetar dengan umpatan diakhir.


"Maafkan aku."


"Lucky lepaskan ikatannya." perintah Candra tiba-tiba, namun Lucky tidak segera melaksanakannya.


"Apa kau tuli, ha?" Bentak Candra geram.


Lucky pun sangat terkejut, Candra dihadapannya sekarang sangatlah menyeramkan, ini pertama kalinya. Dengan sigap pun ia segera saja membuka ikatan di tangan Marko.


"Marko, kau bisa meninggalkan tempat ini, bawa rasa bersalahmu untuk selama-lamanya, mungkin adikku bisa memaafkanmu, tapi aku tidak."


Marko berdiri, dengan tatapan penuh tanda tanya. "Tapi....."


"Pergilah, aku tidak akan mengusikmu lagi." Tatapan Candra beralih pada Lucky dan Seno. "Lucky, Seno, kalian sekarang bebas, pergilah sesuai keinginan kalian, aku rasa Alyne sudah aman," imbuhnya memerintah.


"Maaf bos, saya tidak bisa, saya akan tetap berada di samping nona Rosé."

__ADS_1


"Saya juga," sambung Seno setelah mendengar penolakkan Lucky.


Candra tersenyum ringan. "Marko apa yang kau tunggu, pergilah sekarang juga, jangan pernah menemui adikku, aku memperingatkanmu," tunjuknya tepat di depan mata Marko.


__ADS_2