
Ini adalah hari keempat Alita menghindarinya. Rafa merasa waktu berjalan begitu lama sekali. Sebagian besar waktunya ia habiskan untuk merenung di rumah. Rafa mencoba mengingat segala kejadian sebelum hingga mengantarkan Alita pulang setelah makan malam romantis itu.
Rafa merasa tidak berbuat kesalahan apapun. Alita bahkan memberinya sebuah ciuman sebagai ucapan terima kasih saat mengantarnya pulang. Taoi entah mengapa Alita menjadi berbeda pada pagi harinya.
Rafa memang menuruti kemauan Alita untuk tidak menelpon dan juga bertemu dengannya. Tapi Rafa rutin mengirimkan pesan singkat untuk Alita. Meskipun tak semua pesan dibalas oleh Alita, tapi Rafa merasa bersyukur gadis itu tidak sepenuhnya mengabaikannya. Rafa pun juga harus ekstra sabar demi menanti balasan pesan yang ia kirimkan untuk Alita.
Seperti biasa, selesai ujian semester hari ini Rafa berniat untuk memata-matai Alita di kampusnya. Melihat temannya terlihat murung dan buru-buru pulang beberapa hari ini, William akhirnya buka suara.
"Lo kenapa sih? Beberapa hari ini pengennya balik cepet mulu? Ada masalah di rumah?" tanya William penasaran. Namun pertanyaannya tadi hanya dijawab gelengan kepala oleh Rafa. Lelaki itu justru terfokus mengetik pada layar ponselnya.
"Nongkrong dulu yuk, Fa. Ntar pas liburan semester kan lo kerja di kantor bokap lo lagi, pasti bakal jarang nongkrong sama kita lagi."
Rafa mendesah kesal. "Gue enggak bisa, Wil. Enggak bisa pokoknya."
"Kenapa sih? Lo sekarang jadi uring-uringan gitu? Lagi berantem sama Alita?"
Rafa yang akan beranjak dari tempat duduknya langsung mengurungkan niatnya. Rafa kembali mendaratkan bokongnya pada kursi yang telah ia duduki selama sembilan puluh menit tadi.
"Gue enggak tau kenapa Alita tiba-tiba ngediemin gue. Dia juga enggak mau ketemu sama gue, Wil." Rafa akhirnya berkeluh kesah juga kepada William.
Mungkin ini adalah cara yang tepat. William adalah teman Alita. William pasti dapat membantu Rafa meluluhkan kembali Alita.
"Eh? Kok bisa? Lo bikin salah apa sama dia?" Wajah William berubah serius, dia bahkan mendekatkan kursinya pada Rafa untuk mendapat penjelasan lebih lanjut.
"Kalo gue tau salah gue apa, gue enggak bakal cerita sama elo dan uring-uringan kayak gini, Wil." Rafa menghela nafasnya. Nampaknya William tidak dapat membantunya kali ini.
__ADS_1
William merogoh ponselnya disaku celana, lalu sibuk men-scroll layar ponselnya. Mengetahui hal itu, Rafa menjadi geram. Ia kira Rafa sedang berpikir untuk membantunya, nyatanya malah sibuk dengan ponselnya.
"Sialan! Gue pikir lo bakal bantuin gue." Rafa menoyor kepala William dengan kesal.
"Sabar, nyet! Gue lagi cari tau ini." William melotot ke arah Rafa. Nada bicaranya juga nampak kesal karena tidak terima ditoyor oleh Rafa.
"Ini gue lagi baca-baca lagi chat dia semalem, dia keliatan biasa aja sih. Pas gue nanya soal elo juga dia jawab biasa aja." William kembali mengantongi ponselnya ke saku celana. "Elo... enggak selingkuh kan, Fa?"
Mata Rafa langsung membelalak begitu peetanyaan dari William itu terlontar. Entah bagaimana raut wajahnya sekarang terlihat. Yang jelas, Rafa merasa menjadi kembali ketakutan mengingat kejadian yang kembali melibatkan dirinya bersama Jihan.
"Enggaklah! Gila lo!" Rafa menyanggah dengan keras. Ia melirik jam tangannya untuk menghindari tatapan mata William dan mengurangi kegugupannya.
"Serius, Fa. Gue udah peringatin elo sejak awal ya soal yang satu ini."
"Gue tau!" Rafa kembali mencangklong tasnya dan beranjak dari duduknya. "Gue balik duluan. Gue mau ke kampus Alita."
Disinilah Rafa berada sekarang, memarkir mobilnya di parkiran kampus Alita. Selama empat hari ini, ia hanya memandangi Alita dari kejauhan. Menyaksikan sang kekasih yang sedang menghindarinya itu diantar jemput oleh sopir keluarga Alita.
Entah bagaimana reaksi keluarga Alita saat anak perempuannya itu kembali meminta diantar jemput sopir setelah setahun lebih ini selalu bersamanya. Mungkin nanti saat hubungannya telah membaik dan Rafa mengunjungi rumah orangtua Alita, ia akan mendapat berondongan pertanyaan dari orangtua Alita.
Setelah memastikan Alita pulang bersama sopir, Rafa memacu mobilnya kembali ke rumah. Hari terakhir ujian akhir semester ini memang melelahkan, ditambah lagi dengan memikirkan hubungannya dengan Alita yang sedang mengalami krisis ini.
Kali ini, Rafa memilih untuk mencari keberadaan sang mama terlebih dulu dibanding langsung menuju kamarnya. Ia ingin sekali bercerita pada mamanya, menumpahkan segala perasaan yang telah menumpuk di dada.
"Ma...." panggil Rafa dengan nada lesu sambil menghampiri mamanya yang sedang sibuk dengan ponselnya di ruang keluarga.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu sakit?" tanya mama Salma penasaran saat melihat Rafa yang terlihat tidak bersemangat seperti biasanya itu.
Rafa hanya menggelengkan kepalanya, lalu merebahkan tubuhnya dengan kepala yang bersandar dipangkuan mamanya.
"Ujian hari ini susah banget ya?" Rafa kembali menggelengkan kepalanya. Matanya terpejam, menikmati usapan tangan sang mama dikepalanya.
"Cewek kalo tiba-tiba ngambek biasanya kenapa sih, Ma? Udah Rafa inget-inget kayaknya Rafa enggak berbuat salah, tapi habis dinner itu sampai hari ini Alita ngediemin Rafa."
"Oiya?" mama Salma nampak kaget, lalu diam sejenak untuk berpikir. "Kamu udah cek kan foto-foto yang kamu cetak diselimut itu? Jangan-jangan ada foto kamu sama mantanmu yang nyelip, Fa."
Rafa berdecak kesal. "Udah berulang kali, Ma. Kan mama udah liat sendiri waktu itu, sambil nanya-nanya itu foto-foto diambilnya pas kapan. Lagian Rafa udah ganti hape, Ma. Enggak mungkin juga Rafa masih nyimpen foto-foto mantan."
"Hmm... mama enggak yakin sih, Fa. Yang jelas kalo cewek marah sampai ngediemin gitu, pastinya kamu ada salah. Kamu yakin enggak bikin kesalahan ke Alita?"
"Udah Rafa inget-inget, Ma. Rafa enggak berbuat salah apapun."
"Enggak ada yang kamu rahasiain sama Alita kan? Atau sama mama?" selidik mama Salma.
Rafa diam sejenak. Rahasia ya? Tiba-tiba saja ingatannya memunculkan memory kebohongan yang ia lakukan belum lama ini. Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Alita tidak mungkin mengetahui hal itu kan? Terlebih, tidak ada orang lain yang mengetahui kejadiannya kala itu.
Belum sempat Rafa selesai dengan pemikirannya, gangguan sudah terlebih dulu datang. Sang pemilik mamanya sudah berdiri di dekat sofa, dengan tangan yang bersidekap di depan dada dan mata yang menyorot tajam padanya.
"Pindah!" ucapan papa Adit barusan terdengar tegas, bahkan lebih mirip seperti orang yang sedang cemburu. "Udah berulang kali papa bilang kan? Udah enggak pantes lagi diumur segini kamu manja-manjaan sama Mama."
"Iya-iya, Rafa pindah ke kamar." jawab Rafa dengan kesal. "Papa sama anak sendiri aja cemburuan banget. Posesif banget mentang-mentang nikah sama daun muda." imbuhnya sambil berjalan meninggalkan ruang keluarga.
__ADS_1
Meskipun mendengar gerutuan yang keluar dari mulut anak bungsunya, papa Adit tidak berniat menimpali. Belum tahu saja Rafa bagaimana rasanya menikahi wanita yang usianya jauh dibawahnya? Belum lagi betapa insecure-nya papa Adit saat dirinya sudah merasa begitu tua sedangkan istrinya masih terlihat muda saja.