Back To You

Back To You
Chapter 164


__ADS_3

"Oh, dan lagi, kita tidak dalam satu hubungan yang mengharuskanku untuk menjaga jarak dengan cowok lain."


Rafa terdiam, lalu mengucapkan permintaan maafnya dengan suara lirih.


"Lanjutkan makan siang dan kerjaanmu. Aku mau balik ke kamar." Rafa memundurkan kursinya, dan beranjak dari duduknya.


Mungkin memang seharusnya ia kembali ke kamarnya. Malah seharusnya ia ikut abangnya kembali siang ini karena ternyata segala sesuatunya memang tidak sesuai dengan harapannya.


"Aku selesai kerja jam tiga, Kak." Ucap Hanna yang menghentikan langkah Rafa dan membuatnya menengok kepadanya.


"Satu jam lagi jam kerjaku selesai. Ayo selesaikan semuanya saat jam kerjaku udah selesai. Aku akan kabarin kak Rafa lagi nanti."


Rafa menganggukkan kepalanya, lalu kemudian melanjutkan langkahnya untuk kembali ke kamarnya.


...****************...


Setelah mendapat pesan dari Hanna, Rafa langsung meluncur ke lobi untuk segera menemui Hanna. Hanna bilang akan menyelesaikan semuanya hari ini, dan Rafa sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinannya.


Sejak turun ke bawah tadi, Rafa selalu mengingatkan dirinya sendiri agar tidak melakukan hal bodoh yang malah membuat Hanna semakin menjauhinya. Tidak masalah jika Hanna meminta waktu untuk memikirkannya kembali, asalkan mereka bisa kembali bersama lagi.


"Kita mau kemana?" Tanya Rafa begitu bertemu dengan Hanna.


"Kemana lagi? Disini cuma ada pantai kan?" Jawab Hanna dengan menahan tawa.


Keduanya lalu berjalan beriringan, menyusuri jalan yang membawa mereka ke pantai yang lokasinya tak jauh dari hotel.


Tidak ada percakapan diantara mereka. Baik Hanna ataupun Rafa sama-sama sibuk dengan pikirannya sendiri. Setelah memilih tempat nyaman untuk duduk dan menikmati sore di pinggir pantai, barulah interaksi itu mulai tercipta diantara mereka.


"Aku minta maaf untuk kejadian tadi." Ucap Rafa memecah keheningan dan hanya dijawab Hanna dengan anggukan kepala.


"Aku... terlalu berlebihan." Imbuh Rafa.


"Kak Rafa emang selalu begitu kan?"


"Apa?" Tanya Rafa kebingungan.


Hanna hanya mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum ke arah Rafa.

__ADS_1


"Aku emang seperti itu, Han. Terutama... untuk orang-orang yang aku sayangi."


"Jadi... aku harus merasa bangga atau...?"


"Bangga, Han!" Rafa menyela. "Kamu harus bangga karena dapet perhatian lebih dari aku selama ini."


"Tapi... bukannya banyak juga cewek lain yang dapet perhatian dari kak Rafa?"


"Itu dulu." Rafa mendengus kesal. "Kalo kamu ngomong begininya pas aku masih SMA atau kuliah, itu baru bener."


Hanna tertawa sambil menganggukkan kepalanya. "Nyenengin orang dapet pahala kan ya?"


Rafa mengusak rambut Hanna, membuat gadis itu mengomel tapi Rafa tidak mempedulikannya. Tapi kemudian, ekspresi wajah Rafa berubah penuh keterkejutan dan mungkin ada rasa takut.


"Kita harus pergi dari sini, Han." Ucap Rafa sambil berdiri dan mengibaskan pasir pantai yang menempel dicelananya.


"K-kenapa?" Tanya Hanna kebingungan.


"Ada seseorang yang lagi jalan kesini, dan aku yakin... itu akan sangat mengganggumu." Rafa mengambil tas Hanna dan mengulurkan tangannya kepada Hanna agar segera berdiri.


"Siapa?" Hanna menengok ke segala arah, tapi tidak menemukan jawabannya.


"Aku akan jelasin nanti." Rafa membantu Hanna mengibaskan pasir pantai yang menempel dicelana Hanna, membuat Hanna refleks mundur tapi ditahan oleh Rafa dengan genggaman disalah satu tangannya. "Dia-"


Belum sempat Rafa menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara terdengar dengan memanggil nama Rafa. Hanna dan Rafa sontak menengok ke arah sumber suara, ke arah seorang gadis dengan rambut tergerai panjang yang terlihat begitu manis.


"Ah, akhirnya ketemu juga sama kak Rafa disini." Ucap gadis itu sembari berjalan menghampiri Hanna dan Rafa.


Hanna menoleh ke arah Rafa, tentunya ingin meminta penjelasan. Tapi Rafa hanya menatapnya dan mengeratkan genggaman tangannya.


"A-Amelia? Kamu disini?" Rafa berkata dengan terbata-bata, merasa canggung dengan situasi yang tidak diharapkan olehnya.


Amelia menganggukkan kepalanya. "Ada temen aku yang nikah, dan venue-nya ada di deket sini. Kemarin Papi bilang kalo kamu dan Abang Rayyan lagi perjalanan dinas kesini, jadi aku sekalian mampir."


"Oh, gitu ya?" Jawab Rafa dengan lirih.


Amelia melirik ke arah Hanna, memandangnya dari atas ke bawah. Lalu pandangannya tertuju pada tautan tangan Rafa dan Hanna yang tampak begitu erat.

__ADS_1


"D-dia... siapa, kak?" Tanya Amelia sembari menunjuk ke arah Hanna.


"Aku Hanna." Hanna langsung mengulurkan tangannya secepat kilat, sebelum Rafa bersuara untuk mengenalkan dirinya.


"Kamu mungkin pernah denger nama aku sebelumnya." Imbuh Hanna sambil menjabat tangan Amelia dengan antusias.


Amelia menggelengkan kepalanya. Tentu saja dia tidak mengenal Hanna. Bahkan ini adalah kali pertama dirinya bertemu dengan Hanna, bagaimana bisa Hanna mengatakan jika dia mengenalnya?


Hanna tertawa, diikuti oleh Rafa yang juga tertawa untuk mengusir kecanggungan diantara mereka.


"Jadi Hanna ini-"


"Aku mantan istrinya kak Rafa." Hanna kembali menyela mendahului Rafa.


"Dan mungkin... kami akan rujuk kembali." Lanjut Hanna sambil mengangkat genggaman tangannya dengan Rafa ke atas, seolah memamerkannya kepada Amelia.


Rafa langsung menoleh ke arah Hanna. Dadanya langsung penuh dengan kebahagiaan atas jawaban Hanna barusan. Senyuman dibibirnya langsung terkembang dengan lebarnya, dan tentu saja remasan jarinya ke jari Hanna semakin mengerat.


Amelia terlihat masih bingung, malah mungkin dia sedang shock mendengar kenyataan bahwa Rafa sudah pernah menikah. Bahkan sekarang sedang dalam proses untuk kembali bersama.


"M-maaf, aku... bener-bener enggak tau." Amelia berucap lirih. Matanya terlihat jelas jika dirinya sedang kecewa sekarang, tapi dia tetap berusaha untuk tegar.


"Enggak masalah. Lagian pernikahan kami dulu juga digelar sederhana dan hanya mengundang keluarga dekat."


"Seder... hana?" Amelia kembali kebingungan.


Hanna mengerti. Pasalnya pernikahan Rayyan dan Eowyn diadakan dengan pesta yang begitu mewah dan mengundang banyak orang.


"A-apakah karena-"


"Bukan!" Hanna menjawab dengan cepat. Dia mengerti kemana maksud pertanyaan Amelia. "Bukan karena MBA atau kejadian lainnya. Kami menikah dadakan karena kami harus sama-sama segera pergi kuliah ke Bristol. Orangtua kami begitu was-was jika melepas kami begitu aja tanpa suatu ikatan yang sah, jadi... kami menikah hehehehe...."


"Oh, begitu." Jawab Amelia dengan lirih.


Dia memang tahu jika Rafa belum lama pulang dari kuliahnya di Bristol, tetapi ayah dan ibunya tidak memberitahukan kepadanya perihal status Rafa. Apakah orangtuanya juga tidak tahu jika Rafa sudah pernah menikah? Yah, karena dari penjelasan Hanna barusan pernikahan mereka diselenggarakan dengan dadakan dan sederhana.


"Kamu... kesini sama temen-temen kamu kan?" Sekarang giliran Rafa yang bersuara, dan dijawab Amelia dengan anggukkan kepala.

__ADS_1


"Kalo gitu, kami pergi duluan ya. Ada hal lain yang harus kami lakukan sekarang. Jadi, selamat menikmati sunset-nya, Mel." Rafa tersenyum manis ke arah Amelia, lalu berjalan beriringan dengan Hanna pergi meninggalkan Amelia yang masih mematung dengan wajah cemberut disana.


__ADS_2