Back To You

Back To You
Bahagia


__ADS_3

Sena: Rosé, bisakah kau tidak menemui Vee lagi, aku masih memikirkan kejadian tiga hari kemaren saat kau pulang bersamanya.


"Apa sih maunya wanita ini, menyebalkan." gerutu Rosé.


Rosé: Sena, berhentilah mengawatirkan hal yang tidak-tidak, sudah tiga hari ini aku tidur di Rumah Sakit dami keinginan konyolmu itu.


Sena: Aku tidak ingin lagi melihatmu di satu area dengan Vee.


Nafas Rosé tertahan sementara. "Ya Tuhan, gue bisa stres kalau gini terus." sambil mencibir pun Rosé tetap meladeni pesan-pesan konyol dari Sena.


Rosé: Ya, ya, ya, baiklah bayinya Vee, aku turuti.


Sena: Kalau sekali saja aku masih melihatmu bersama Vee, aku akan membongkar Rahasia memalukan dari dirimu.


"Brengsek, benar-benar wanita ini, lama-lama aku mutilasi, beneran!!!!"


Rosé: Hei!! Sena, belum cukupkah mulutmu itu berkata pedas, kau tidak memikirkan kak Hana!! Kau masih bisa berkata hal itu memalukan terlebih calon kakak iparmu mengalaminya juga?


Rosé benar-benar tidak habis pikir dengan Sena. Di pertemuan terakhir di rumah Niko dengan terang-terangan Sena mengatakan kelebihan dia yang akan menghasilkan keturunan untuk keluarga Bellamy.


Tanpa diduga pula, Saroja dengan segan menimpali kesombongan Sena sehingga mampu mengatakan tetap menyayangi Hana sebagai menantu tertua walaupun tidak bisa memberi keturunan.


Sontak saja hari itu menjadi hari yang paling suram yang dialami oleh Rosé. Ia seperti tidak tau diri berada di tengah-tengah keluarga itu. Terlebih kenyataan yang baru saja terdengar dari bibir keriput Saroja langsung menyeruak di memori lama.


Rosé memang tidak pantas untuk Vee, sampai kapanpun tidak akan pantas. Keluarga Bellamy tidak akan pernah punya keturunan apabila Rosé tidak menekan keinginannya dari lima tahun yang lalu. Hal itu cukup untuk Rosé merasa bersyukur telah menentukan keputusan yang tepat .


Sena: Ups!! Maaf nggak sengaja.


"Gue kehabisan kata-kata, wanita ini, gue nggak ngira." Rosé bergidik ngeri.


Rosé: Sudahlah Sen, apa kau tidak sadar kau terlalu konyol, aku tidak akan mengganggu Vee, percayalah padaku.


Sena: Baiklah, inti dari pembicaraan kali ini, Bulan depan aku menikah dengan Vee, datanglah.


"Boleh nggak gue nangis tersedu-sedu."kenyataan pahit menghampiri, yaaah mata Rosé berkaca-kaca.


Rosé: Selamat .


"Sepertinya hari ini gue akan menemuimu mister Vante, gue harus beli minuman dulu." sambil mengusap air mata, Rosé bergeming dengan senyum yang tak terartikan. "Fuuuuh." menghembuskan nafas keatas mengusir kegundahan.


Rosé: Joseph, bagaimana cara menghadapi orang yang selalu mengancam?


"Cepat sekali si kuda membalasnya."


Joseph: Heei!!!! Siapa yang ngancem lo? Gue pengen telepon, tapi lagi rapat.


Rosé mendengus sebal namun juga tersenyum sekilas. "Ciiih, selalu saja berlebihan."


Rosé: Bagaimana kalau dimutilasi, lalu digoreng dijadiin kayak ayam crispy?

__ADS_1


Joseph: Lo jangan gila Lyn!!!! Cepet, ngomong sama gue, siapa yang ngancem lo???


Rosé berdecak menggelangkan kepala. "Memang benar-benar nggak bisa diajak bercanda orang ini."


Rosé: Cukup, lo lanjut aja rapatnya.


Rosé melirik sekilas jam tangan yang terlingkar dilengan kirinya. "Sebentar lagi waktunya pulang, gue nggak sabar ketemu mister Vante."


Yaa memang sedari tadi Rosé sedang berada di ruangan kerja nya di Rumah Sakit. Duduk bersandar pada kursi empuknya. Hari ini ia memutuskan untuk pulang ke apartemen setelah menetapkan diri bersembunyi di Rumah Sakit selama tiga hari.


Joseph: Lo bilang sama gue!!! ATAU, gue ngilang dari rapat. Lo tau 'kan sepenting apa rapat ini.


Rosé memutar bola matanya jengah. "Susah memang berurusan dengan kuda." setelahnya Rosé hanya memijit pelipisnya, menyaring sebentar apa yang harus disampaikan kepada pria yang sudah sangat terlanjur menjadi sahabatnya.


Joseph: Sena?


"Woow, peramal ulung." Rosé menggelengkan kepala melihat pesan tidak sabaran dari pria yang membuatnya mengelus dada sedari tadi.


Joseph: Gue nggak bisa mikir nama wanita lain selain Sena. Bukannya penyebab lo tertusuk udah ketangkep?


Rosé mengrenyit melihat pesan terakhir. "Ni orang belum tau ya."


Rosé: Belum Jo, pria itu bohong. Kak Candra masih nyelidikin.


Joseph: Kok bisa?


"Baiklah gue akan jelasin, dia nggak akan berhenti sampai disini."


Joseph: Iya gue ingat, kalau ngga salah setelah lo sadar dari hilang ingatan 'kan?


Rosé: Yap benar banget, pintarnya kudaku. Sehari setelahnya gue ke Indonesia dan akan memberi kejutan si Vee 'kan. Tapi naas gue tertusuk di depan Universitanya.


Joseph: Saat itu aku bersamamu Lyn, aku tau!! Lanjutkan.


Rosé menepuk Jidat menyadari kebodohannya, jelas saja, saat tragedi mengenaskan waktu itu Rosé memang bersama Joseph yang duduk di kendali Mobil.


Rosé: Hehehehe. Kak Candra baru-baru aja ngomong sama gue. Ternyata orang yang nyebabin gue ketusuk itu pemilik gantungan kunci Kuda berwana ungu, tapi anehnya dia laki-laki. Langsung kan gue bilang ke kak Candra, pemilik gantungan itu perempuan Jakarta.


Joseph: Waaah, kenapa sampai serumit itu. Lalu siapa sekarang yang ngancem lo? Beneran kan, Sena?


"Ya tuhan masih saja ingat." Rosé geram sendiri akhirnya.


Rosé: Joseph, lo harus catat dalam sejarah persahabatan kita. Hari ini hari patah hatinya Rosé Alyne Everleight. Lo tau, gue nangis ini. Bulan depan Vee nikah, asu, hiiikss...Ayo kembali ke Amerika saja Joseph, gue mohon...


Joseph: Selesain terapi lo. Titik.


Rosé membanting ponselnya. "Sama saja, dasar menyebalkan."


...****************...

__ADS_1


James sedang berlari kencang menuju pintu utama Rumah Sakit, namun pemandangan yang didapat adalah seonggok manusia ramping dengan rambut hitam pekat sedang menenteng kantong plastik berisi penuh dengan minuman—yang pasti ber alkohol.


"Hei!! Alyne."


Dari seberang sana terlihat jelas oleh manik mata James seorang Rosé telah menjauhkan ponselnya akibat suara mendadak nan nyaring dari mulut tebal nan sexy milik James.


“Lo ini kenapa sih Jam??”


"Kenapa lo bawa minuman sekantong palstik penuh, lo mau apa?"


James dari sini sedang mengamati Rosé yang sedang berkecak pinggang, si Rosé nya celingukan.


“Gimana bisa lo tau? Lo dimana?”


"Arah jam sembilan."


Dari Kejauhan Rosé melambaikan tangan dengan cengiran bodohnya, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga nya lagi.


“Gue mau nemuin mister Vante, Jam.”


Ah, Sial!!


James menatap Rosé yang berubah menjadi sendu, ia sangat tau arti dari menemui Mr. Vante, ritual rutin mana kala Rosé merasa stress dan ingin bunuh diri, daripada terjadi hal yang iya-iya, maka James memberi anggukan.


"Jangan lupa tutup jendela kamar lo. Tadi gue tidur sana lupa nggak nutup."


“Siap, nanti kalau nggak lupa gue tutup.”


Dari sana Rosé mengacungkan jempol, lalu menutup sambungan telepon. Namun disini James merasa kawatir, sepengetahuannya, Rosé sangat ceroboh dan pelupa. Sampai punggung Rosé tidak kelihatan lagi, James mencoba menggulir kontak ponsel mencoba menemukan seseorang yang bisa dihubungi


"Hallo, Vee kau dimana?”


“Rumah Bang Niko, Jam. Sebentar lagi balik ke apartemen. Ada apa?”


"Baguslah, boleh aku minta tolong?"


“Selagi aku bisa.”


"Bisakah nanti kau mengecek apartemen Rosé? Tolong bantu aku mengunci jendela kamar milik Rosé, aku lupa."


“Mak-sudmu apa Jam?”


"Begini, Rosé akan sedikit mabuk nanti, seingatku, saat keadaan mabuk dia akan berjalan tanpa arah di dalam apartemen, jadi tolong bantu aku ngunci jendela kamarnya, aku takut dia lupa, kau tau sendiri kan dia pelupa akut. Aku ada operasi dadakan."


“Kau ini ceroboh Jam, Haiss, pasword apartemen nya berapa, cepat.”


"040413."


Telepon ditutup sepihak oleh Vee.

__ADS_1


"Kau masih mencintainya ternyata Vee, lihat apa yang akan terjadi nanti." James tersenyum sumringah dengan kaki mendayu pelan memasuki gedung Rumah sakit.


__ADS_2