Back To You

Back To You
Chapter 103


__ADS_3

"Sayang, kamu enggak ngerasa ada yang aneh?" Tanya Zahra pada sang suami, Rayyan.


Sejak ayah Hanna meninggal, Rayyan memboyong Zahra dan Abby untuk menginap di rumah orangtuanya. Hal itu dilakukan agar mamanya bisa terhibur dengan keberadaan Abby dan tidak terus-menerus larut dalam kesedihannya karena kehilangan teman dekatnya.


Sementara Eowyn yang tengah hamil besar akan datang pada siang harinya, dan pulang saat Zach menjemputnya.


Sore tadi, Rafa pulang ke rumah tanpa Hanna. Sang mama memang langsung mengomel karena Rafa meninggalkan Hanna, tapi tentu saja Rafa bisa memberikan alasan yang cukup kuat untuk membela dirinya.


Rayyan yang baru saja menidurkan Abby langsung menatap istrinya itu dengan tatapan serius.


"Aneh kenapa?"


"Rafa malah lebih milih pulang kesini daripada nemenin Hanna di rumahnya. Yaaa... meskipun Hanna yang nyuruh pulang Rafa karena dia pengen tidur sama tante Widya, tapi kan Rafa bisa tidur di kamar Hanna. Bagaimana pun Hanna tetep butuh Rafa untuk nguatin dia."


Rayyan terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh istrinya. "Iya juga sih. Tapi mungkin Rafa juga butuh istirahat. Sejak hari pemakaman itu kayaknya kurang istirahat, jadi mungkin Hanna nyuruh dia balik kesini biar Rafa bisa istirahat sebentar."


"Iya juga sih." Zahra akhirnya memilih untuk membuang prasangka buruknya pada Rafa. "Mereka nikah terlalu cepat. Bahkan sampai sekarang aku suka penasaran gimana pernikahan mereka itu."


"Hahahahaha... ya enggak beda jauhlah sama pernikahan lainnya, cuma mungkin emang mereka bukan tipe pasangan yang suka mengumbar kemesraan. Kamu mau ngomongin kalo mereka enggak pernah posting foto berdua lagi kan?" Rayyan menyolek hidung istrinya dengan gemas.


"Iyaaaa... aneh aja gitu bagiku. Sejak menikah sampai sekarang, aku enggak pernah liat Rafa atau Hanna pasang foto pernikahannya sebagai profile picture atau diposting disosial media mereka. Aku liat mereka juga lebih sering hang out sama temen-temennya, dibeberapa foto malah Rafa kayak lagi jalan-jalan ke Glasgow sendirian."


"Waahhh... istriku ini udah jadi detektif nih kayaknya." Rayyan memiringkan tubuhnya dan mendengarkan penuturan istrinya dengan seksama.


"Aku serius, sayang. Aku kan suka iseng nyocokin foto-foto mereka berdua, dan enggak pernah ada mereka dalam satu lokasi yang sama. Rafa sering posting foto pemandangan di Glasgow, sementara di Hanna sama sekali enggak ada foto yang tag lokasinya di Glasgow."


"Mungkin aja mereka kesana berdua, tapi Hanna enggak tulis lokasinya."


Zahra menggelengkan kepalanya. "Postingan Hanna sekarang itu hanya berupa makanan, tugas dan temen-temennya, sayang. Hampir disemua fotonya selalu ada tag lokasinya."

__ADS_1


"Jadi kamu nyurigain Rafa?"


"Bukan begitu. Aku cuma penasaran aja kenapa mereka begitu? Kan kesannya kayak mereka masih lajang, malah bahaya kan kalo penggoda yang tiba-tiba datang."


"Hahahaha... udahlah, kamu enggak usah musingin soal hubungan mereka. Mereka pasti baik-baik aja kok."


Tak lama terdengar suara ketukan dipintu kamar Rayyan dan suara Rafa yang memanggil nama abangnya itu.


"Nah, panjang umur tuh bocah! Kamu tidur aja, biar aku yang buka pintunya."


Rayyan mengecup kening istrinya, lalu turun dari kasur dan membuka pintu kamarnya sebagian. "Kenapa?"


"Pinjem charger, Bang. Punya gue ketinggalan di rumah Hanna."


"Tunggu bentar." Rayyan lalu berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil charger ponselnya, lalu menyerahkannya kepada Rafa.


"Thank you, Bang."


Rafa mengernyitkan dahinya saat tak melihat profile picture Alita dikontaknya. Bahkan pesan yang ia kirim yang centang satu, dan tentu saja membuat Rafa semakin bertanya-tanya. Mungkinkah Alita memblok nomernya?


Tapi Rafa tetaplah Rafa. Ia masih saja jumawa jika hal itu dilakukan Alita karena Rafa mengabaikannya selama beberapa hari ini. Nanti jika amarahnya sudah mereda, pastilah Alita akan menghubunginya terlebih dulu.


Rafa menjadi tidak memusingkan hal ini, kini ia malah terfokus pada kontak Hanna yang sedang berstatus online saat itu. Dan langsung saja Rafa menekan tombol telepon, padahal ia tahu jika saat itu daya ponselnya sedang diisi.


"Kok belum tidur?" tanya Rafa begitu Hanna menerima panggilan teleponnya.


"Iya, enggak bisa tidur."


Suara Hanna yang terdengar berbeda membuat Rafa berpikir jika Hanna pasti baru saja menangis. Mungkin Hanna menyuruhnya pulang karena dia tidak ingin Rafa melihatnya terus-terusan menangis. Jadi karena sekarang tidak ada Rafa, makanya Hanna bisa menangis dengan leluasa.

__ADS_1


"Kenapa? Karena enggak ada gue ya? Hahahaha...." Goda Rafa berniat untuk menghibur Hanna.


"Sembarangan! Cuma keinget sama ayah."


"Tapi udahan kan nangisnya?"


"Emang kalo belum selesai, kak Rafa mau kesini?"


"Ya kesanalah. Lo enggak inget dua hari kemarin yang ngelapin ingus sama air mata lo siapa? Yang gendong-gendong pas lo pingsan siapa?"


"Suami akulah hehehehe...."


Meskipun dengan nada bercanda, tapi hati Rafa terasa menghangat saat Hanna menyebutnya dengan sebutan 'suami'. Mungkin karena selama ini Hanna tidak pernah memanggilnya dengan sebutan demikian.


"Tidur gih, besok habis sarapan gue kesana. Mau dibawain apaan?"


"Hm, enggak usah. Kak Rafa dateng kesini aja aku udah seneng."


"Duuhh, sekolah di Inggris jauh-jauh dapetnya malah pinter ngegombal."


"Tapi kan ngegombal pada tempatnya, enggak kayak kak Rafa yang ngegombalin cewek lain."


"Udaaahhh... enggak usah dibahas. Gue tutup ya telponnya, hape gue lagi dicas. Ntar kalo kelamaan nelpon bisa meledak, repot gue. Lo jangan tidur kemaleman."


"Hm."


Hanya itu jawaban Rafa, dan Rafa mematikan panggilan teleponnya dengan sebuah senyuman dibibirnya. Ini mungkin kali pertama keduanya bertelepon sejak kepindahan mereka ke Bristol. Karena mereka lebih sering bertukar pesan untuk mengabarkan keberadaan mereka masing-masing atau sesuatu yang lain.


Tak cukup hanya dengan telepon, Rafa mengetikkan sebuah pesan singkat yang menyuruh Hanna untuk segera tidur. Lalu diselipi dengan guyonan Hanna yang tadi memanggilnya dengan sebutan 'suami'. Bagi Rafa, mungkin kalimatnya hanya sebatas candaan. Ia tidak tahu jika pesan singkatnya itu mungkin saja memporak-porandakan hati Hanna malam itu.

__ADS_1


"Tidur woi! Jangan sampai besok pas suaminya datang masih molor ya!"


__ADS_2