
Rafa menggendong Abby untuk turun ke ballroom yang sudah nampak ramai dengan anggota keluarga dan pihak wedding organizer. Mengabaikan beberapa anggota keluarga besarnya yang terlihat heboh dengan kehadiran Abby, Rafa hanya melemparkan senyum pada mereka semua.
Tentu saja Rafa memilih untuk menghampiri Hanna yang terlihat sedang memoleskan bedak ke wajahnya.
"Han, dicariin nih sama anak lo. Jangan dandan mulu, kayak ada gandengannya aja."
Seperti biasanya, menggoda dan menjahili Hanna adalah kesukaan Rafa. Hanna lalu menyimpang bedaknya sambil menggerutu, tapi seketika wajahnya berubah ceria saat meminta Abby untuk dia gendong.
"Lo gendong dulu ya, tangan gue pegel. Gue kesana dulu mau ambil minum."
"Ck, kebiasaan banget deh suka alesan kalo mau ninggalin Abby."
Meskipun menggerutu, Hanna tetap saja menggendong Abby dengan senang. Dia lalu menurunkan Abby dan menggandengnya agar Abby bisa berjalan sendiri, mumpung suasana ballroom masih sepi.
Sementara Rafa mengamati interaksi Hanna dan Abby dari kejauhan. Entah kenapa rasanya menyenangkan, ia tidak menyangka jika Hanna bisa bermain dengan anak seusia Abby tanpa rasa canggung.
Mungkin karena mereka sama-sama anak kecil, jadinya nyambung. Begitu batin Rafa.
"Abby mana?" pertanyaan Rayyan barusan membuyarkan senyuman dibibir Rafa.
"Noh, lagi sama Hanna."
"Lo disuruh jagain malah lepas tanggung jawab." omel Rayyan setelah menenggak segelas jus yang baru saja diambilnya.
"Gue haus, Bang. Butuh minum, makanya gue titip Hanna sebentar. Lagian juga kan Abang yang harusnya jagain Abby, malah dilimpahin ke gue."
Rafa langsung mendapat lirikan tajam dari abangnya yang berdiri di sebelahnya. "Ya udah, lo aja sana yang nemenin papa nyambut tamu. Gue ngurusin Abby."
"Eits, jangan dong, Bang!" Rafa menahan pergelangan tangan abangnya yang akan pergi meninggalkannya. "Biar gue aja yang jaga Abby ya. Abang kan yang lebih kenal sama temen-temen papa hehehehe...."
Tentu saja Rafa ogah menyambut teman dan relasi bisnis papanya. Disamping karena kebanyakan sudah pada berumur, ia juga tidak pandai dalam berbasa-basi.
__ADS_1
"Jagain anak gue." Rayyan akhirnya mengurungkan niatannya untuk menghampiri Abby dan berjalan ke arah papanya.
Rafa mengangguk sebagai jawaban atas permintaan abangnya. Tangannya kemudian merogoh ponsel disaku celananya dan melihat siapa saja yang telah melihat fotonya bersama Abby yang ia pasang tadi. Rafa menghela nafasnya, sembari menghitung perkiraan waktu ditempat Alita berada sekarang.
Alita belum melihat dan mengomentari fotonya, perasaan kecewa pun kembali menyusup ke dalam relung hatinya. Padahal status online Alita juga baru beberapa menit yang lalu, itu berarti Alita sedang terjaga disana. Tapi mungkin memang Alita sedang sibuk dengan pekerjaannya, atau bahkan kini ia tak lagi menjadi prioritas Alita.
...****************...
Rafa menghampiri Abby yang tengah asik bermain bersama Hanna dan keluarganya. Abby bahkan nampak bergelayut manja dipangkuan Wildan yang juga sesekali menggodanya. Nampaknya kepekaan Abby terhadap pria-pria tampan sudah tumbuh sejak dini.
"Abby... manja banget sama om Wildan." seru Rafa sambil menyolek pipi Abby dengan gemas.
"Iyalah, kamu kan seneng ya kalo digodain sama om ganteng." jawab Wildan dengan santai.
"Om gantengnya Abby cuma gue doang ya, lo enggak usah ikut-ikutan."
"Tapi ini buktinya Abby nemplok sama gue, padahal ada elo. Berarti kegantengan elo kalah sama gue."
"Emang disini siapa yang paling ganteng?" tanya Rafa penasaran dengan jawaban yang akan Hanna berikan.
"Ya Ayahlah!" jawab Hanna dengan lantang yang langsung membuat Rafa dan Wildan langsung menunduk kecewa. Sedangkan om Taufik menyombongkan dirinya dengan tertawa lebar ke arah Wildan dan juga Rafa.
"Ayo siap-siap, acaranya udah mau dimulai." ucap tante Widya sambil beranjak dari kursi yang didudukinya. Om Taufik, Hanna dan Wildan pun turut serta, diikuti dengan gerakan Wildan yang menyerahkan Abby kepada Rafa.
"Lo sini aja sih, Han, nemenin gue." Rafa menahan tangan Hanna yang hendak mengikuti langkah keluarganya.
"Emangnya kenapa sih?"
"Ya kan kak Zahra ntar lama, harus ngedampingin kak Eowyn juga kan? Jadi gue harus jagain Abby."
Hanna berpikir sejenak, hingga akhirnya dia menyetujui permintaan Rafa dan kembali duduk disamping Rafa.
__ADS_1
"Lo ngapain sih Han dandan menor begini? Pake bulu mata palsu pula." Rafa mengomentari penampilan Hanna.
Tangannya yang bergerak untuk menarik bulu mata Hanna pun langsung mendapat pukulan dari Hanna yang mengaduh kesakitan.
"Jangan ditarik, ini bulu mata extension!" Hanna mengomel sambil merapikan kembali bulu matanya. "Kalo kak Rafa tarik, yang ada bulu mata asliku ikutan lepas. Gundul entar."
"Lagian kenapa sih lo pake pasang bulu mata palsu segala? Masih sekolah juga!"
"Ya emang kenapa? Ayah sama bunda ngijinin kok, kan biar jadi cantik juga."
"Jadi cantik... jadi cantik.... lo enggak kapok dulu udah hampir diapa-apain sama temen lo yang br*ngsek itu?"
Satu pukulan dari Hanna kembali mendarat dilengan Rafa. "Jangan kenceng-kenceng sih, Kak. Ada Abby juga ngomongnya kasar gitu. Trus juga ntar yang lain pada tau, bahaya."
"Ya makanya enggak usah centil-centil. Ntar habis acara dicopot aja, cuma ke sekolah enggak usah dandan cantik-cantik."
"Sayanglah, Kak. Mahal ini aku pasangnya."
"Ntar gue ganti duit lo."
Hanna menggelengkan kepalanya. "Ntar juga lepas sendiri."
Percakapan mereka terhenti ketika ponsel Rafa bergetar. Padahal Rafa sudah berharap pesan yang masuk itu adalah dari Alita, tapi ternyata dari Zahra yang menitipkan Abby kepadanya.
"Sini foto dulu bertiga. Hari ini kita dapet jatah momong Abby karena emak bapaknya sibuk pesta."
Rafa lalu mengambil beberapa foto bersama Abby dan juga Hanna. Jika saat pesta pernikahan abangnya Rafa secara diam-diam mengambil foto Hanna, kini ia malah mengajak Hanna berfoto dengannya.
Rafa lantas menunjukkan beberapa foto hasil jepretannya kepada Hanna karena gadis itu telah lebih dulu merengek melihat hasil foto mereka.
"Udah kayak keluarga bahagia kita hahahaha...."ucap Rafa yang ternyata diangguki oleh Hanna.
__ADS_1