
Hanna menghindari Rafa sepagian ini. Dia memilih untuk tidak keluar dari kamarnya dulu daripada harus bertemu dengan Rafa. Beberapa kali Hanna mendengar Rafa mengetuk pintu dan memanggil namanya beberapa kali, tapi Hanna memilih untuk mengabaikannya. Dia tetap memfokus pandangannya pada laptop yang berada di pangkuannya.
Sebuah pesan singkat masuk membuat Hanna menoleh ke arah ponselnya. Itu dari Rafa, dan lelaki itu mengabarkan pada Hanna jika Rafa akan berangkat ke Glasgow pagi ini. Hanna menghembuskan nafasnya dengan berat, entah perasaan apa yang kini menyusup pada dirinya.
Merasa aman karena kini lelaki yang tinggal bersamanya telah meninggalkan rumah, Hanna bergegas untuk membersihkan diri dan memulai harinya. Dia berencana untuk melihat kampusnya hari ini, dan tentu saja mencari teman. Mungkin itu bukan ide yang buruk daripada akan selalu merasa sendirian jika berada di rumah.
Setelah selesai membersihkan diri dan bersiap, Hanna berjalan menuju dapur. Dia berniat untuk sarapan dengan roti panggang dan segelas susu. Namun kemudian perhatiannya terarah pada sebuah kertas yang pasti ditinggalkan oleh Rafa.
Rafa tidak hanya meninggalkan sepucuk surat disana, tetapi juga dengan dua lembar uang. Rafa berpesan jika uang itu untuk Hanna membeli makan siang nanti. Hanna mengangkat dua lembar uang yang masing-masing bernilai lima puluh poundsterling.
"Aku disuruh beli makan siang apa dengan duit sebanyak ini?"
Meskipun bingung, Hanna tetap saja memasukkan uang itu ke dalam dompetnya. Katanya, rejeki itu tidak boleh ditolak kan?
__ADS_1
Ngomong-ngomong soal uang, Hanna juga mendapat transferan uang dengan nominal cukup banyak dari Rafa beberapa hari sebelum mereka terbang ke Inggris. Rafa bilang itu nafkah untuk Hanna. Meskipun Rafa tidak bekerja, Rafa mengatakan jika ia mendapat akan pemasukan dari papa dan abangnya. Enak sekali ya jadi Rafa!
Tidak membuang banyak waktu untuk menghabiskan sarapannya, Hanna melangkahkan kakinya keluar rumah. Ini adalah kali pertama dia akan keluar rumah sejak pindah ke Bristol tanpa Rafa. Berbekal maps dan ingatannya, Hanna melangkah dengan penuh semangat. Setidaknya Hanna dapat melupakan masalahnya sejenak.
......................
Hanna menghabiskan waktu cukup lama untuk berkeliling kampusnya. Apalagi dia mendapat seorang kenalan yang ternyata berkuliah dengan jurusan yang sama sepertinya. Gadis berambut cokelat bernama Eleanor itu berasal dari Irlandia dan datang untuk melihat kampusnya.
"Tampaknya kita harus mencari tempat untuk makan siang, Hanna. Aku sudah mulai lapar hehehehe...." ucap Eleanor sembari mengusap-usap perutnya.
"Serius? Bukannya kau tinggal disekitar Little Paul?"
Hanna mengangguk. "Tapi aku menghabiskan banyak waktu di rumah. Aku hanya pergi keluar beberapa kali saat pergi ke supermarket dan ke festival balon udara."
__ADS_1
"Hahahaha... baiklah, pengantin baru, aku paham." Eleanor menahan senyumannya dan menepuk bahu Hanna beberapa kali. "Hmm... ada banyak tempat makan di sekitar St. Michael's Hill ini, dan tentu saja aku belum mencoba semuanya. Tapi aku telah dua kali makan di Robin Hood, dan makanan mereka menyediakan burger vegan yang enak. Kau mau mencobanya?"
Hanna mengangguk dengan semangat. Keduanya lantas berjalan keluar kampus dan menyusuri St. Michael's Hill yang cukup panjang itu. Letak tempat makan yang akan mereka kunjungi tidak jauh dari kampus mereka, butuh waktu beberapa menit bagi Hanna dan Eleanor untuk berjalan kaki. Hanna juga memanfaatkan kesempatan itu untuk menghafal beberapa tempat makan yang ditunjukkan oleh Eleanor.
"Ada apa, Hanna? Apa terjadi sesuatu?" tanya Eleanor saat tiba-tiba saja Hanna menghentikan langkahnya. Terlebih pada saat itu Hanna sedang memegangi ponselnya.
"Aku... baru saja melihat maps, dan ternyata... jarak dari rumah ke tempat makan yang akan kita kunjungi hanya sekitar lima menit."
Eleanor tertawa, tidak menyangka jika Hanna akan mengatakannya dengan begitu antusias. "Ya Tuhan, Hanna. Aku pikir telah terjadi sesuatu! Dengar, aku yakin seminggu ini kau hanya bertahan di rumah dengan suamimu. Kita masih punya banyak waktu, dan aku akan dengan senang hati mengajakmu keliling Bristol. Terutama tempat-tempat di sekitar kampus, bagaimana?"
Hanna kembali mengangguk dengan penuh semangat. "Ah, terima kasih banyak, El. Ayo, sebaiknya kita segera sampai di tempat makan. Aku akan mentraktirmu hari ini."
Hanna menggandeng tangan Eleanor untuk segera berjalan dan sampai ditempat makan mereka. Tentu saja Eleanor tahu jika Hanna telah menikah, karena Eleanor menangkap dengan jelas cincin yang terpasang dijari manisnya itu sejak awal pertemuan mereka tadi. Dan tentu saja Hanna tidak keberatan untuk mentraktir Eleanor makan siang ini, karena pagi tadi Rafa memberikannya uang dengan nominal yang cukup besar untuknya membeli makan siang.
__ADS_1
Berbeda dengan Eleanor yang memesan veggie burger, Hanna tetap saja memilih beef burger kesukaannya. Dia hanya belum terbiasa dengan makanan vegan, dan tentu saja Hanna merasa ragu untuk mencobanya. Sempat menggerutu dalam hati saat menghitung harga makanan yang dibelinya, tapi seketika itu pula Hanna dapat langsung menyingkirkan semuanya.
Ini di Inggris, mungkin memang wajar membeli makan siang seharga seratus delapan belas ribu rupiah hanya untuk sepaket beef burger dan kentang goreng. Terlebih, Rafa mengaku memiliki banyak uang kan? Jadi tidak masalah kan jika Hanna ikut serta dalam menghabiskan uangnya? Paling uang Rafa juga tidak akan habis jika Hanna hanya menggunakannya untuk membeli makanan selama mereka menikah.