
Setelah memarkirkan mobilnya, Rafa buru-buru keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya. Orang pertama yang dilihatnya adalah Rayyan yang baru saja mengambil minuman di dapur. Tatapan mata Rayyan langsung menyorot tajam pada dirinya. Sang abang bahkan meletakkan gelas dengan cukup keras dimeja.
"Ah, si pemilik rumah sampai juga akhirnya."
Zahra dan Hanna langsung menoleh ke arah Rafa yang baru saja tiba itu.
"Sayang, bawa Abby masuk ke kamar sekarang. Dan kasih tau papa untuk segera kesini." Ucap Rayyan pada sang istri yang diangguki oleh Zahra.
Perasaan ngeri langsung menyelimuti Hanna, dia tahu pasti Rafa akan habis ditangan abangnya terlebih dulu sebelum papa Adit datang. Apalagi Rayyan telah menyuruh istrinya agar membawa Abby masuk ke dalam kamar, pastilah akan terjadi tindak kekerasan meskipun hanya satu tamparan saja.
"Maaf kalo kami datang tanpa memberitahu dan gangguin acara malam mingguan elo dengan Alita." Rayyan berucap dengan sinis.
"Enggak seperti itu, Bang."
"Terus seperti apa?!" Bentak Rayyan sambil berjalan ke arah Rafa dan mencengkeram kerah kemeja Rafa.
"Gue udah bilang ke elo, jangan jadiin Hanna sebagai alasan buat kepentingan elo sendiri. Elo enggak cuma nyakitin Hanna, tapi juga nyakitin mama, br*ngsek!"
Hanna menjerit saat satu bogem mentah dilayangkan Rayyan pada sang adik. Pukulan yang membuat Rafa terjatuh dan mengerang kesakitan.
"It's okay, Han." Ucap Rafa saat melihat Hanna akan berjalan mendekat padanya dan juga Rayyan.
Hanna menghentikan langkahnya, memandangi Rafa dengan mata berkaca-kaca. Rafa mengusap sudut bibirnya, sepertinya pukulan abangnya yang keras barusan membuat luka kecil dan membuatnya berdarah. Belum lagi rasa nyeri yang luar biasa itu.
Rafa berdiri, kembali menegakkan tubuhnya dihadapan Rayyan. Ia tentu tidak pernah menyangka jika rahasianya dengan Hanna akan terbongkar secepat ini, bahkan ia tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi kemarahan papa maupun abangnya yang seperti ini. Tapi kini Rafa harus menerima segala konsekuensinya, bahkan jika harus dihajar sampai tak berdaya sekalipun. Karena ini memang kesalahannya.
"Sekarang aja baru lo mikirin soal Hanna. Kemarin-kemarin waktu lo nyusulin Alita ke Glasgow otak lo kemana?" Rayyan tidak menurunkan nada bicaranya, masih membentak dan membuat Hanna semakin ketakutan.
"Gue enggak ada hubungan apa-apa sama Alita, Bang."
"Tapi elo ke Glasgow nyusulin dia kan?" Rayyan mendorong tubuh Rafa dengan keras. "Alita enggak mau lagi berhubungan sama elo karena dia tau elo sebr*ngsek ini, iya kan? Elo ditinggalin sama dia, makanya elo bilang elo enggak ada hubungan apa-apa sama dia. Gue bener kan?"
__ADS_1
Rafa tidak menjawab, ia hanya diam sambil menatap abangnya yang masih menyimpan kemarahan itu. Diamnya dirinya pun sudah cukup menjadi jawaban atas semua pertanyaan yang dilontarkan abangnya barusan.
"Sebaiknya elo siapin diri elo buat ngadepin papa. Berharap aja gigi elo enggak ada yang copot satu pun malam ini."
...****************...
Suasana semakin mencekam saat papa Adit dan mama Salma tiba. Papa Adit bahkan harus menahan amarahnya untuk sementara waktu, karena begitu datang mama Salma langsung menangis dan memeluk anak bungsunya itu dengan erat.
"Pindah duduk disini, Sal." Papa Adit akhirnya buka suara setelah memberikan waktu untuk istrinya menangis dalam pelukan Rafa.
Mama Salma mengurai pelukannya pada Rafa. "Jangan bohong lagi, jelaskan semuanya pada kami. Oke?" Ucap mama Salma dengan lirih disela-sela isak tangisnya.
Rafa mengangguk sambil mengusap air mata mamanya. Melihat mamanya berlinang air mata seperti sekarang membuat dadanya menjadi sesak dan hatinya sakit. Seharusnya Rafa mendengarkan nasihat abangnya saat itu, dan kini semuanya sudah benar-benar terlambat.
"Jadi sejak kapan Hanna enggak tinggal disini?" Tanya papa Adit.
Hanna mendongakkan kepalanya, menatap papa mertuanya dengan takut. Jemari tangannya saling bertaut dan terasa dingin. "Udah... hampir sebulan, Pa."
"Kenapa tiba-tiba pindah? Apa Rafa ngusir kamu? Atau ada hal lain?"
"Hanna pindah karena kesalahan Rafa, Pa. Ada... sesuatu yang terjadi antara Rafa dan Hanna yang menyebabkan Hanna akhirnya memutuskan untuk pindah."
"Masalah apa?"
"Rafa... enggak bisa jelasin ke Papa."
Jawaban Rafa barusan membuat papa Adit menjadi naik pitam. Papa Adit langsung beranjak dari duduknya, menghampiri Rafa dan menarik kerah kemeja Rafa.
"Udah ketahuan kayak gini masih ada rahasia-rahasiaan lagi? Ada berapa banyak rahasia yang kalian punya, hah?"
"Rafa udah gede, Pa. Rafa bisa selesaikan semua masalah yang Rafa buat tanpa papa dan abang harus ikut campur. Ini masalah Rafa."
__ADS_1
"Oh, begitu ya? Silahkan saja kalo memang kamu mau bertindak sesukamu, tapi jangan bawa-bawa Hanna. Sepulang dari sini papa akan urus surat perceraian kalian, setelahnya kamu bebas bertindak sesukamu." Papa Adit melepaskan cengkeraman pada kerah baju Rafa dan mendorong tubuh anak bungsunya itu.
"Rafa enggak mau bercerai dengan Hanna, Pa."
Papa Adit menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan kembali berjalan ke arah Rafa. "Kalian akan bercerai, Papa enggak butuh pendapat kalian."
"Rafa bilang Rafa enggak akan bercerai dengan Hanna, Pa. Beberapa minggu yang lalu Rafa nidurin Hanna, mungkin aja sekarang Hanna sedang hamil anak Rafa." ucap Rafa dengan lantang yang langsung membuat semua orang di ruangan itu terperangah.
Terlebih Hanna, ucapan Rafa kali ini tidak benar. Dirinya dan Rafa tidak sampai berhubungan badan, lalu kenapa Rafa mengatakan demikian?
Jika tadi Rafa telah mendapatkan sebuah bogem mentah dari abangnya, kini ia kembali mendapatkannya dari sang papa. Disisi yang sama, membuat lukanya menjadi lebar dan rasa nyeri yang bertambah.
"Mas Adit!"
"Papa!"
Mama Salma dan Hanna refleks berteriak bersamaan. Rayyan langsung bangkit dari duduknya, mencoba menarik papanya yang tampak menggila saat memukuli Rafa. Mama Salma juga beranjak dari duduknya, untuk menarik suaminya agar berhenti memukuli Rafa yang telah tersungkur itu.
"Udah, mas. Enggak harus pakai kekerasan gini." Mama Salma menjauhkan suaminya dari Rafa.
"Rafa udah kelewatan, Sal. Apa dia pikir masalah ini cuma menyangkut dia doang? Ini juga menyangkut kita, Sal. Dia bukan cuma maksa Hanna untuk mau nikah bohongan sama dia, tapi juga maksa Hanna untuk tidur sama dia. Hanna itu anak temenmu, Sal. Apa kamu pikir Taufik akan menerima kejadian ini terjadi pada anaknya kalo dia masih hidup?"
"Mas...."
Pandangan mama Salma dan Papa Adit langsung tertuju pada Hanna yang tampak berkaca-kaca, mungkin karena nama ayahnya tanpa sengaja disebut oleh papa Adit.
Rafa berdiri dengan bantuan Hanna dan Rayyan. Kini rasa sakit yang dirasakannya tidak hanya di area wajahnya, tetapi juga sekujur tubuhnya karena dihajar sekenanya oleh papa Adit.
"Papa liat Hanna masih biasa aja, enggak menunjukkan gejala wanita yang sedang hamil muda. Jadi kalian... tetap akan bercerai. Kita kembali ke hotel, Sal." Papa Adit langsung menggandeng mama Salma dan memaksanya untuk segera meninggalkan rumah Rafa.
Rayyan pun meninggalkan ruangan dan menuju kamar yang dulu ditempati oleh Hanna, untuk mengajak anak istrinya kembali ke hotel. Sementara Hanna membantu Zahra berkemas dan mengantarkan Zahra serta Abby hingga ke depan rumah.
__ADS_1
"Bener-bener br*ngsek lo, Fa." Ucap Rayyan saat mengambil boneka kelinci Abby yang berada di dekat Rafa duduk sekarang.
Rafa menghela nafas, hari ini sungguh terasa panjang dan begitu melelahkan baginya. Semuanya telah berakhir, dan tidak ada satu pun yang ia menangkan. Tidak Hanna, tidak juga Alita.