Back To You

Back To You
Chapter 173


__ADS_3

Rafa terbangun lebih dulu, dengan posisi tidur yang memeluk Hanna dari belakang. Setelah melakukan ibadah suami istri semalam, tak berselang lama keduanya sama-sama langsung terlelap ke alam mimpi.


Dikecupnya bahu telanjang Hanna, sembari mengeratkan pelukannya dan membisikkan ucapan selamat pagi untuk istrinya.


"Selamat pagi, sayangkuuuu...."


Hanna hanya bergumam dengan mata yang masih erat terpejam.


"Ini udah jam delapan lebih, sayang. Sebentar lagi sarapan datang, karena aku minta dianterin jam setengah sembilan. Bangun dong!" Rafa mulai mengganggu tidur Hanna. Kali ini ia menghujani kepala Hanna dengan kecupannya.


"Jadi kamu masih tidur beneran, lupa kalo udah berstatus sebagai istri, atau pura-pura tidur karena malu atas kejadian semalem?" Goda Rafa dengan melabuhkan sebuah kecupan dileher belakang Hanna.


Hanna menghela nafasnya, lalu memegangi selimut yang menutupi tubuhnya dan berbalik menatap Rafa.


"Aku melakukannya dengan sadar, aku enggak malu dan cuma pengen tidur lagi."


Rafa terdiam sejenak melihat bagaimana ekspresi Hanna yang merajuk ingin melanjutkan tidurnya. Lalu pandangan matanya turun ke arah dada yang sedikit terbuka, dan menampilkan banyaknya mahakarya yang sengaja ditinggalkannya ditubuh istrinya itu.


"Tapi kamu harus sarapan, semalem kan kita keluar banyak energi." Goda Rafa sambil berbisik ditelinga kanan Hanna, membuat pipi istrinya itu langsung memerah seketika.


"Hehehehe... good morning, istriku."


Rafa kembali menggoda, kali ini ia mencondongkan tubuhnya ke arah Hanna. Bermaksud untuk mencuri ciuman selamat paginya. Tapi gerakan Hanna menutup bibirnya lebih cepat daripada Hanna.


"K-kenapa?" Tanya Rafa kebingungan.


"Aku belum gosok gigi."


Rafa tersenyum, lalu pelan-pelan menyingkirnya telapak tangan Hanna yang menutupi bibirnya.


"Semalem kan kamu gosok gigi, lagian juga kenapa sih? Kita udah jadi suami istri sekarang, dan aku cuma mau minta morning kiss dari istriku."


Tanpa menunggu persetujuan Hanna, Rafa langsung mel*mat bibir Hanna. Tangannya menelusup ke dalam selimut dan mulai bergerilya disana.


Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Rafa tau ia harus segera berhenti sebelum akhirnya berlanjut ke hal-hal yang mereka inginkan. Ia harus segera bangun dan membersihkan diri, sebelum akhirnya ada pihak hotel yang datang untuk mengantarkan sarapan mereka.


"Aku mau siap-siap dulu sebelum sarapan datang, kita bisa lanjutin ini nanti setelah kita sama-sama mengisi tenaga."


Sepertinya menggoda Hanna kembali menjadi kebiasaannya. Tapi godaannya yang sekarang tidak seperti dulu, karena kali ini lebih menjurus dan lebih mesum.


Setelah mengecup bibir Hanna, lelaki itu menyingkap selimut yang sejak tadi menutupi tubuhnya sebatas pinggang. Rafa lantas memunguti pakaiannya yang berserakan, dan berjalan menuju kamar mandi tanpa sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya.


Hanna lalu menaikkan selimut untuk menutupi wajahnya, guna menyembunyikan wajahnya yang memerah sekarang. Hanna mencoba menenangkan dirinya, berulang kali dia merapalkan kalimat jika dia harus mulai terbiasa. Karena hal-hal seperti ini akan menjadi hal lumrah ke depannya.


...****************...

__ADS_1


Hanna sedang mengeringkan rambutnya dengan mata yang sesekali terpejam. Badannya benar-benar lelah, bahkan kelopak matanya seolah berat untuk terbuka.


Setelah sarapan tadi, Rafa mengajaknya untuk berendam bersama di bath up. Rafa bilang berendam air panas akan membantunya merilekskan tubuh, tapi nyatanya lelaki itu tidak memberinya kesempatan untuk itu. Rafa malah membawanya menuju ronde selanjutnya untuk melanjutkan permainan mereka yang tertunda pagi tadi.


Hanna menghela nafas, seharusnya dia tidak percaya begitu saja ucapan suaminya. Apalagi dia telah mengetahui sebelumnya, jika Rafa termasuk dalam golongan lelaki mesum yang dikenalnya selama ini.


"Butuh bantuan?" Tanya Rafa yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Hanna langsung menghindar begitu Rafa mendekat, matanya juga langsung melirik tajam ke arah Rafa.


"Kita baru selesai, Kak. Jangan mancing-mancing dan mulai lagi ya!"


Sontak Rafa langsung tertawa akan respon istrinya. Ia pun segera mengambil alih hair dryer dari tangan istrinya dan mulai mengeringkan rambut Hanna.


"Iyaaaaa... aku cuma mau ngeringin rambut kamu. Tapi kalo kamu tiba-tiba terangsang karena ini...." Rafa sengaja mengecup leher belakang Hanna hingga ke belakang telinga. "Ya apa boleh buat, aku juga harus melayani istri dengan baik kan?"


"Kak Rafa!" Bentak Hanna sambil menggosok-gosok bekas kecupan Rafa dengan tangannya.


Rafa hanya tertawa, lalu melanjutkan kegiatannya mengeringkan rambut. "Kita udah nikah loh, Han. Masa kamu masih aja manggil aku dengan sebutan 'kak'? Terus kapan dong kamu mau manggil aku dengan panggilan 'sayang'?"


"Susah, Kak, untuk tiba-tiba berganti panggilan tuh."


"Eh, tapi enggak apa-apa sih. Aku suka kok, apalagi kalo kamu manggil 'kak Rafa' sambil ngejambak mesra rambutku kayak semalem dan tadi di kamar mandi."


"Aku enggak nyangka kalo kak Rafa semesum ini!"


"Ya kan mesumnya sama istri, enggak masalah dong?" Rafa kembali menggoda Hanna dengan sengaja.


"Masalah! Bisa-bisa rambutku ini enggak kering-kering, malah harus keramas lagi!"


"Hahahahaha.... bercanda, sayang."


Rafa kemudian meraih tasnya yang berada tak jauh dari Hanna, lalu mengeluarkan sebuah amplop dan menyerahkannya kepada Hanna.


"Apa ini? Voucher dari kak Alita dan suaminya?"


"Buka dulu." Rafa mengambil alih hair dryer dan mematikannya.


Hanna menerima uluran amplop itu dan membukanya. dikeluarkannya dua lembar kertas di dalamnya, yang ternyata berisi bukti pemesanan tiket pesawat.


"K-kita... mau ke Bristol?"


Rafa menganggukkan kepalanya, lalu menekuk salah satu lututnya dihadapan Hanna.


"Kita harus selesaikan semua urusan kita di Bristol, Han. Biar ke depannya... kita enggak ada beban dalam berumah tangga."

__ADS_1


"T-tapi...."


"Aku tau kamu udah enggak peduli lagi sama Arthur, tapi pasti Arthur juga enggak bisa nerima keadaan begitu aja waktu kamu balik dan mutusin hubungan kalian. Seenggaknya kita harus minta maaf ke Arthur, biar dia juga bisa memberikan doa untuk kebahagiaan kita. Aku juga udah ngobrolin ke Abang soal rumah yang di Bristol. Aku mau jual rumah itu, dan sebagai gantinya... kita beli rumah disini aja gimana? Nanti kita survei tempatnya sama-sama."


Hanna menganggukkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca, lalu mencondongkan tubuhnya untuk memeluk Rafa.


"Kita harus memulai semuanya dengan baik, Han. Aku cuma pengen bahagia selamanya sama kamu dan keluarga kecil kita nanti."


*


*


*


*


*


...------- T A M A T ---------...


Alhamdulillah... akhirnya tamat ya, genks! 😆


Meskipun molor, karena niatnya bakal ditamatin sebelum lebaran eh malah jadinya setelah lebaran, tapi enggak apa-apalah ya, yang penting udah beneran tamat sekarang hehehehehe....


Terima kasih banyak untuk para readers yang dengan setia baca dan selalu nungguin lanjutan cerita yang enggak karuan iniiiiii.... Terima kasih juga untuk segala dukungannya, lope-lope lah pokoknya sama kalian! ❤️❤️


Untuk selanjutnya masih belum tau ya bakal nulis cerita apa. Apakah cerita dari salah satu tokoh dari novel-novelku ini? Atau malah bikin cerita baru? Yang ada ide boleh silahkan disampaikan untuk jadi pertimbangan daku hehehehehehe....


Pokoknya nanti kalo ada novel yang baru bakalan diinfo ya. Sehat-sehat semuanyaaaaaaaa, salam sayang dariku, Rafa dan yang lainnya 😘😘


Si Playboy Tobat, Rafa 😎



Yang selalu dianggap anak kecil, Hanna 🥰



Si Mantan seksi yang susah dilupain Rafa, Alita 🤩



Om-om mapan, ganteng, seksi, dan berduit, Theo 😍


__ADS_1


__ADS_2