Back To You

Back To You
Hidup Yang Indah


__ADS_3

Matahari masih menyingsing diatas pucuk kepala saat keduanya sampai rumah. Vee terdiam dengan rahang mengeras sembari menyeret tangan Rosé sampai memasuki kamar mereka.


"Kanesh, apa maumu?"


Jujur Rosé takut melihat reaksi Vee yang baru pertama kali terekam jelas dimatanya, dan sesaat Rosé menanyakan itu, kilatan mata Vee begitu menakutkan. Vee bukan marah sama seperti saat pria itu hanya ingin minta ronde. Rosé bisa membedakan, makanya ia bertanya begitu kelu dan.....takut.


"Apa lagi?" Sentak Vee. "Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku?"


Rosé menggeleng, "tidak ada, semua rahasiaku, semuanya, kamu sudah tahu."


Vee tetap tidak percaya. Ia kira Rosé sudah sebegitu terbuka dengannya. Nyatanya tanpa bantuan Sena, ia tidak akan tahu rahasia yang melibatkan mantan tunangannya itu. Perasaan bersalah belum sempat sampai beres ia tuntaskan. Ditambah lagi rahasia yang baru saja teruangkapkan. Vee ingin meledak.


"Siapa lagi?"


"Apa?" Masih dengan takut Rosé menjawab dengan pertanyaan.


"Siapa lagi pria yang akan menjadi calon tunanganmu selain Daniel?"


Rosé menangkap satu kekawatiran. Tentu saja Vee belum tuntas dengan rasa cemburu yang dirasa percuma. Rosé sudah jadi miliknya, utuh, pun Rosé juga sangat lelah sekali hanya untuk menangis mengingat masa lalu yang dengan kejinya menghancurkan waktu berharga yang ia punya, Rosé cukup dengan semua beban yang ia rasakan secara percuma, yang ia harus pertahankan adalah prianya, Vee Kanesh Bellamy yang berada di depannya. Yang sangat menunggu sekali jawaban darinya.


"Aku cuma calon tunangan Daniel. Aku menolaknya, sama sekali tidak ada niat menerimanya. Aku bersumpah. Cuma dia."


Vee meraup wajahnya kesal. "Kenapa mommy Dara kepikiran cari calon suami lain selain aku sih!!!!" Ia menggerang teramat kesal.


Rosé ingin tertawa, tapi kok waktunya sangat tidak tepat, dan ia rasa juga tidak tahu diri jika bersenang-senang diatas Vee yang frustasi seperti itu.


"Dosa lho, nyalahin mertua sendiri, nggak boleh kayak gitu."


Vee acuh. "Mulai sekarang, aku nggak mau kamu berhubungan dengan Daniel, aku bakalan pindahin kelompok kamu."


"That's very unprofessional, Kanesh!! Daniel udah jadi kerabat kita, kamu nggak ingat dia adalah adik kak Hana. Jangan gitu ih."


Rosé menggeram, Vee tidak bisa dibiarkan seperti ini terus. Ini sudah diluar batas. Meski berkuasa, tapi ini sudah keterlaluan. Bagaiamana tanggapan Daniel nantinya yang membuat Rosé takut. Ia takut Vee dinilai buruk. Hanya demi Vee. Lagi-lagi yang Rosé perdulikan adalah reputasi Vee.


"Lalu aku harus apa?"


"Aku ini milikmu lho, istri kamu, aku cuma maunya sama kamu. Mau mereka ngejar aku kayak gimanapun, kalau aku maunya cuma sama kamu gimana dong."


Pipi Vee bersemu merah. Istrinya sangat pandai merayu, sepertinya sering sekali berteman dengan penyair romantis. Tidak tahunya Rosé adalah penggemar novel romance yang tidak pernah tertinggal selalu ia baca di waktu senggang. Iyuuh.


Vee mendekat untuk mendorong Rosé di ranjang. "Kamu mau apa, Kanesh?"


"Aku harus buat kamu cuti kerja. Nggak bisa dibiarin."


"Astaga Kanesh berhenti nggak. Tadi pagi udah."


Vee tidak perduli. Ia semakin memojokkan Rosé, tidak mau tahu, Rosé harus segera curi dari pekerjaan. Wanita hamil dilarang keras untuk bekerja, itu semboyan yang baru Vee deklarasikan.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, kalau yang pagi jadi, siapa tahu yang ini juga jadi, bisa kembar deh." Jawab Vee asal dengan kerlingan nakal.


Pria gila.


Mana ada aturan seperti itu. Astaga. Vee harus sering-sering Rosé ceramahi. Keseringan pun tidak akan berpengaruh besar. Harus ada sela dan terprogram. Tidak ngawur seperti ini.


Rosé akan protes lagi, tapi terlambat. Ya terlambat, Vee sudah terlanjur dengan tindakannya, bahkan Rosé menikmatinya.


...****************...


Rosé mendapati hari bahagianya semenjak Vee benar-benar menutup mulutnya hanya untuk merecokinya dengan pertanyaan tentang Daniel seorang. Ya bagaimana tidak. Vee jelaslah orang yang selalu teguh dengan perkataannya. Dengan tangan Joan sebagai perantara, Rosé benar-benar dipisah tugas dengan dokter yang bernama Daniel itu. Untung saja tidak timbul prasangka aneh-aneh.


Dan yang membuat Rosé lebih bahagia atas hidupnya adalah, sederhana saja, mendapati Vee masih tidur terlelap sedangkan ia sudah terjaga adalah pemandangan paling indah yang ia punya. Alis tegas Vee, lentik bulu matanya, hidungnya yang bak prosotan di depan taman kanak-kanak, bibirnya yang mengkerut lucu, ah semuanya memabukkan dan sepertinya bisa membuat Rosé awet muda jika setiap hari dibuat tersenyum begini.


Waktu sudah berlalu dua bulan. Tidak ada hal serius yang membuat mereka bertengkar, hanya hal-hal kecil yang menjadi perdebatan, dan itu sangat menyenangkan.


"Aku tahu aku tampan."


"Klasik."


Rosé spontan menjawab saat Vee baru saja membuka mata dengan gurauan terlewat percaya dirinya. Rosé tahu kok suaminya tampan, tidak perlu di umbar.


Vee menarik Rosé lebih dalam ke pelukannya tapi istrinya menggeliat, membuat Vee jadi gemas. Masih ingin bermanja-manja. Rosé tersenyum dengan tangan yang merogoh sesuatu di bawah bantal.


"Kanesh, coba lihat deh."


Rosé menatap Vee yang ternyata sama sekali tidak merespon kejutannya. Rosé kecewa. "Kaneeeeeesh." erangnya.


Susah payah, tangan Rosé juga sedikit pegal. "Kanesh, bangun asta—"


Vee terkaget lalu sadar dari kantuknya. Pria itu baru bangun, kesadaran belum terkumpul dengan penuh, mendapat kejutan seperti itu jelas saja membuat otaknya sedikit melambat.


"Ini beneran?" Vee merebut tespek dari tangan Rosé.


Rosé yang masih kesal mencibik di bibirnya, mood total hancur, suaminya lambat respon. Ia kecewa. "Nggak tau ah, males."


Vee yang teramat sadar akan kesalahan nya mendadak mencium Rosé tanpa ampun, dari dahi, mata, hidung, pipi dan tak ketinggalan bibir. Hal terakhir yang membuat Rosé melotot tak habis pikir adalah saat Vee mendaratkan ciuman mesra dengan tespesk yang ada ditangannya.


Sontak Rosé merebut benda itu. "Ampun, Kanesh. Itu kotor, bekas pipisku tadi."


Seakan tuli, Vee pun hanya melempar benda itu, lalu menubruk Rosé yang sudah saja terlentamg di ranjang, membuka perut istrinya lalu mencium disana. "Baik-baik sayang, jangan nakal ya, cepat keluar." Begitu ucapnya setelah mendaratkan kecupan beberapa kali.


Seakan bertransformasi seperti anak kecil yang begitu atraktif, lagi-lagi Rosé hanya menggelengkan kepala saat Vee berlari mencari ponselnya. Satu persatu ia hubungi untuk kabar gembira ini. Ayah dan ibunya, nenek Saroja, sepasang mertuanya, tak lupa sanak saudara, tak ada yang ketinggalan satu pun.


Rosé yang mulanya bad mood, akhirnya menerbitkan senyum juga. Ia merasa sudah menjadi wanita sempurna. Matanya berkaca-kaca sembari duduk di tepi ranjang. Melihat Vee yang baru saja menyudahi aktifitasnya sembari berjalan ke arahnya. Sontak Rosé menarik pinggang, lalu menyandarkan kepala ke perut suaminya.


"Ini hadiah paling sempurna." Vee mengatakan itu, Rosé mengangguk berkali-kali.

__ADS_1


Pagi ini. Tuhan begitu baik memberi anugerah kepada sepasang manusia setelah ujian berat yang mereka terima. Potongan puzzle yang sempat hilang dicuri gorila akhirnya ketemu juga, terpasang apik bagai lukisan bagian hati yang tidak utuh, sekarang penuh, perasaan penuh sampai-sampai tak ada satupun kesedihan yang mampu masuk lagi untuk menghancurkan mereka.


...****************...


Vee yang baru saja selesai olahraga mengalungkan handuk sembari berjalan menyusuri dapur untuk merasakan sarapan bersama Rosé yang tengah sibuk disana. Memilih gelas diatas meja, Vee mengelus perut istrinya sebelum beralih mengambil air di dispensare untuk memulihkan dahaga.


"Pagi sayang. Bangun-bangun udah olahraga aja."


Vee tersenyum kotak. "Biar kuat gendong kamu kalau nanti kamu mendadak lahiran disaat yang tidak tepat. Udah gendut gitu."


"Heeeei. Gendut pantangan kamu ucapkan ya. Aku nggak terima." Rosé melotot. Enak saja main ngatain gendut.


"Tapi kamu imut kok. Lucu gitu pipinya, enak buat aku makan malem-malem."


Rosé inginnya melempar centong. Namun bunyi bel di pagi hari menggagalkan rencananya. "Sepagi ini?"


Rosé akan beranjak. Namun dihentikan oleh Vee. "Biar aku aja, kamu jangan banyak gerak."


Rose memutar bola matanya. Diranjang aja aku dibanting terus. Cuma jalan segitu doang nggak boleh. Dasar. "Ya udah sana buka, ngapain liatin aku terus?"


"Aku yakin kamu lagi mikir aneh-aneh tentang aku, ngaku!!!"


"Enggak, nggak boleh nuduh sembarangan."


"Eeei, wanita hamil nggak boleh bohong. Tadi apa, bola mata kamu muter-muter gitu, pasti lagi ngumpat 'kan."


Peka banget orang ini. "Aku nggak ngumpat, suer. Udah sana, itu orangnya mencet terus, kan kasian."


Oke. Vee mengalah tak meneruskan kecurigaan. Lantas kakinya berjalan cepat untuk membuka pintu tamu yang tidak tahu diri datang sepagi ini. Hei, belum jam tujuh pagi lho.


Vee kembali ke dapur dengan sebuket bunga ditangannya. "Buat kamu sayang." Ucapnya lalu memberikan kepada Rosé.


"Dari siapa?" Rosé bertanya, dan Vee hanya mengangkat bahunya tidak tahu.


Hai Rosé. Aku sudah dengar semuanya dari Joseph. Selamat atas kehamilanmu. Kuberikan bunga tulip orange ini sebagai penyalur doa ku dengan harapan; kebahagiaan, kehangatan dan keberuntungan untukmu dan calon baby kecil. Udara New York begitu segar ya. Aku harap kamu hadir di hari tunanganku, maaf merebut kudamu. Tertanda-Sena.


"Astaga." Rosé melotot tak percaya.


Vee yang melihat sontak menghampiri Rosé. "Ada apa?"


Rosé tak menjawab. Hanya memberikan sticky note yang ditulis oleh Sena. Vee pun tersenyum. "Aku sudah curiga sih."


"Apa?"


"Sena, Joseph."


"Aku juga."

__ADS_1


Lantas keduanya tersenyum. Sena sudah menemukan prianya. Maka, tak ada yang perlu dikawatirkan lagi bukan?


__ADS_2