
Bristol, tiga bulan kemudian....
"Apa dia benar-benar tidak memiliki kegiatan lain?" Celetuk Eleanor sembari menyedot minuman yang dipegangnya.
"Tidak perlu diperhatikan, El." Hanna menjawab dengan acuh.
Sedari tadi Hanna sibuk dengan laptop dan beberapa buku di depannya, sambil memakan makanan yang ia pesan. Sedangkan Eleanor, sibuk untuk mengomentari seseorang yang duduk tak jauh dari meja mereka.
"Kamu bilang dia akan segera lulus, bukankah seharusnya dia sibuk dengan tugas akhirnya? Kenapa dia malah sering mengikutimu kemana-mana."
"Sudahlah, El. Semakin kamu memperhatikan dan mengomentari dia, kamu malah semakin penasaran. Biarkan saja."
"Hanna, bagaimana bisa kamu sesantai ini? Mantan suamimu itu mengikutimu hampir sepanjang waktu layaknya penguntit. Apa kamu benar-benar tidak merasa takut sama sekali?"
Hanna menghentikan pekerjaannya dan menggelengkan kepalanya ke arah Eleanor. "Selama itu tidak membahayakan diriku, aku tidak akan takut, El."
"Dia bukan hanya terlihat seperti penguntit, tapi seperti... seseorang yang sedang terobsesi terhadapmu. Itu sebabnya dia mengikuti dan memperhatikanmu sepanjang waktu, benar-benar menakutkan."
Hanna tersenyum ke arah Eleanor, sembari mengusap punggung sahabatnya itu beberapa kali. "Aku mengenalnga sejak kecil, El. Aku tau siapa dia."
"Hahhh... terserah kau sajalah."
Eleanor meraih ponselnya yang tergeletak dimeja. Setelah memperhatikan ponselnya beberapa saat, Eleanor kembali mengganggu Hanna yang sedang mengerjakan tugasnya.
"Hanna, kau ada acara saat liburan tahun baru nanti?"
__ADS_1
"Hmm... entahlah, El. Tahun baru masih beberapa bulan lagi, kenapa menanyakannya sekarang?"
"Aku ada acara, kamu mau bergabung?"
"Seperti tahun lalu, saat kita pergi ke London bersama Arthur dan yang lainnya?"
Eleanor menggelengkan kepalanya. "Tidak... tidak.... Kali ini tidak ada Arthur dan yang lain. Terlebih, Arthur juga menghindari kita kan sejak kamu menolaknya?"
"Lalu?"
"Bagaimana kalo kamu ikut aku pergi ke York?"
"York?"
"Holidate?"
Eleanor kembali menganggukkan kepalanya. "Seperti difilm, kau dan teman Mario berkencan hanya untuk liburan tahun baru itu saja. Setelah liburan selesai, maka hubunganmu dan dia juga selesai."
"Kau gila, El!"
"Noooo... Hanna, aku enggak gila. Aku hanya membantumu untuk melupakan si br*ngsek sialan yang duduk di depan itu, dan menunjukkan kepadamu kalo ada banyak pria yang lebih hebat dari dia."
"Aku tidak pernah mengatakan kalo dia pria yang hebat." Hanna menggerutu.
"Lalu kenapa sampai sekarang kamu belum bisa move on dari dia? Pertahananmu bahkan langsung luluh lantak hanya dengan sebuah pelukan darinya."
__ADS_1
Hanna menghela nafasnya, lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap Rafa yang duduk tak jauh darinya. Pandangan mereka saling bertemu, dan Hanna memalingkan wajahnya saat Rafa melemparkan senyuman kepadanya.
"Weak!" Sindir Eleanor saat melihat temannya membuang muka begitu mendapat senyuman dari mantan suaminya itu.
"Pengalamanmu dalam hal percintaan itu terlalu minim, Hannna. Selama ini kamu hanya mengenal satu spesies lelaki seperti dia, benar-benar membuang waktu." Imbuh Eleanor.
"Kakakku seorang laki-laki, El. Begitu pula dengan ayahku, kakekku, dan juga keluargaku yang lain. Bagaimana bisa kau menyebutku hanya mengenal satu lelaki saja."
"Memangnya kamu dan kakakmu pernah melakukan sesuatu yang intim begitu? Yang aku maksud, lelaki diluar lingkup keluargamu, Hanna. Bukankah kamu sendiri yang bilang selama ini keluargamu begitu mengekangmu? Dan bahkan lelaki di depan kita itu terus muncul dan dekat denganmu sejak sekolah menengah pertama. Sekarang aku tanya, selain dia, kamu pernah dekat atau naksir dengan siapa?"
Hanna terdiam, menghentikan gerakan jemarinya yang menari-nari diatas keyboard laptopnya. "Aku... hanya ingin mencari seseorang yang tepat, El."
Eleanor menghela nafas, tersenyum tak percaya dengan jawaban Hanna barusan. "Kau tidak akan berhasil menemukan seseorang yang tepat kalo pikiran dan hatimu masih tertuju padanya, Hanna."
Tidak ada jawaban dari Hanna, gadis itu malah menyibukkan dirinya dengan tugas-tugasnya.
"Aku harus pergi sekarang, Hanna. Apa tidak masalah meninggalkanmu sendirian disini? Atau aku harus menghubungi Arthur?"
"Tidak perlu, El. Aku tidak lama lagi selesai, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya."
"Hmm... baiklah. Pikirkan baik-baik soal holidate tadi, anggap saja kamu belajar mengenal berbagai macam karakter laki-laki. Aku akan pergi sekarang, kau bisa menelponku jika serigala di depan itu mulai mengganggumu."
Hanna menggangguk sambil tersenyum ke arah Eleanor, lalu melambaikan tangannya pada Eleanor yang meninggalkannya seorang diri. Dari kejauhan, tampak Eleanor memalingkan wajahnya saat beradu pandang dengan Rafa. Sedangkan Rafa memutar matanya dengan malas, kenapa pula gadis itu ikut-ikutan membencinya.
Tak lama, pandangan mata Hanna dan Rafa saling bertemu. Terkunci selama beberapa saat, sebelum akhirnya Hanna yang menundukkan pandangannya terlebih dahulu untuk kembali fokus dengan tugasnya. Detak jantungnya tidak beraturan, seraya bibirnya berkomat-kamit, merapalkan kalimat permintaan agar Rafa tidak mendatanginya saat ini.
__ADS_1