Back To You

Back To You
Chapter 153


__ADS_3

Arthur kembali mengendarai mobilnya. Kali ini tujuannya bukan untuk pulang ke rumah, melainkan menuju Bristol. Tidak peduli bagaimana lelahnya dia, tapi dia harus segera melampiaskan segalanya.


Arthur masih belum bisa percaya jika Hanna meninggalkannya begitu saja. Padahal dia selalu yakin jika perasaan Hanna akan berubah untuknya. Keyakinan itu tentu saja diperolehnya setelah kebersamaannya dengan Hanna selama hampir dua tahun ini.


Namun siapa sangka, jika ternyata perasaan pada hati Hanna tidak berubah haluan sama sekali. Padahal dia sudah melakukan apapun untuk membuat Hanna akhirnya membalas cintanya.


Arthur kembali teringat dengan perkataan El yang mengatakan jika akan sulit mengubah perasaan Hanna. Pasalnya, hanya mantan suaminya itulah pria selain keluarganya yang dikenal dan dekat dengannya. El juga mengatakan kalau pun Hanna sudah tidak mencintai mantan suaminya lagi, pilihannya pasti akan jatuh kepada orang lain. Bukan dirinya atau mantan suaminya.


"Arthur, kamu sudah ketemu dengan Hanna?" Tanya El melalui sambungan telepon.


"Hm. Kenapa selama ini kamu hanya diam, El? Kenapa kamu tidak mengatakan apapun padaku!" Arthur berteriak, seolah sedang memaki Eleanor. Tapi sih sepertinya memang begitu, hehehehe....


"Hei, kenapa sekarang malah menyalahkanku?" Eleanor membela diri. "Coba kamu ingat-ingat dulu, selama ini bukannya kamu sendiri yang selalu menolak jika akan aku beritahu sesuatu. Aku bahkan sudah memperingatimu sejak awal, meskipun kamu menjadi lebih tampan dan kaya sekalipun, Hanna tidak akan jatuh cinta kepadamu. Kamu ingat?"


"Tapi ini tidak adil, El. Aku sudah berusaha keras selama ini, tidakkah Hanna bisa menghargaiku sedikit saja?"


"Dia sudah menghargaimu, Arthur. Aku bersumpah jika Hanna telah berusaha untuk membalas cintamu, tapi ternyata hatinya tidak semudah itu digerakkan karena perlakuanmu kepadanya selama ini. Dan lagi, menurutku selama ini kamu terlalu memaksa, Arthur."


"Memaksa? Kapan aku memaksa? Aku bahkan tidak akan menciumnya kalo memang dia tidak menginginkannya."


"Bukan itu maksudku, tapi... selama ini kamu tidak memberikan dia ruang untuk meyakinkan dirinya bahwa kamu ada pengganti yang pantas."


"Maksudmu?"


"Kamu terlalu mendominasi, Arthur. Kamu begitu over protective kepadanya, dan menurutku itu yang menjadi Hanna tidak nyaman untuk menjalin hubungan denganmu. Kamu terlalu mengekang, bahkan tidak memberi Hanna kebebasan untuk bertemu dengan orang lain. Apalagi segala sesuatu yang menyangkut mantan suaminya. Hubungan kalian baru sebatas pacaran, Arthur. Dan harusnya kamu sadar jika budaya kita dengan Hanna itu berbeda. Kesalahan fatalmu yang membuat Hanna tidak ingin membalas cintamu adalah... kamu memaksa untuk tidur dan tinggal bersama. Itu melukai perasaannya, Arthur."


"Cih, dia tidak ingin tidur denganku tapi malah tidur dengan mantan suaminya? Benar-benar luar biasa."


"Hei, bicara yang benar! Hanna bahkan belum pernah tidur dengan mantan suaminya itu. Pernikahan mereka dulu hanya sebatas sandiwara. Andai dulu kamu berusaha untuk membuka diri dan membiarkan Hanna menceritakan semuanya, kamu pasti akan bisa lebih menghormatinya, Arthur. Tapi sekarang kamu malah menuduhnya yang tidak-tidak."

__ADS_1


"Aku tidak menuduhnya, El. Aku punya bukti. Mereka pergi liburan bersama ke Robin Hood's Bay dan mereka tidur bersama saat berada disana. Kamu bisa tanyakan itu ke Hanna jika tidak mempercayaiku, aku akan mengirimkan kepadamu bukti-bukti yang aku punya."


...****************...


Perjalanan yang lumayan melelahkan selama tiga jam tanpa jeda itu membuat amarah Arthur semakin memuncak. Dengan langkah besarnya dia berjalan menuju gedung tempat Rafa bekerja, padahal dia tidak tahu dimana tepatnya Rafa bekerja.


"Permisi." Arthur menghentikan langkah seorang wanita yang hendak memasuki gedung.


"Eee... apa ada karyawan disini yang bernama Rafa?"


"Apa yang kamu maksud adalah Rafardhan?"


"Aku... aku tidak tahu nama lengkapnya. Yang aku tahu namanya Rafa, dan dia... dia berasal dari Indonesia. Aku kehilangan kontaknya, jadi aku tidak bisa menghubunginya. Bisa tolong aku?"


Wanita itu mengangguk. "Oke, akan aku sampaikan."


"Baik, terima kasih banyak"


"Kenapa aku tidak menanyakan namanya?" Ucapnya dengan langkah yang terhenti.


Theresa merasa ragu untuk kembali turun dan menemui lelaki tadi untuk menanyakan nama, belum lagi ada pekerjaan yang harus diselesaikannya sekarang. Sehingga dia memutuskan untuk kembali menaiki anak tangga dan menuju ruang kerjanya.


Theresa mendorong pintu ruangan, lalu melihat ke arah meja kerja Rafa. Syukurlah Rafa berada dimeja kerjanya, karena jika tidak pasti akan membuat pekerjaannya menjadi tertunda.


"Rafa, ada seseorang mencarimu dibawah." Ucap Theresa, rekan kerjanya.


"Seseorang?"


Theresa menganggukkan kepalanya. "Ya, seorang laki-laki. Maaf aku lupa menanyakan namanya, tapi dia menunggumu di depan gedung."

__ADS_1


Rafa penasaran, siapakah sosok laki-laki yang mencarinya? Tidak biasanya ia menerima tamu saat jam kerja.


Rafa mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Theresa. Setelah menyusun berkasnya dengan rapi, ia segera beranjak dari duduknya dan turun ke bawah untuk menemui tamunya itu.


Pikirannya masih terus bertanya-tanya akan sosok tamu yang mencarinya. Hingga akhirnya ia keluar gedung, dan hanya ada Arthur yang berdiri disana.


Rafa memutar bola matanya, mimpi apa ia semalam hingga Arthur malah datang menemuinya. Rafa bahkan menanyakan maksud kedatangan Arthur kesini, tapi lelaki yang ia kenal sebagai kekasih Hanna itu langsung menghadiahkan sebuah pukulan yang cukup keras dibagian wajah sebelah kirinya.


Sontak itu membuat Rafa kaget, begitu pula dengan orang-orang berlalu lalang disana. Beberapa mahasiswi bahkan berteriak histeris saat Rafa jatuh tersungkur akibat pukulan dari Arthur.


Tak cukup sampai disitu, Arthur seolah tidak memberikan Rafa jeda untuk mengungkapkan pertanyaan diotaknya kepadanya. Arthur mendekat ke arah Rafa, menarik kerah kemeja Rafa dan memukulinya lagi. Hingga akhirnya Rafa berhasil mendorong Arthur dan membalas untuk menghajar Arthur.


"Jadi apa maksud kedatangan lo kesini?!" Tanya Rafa setelah puas menghajar Arthur.


Arthur meludah, lalu menyeka darah yang berada diujung bibirnya. Dia lantas mendorong Rafa untuk kemudian berdiri dan menjelaskan maksud kedatangannya mencari Rafa.


"Seharusnya elo enggak disini! Seharusnya elo enggak perlu ada disekeliling Hanna terus menerus dan membuatnya tersiksa!"


"Tersiksa?" Rafa kebingungan dengan maksud perkataan Arthur barusan.


"Karena elo, dia jadi trauma untuk menjalin hubungan dengan seseorang. Dan sejak liburan kalian ke Robin Hood's Bay, Hanna jadi semakin tersiksa!"


"E-elo tau Hanna disana sama gue?"


Arthur mengangguk. "Elo bisa tanya itu ke Giulia. Karena dialah yang memata-matai kalian selama disana, dan mengirimkan foto-foto kalian ke gue."


Rafa terdiam, tidak menyangka jika Giulia ternyata ada disana saat itu. Bahkan Giulia memotret kebersamaannya dengan Hanna dan mengirimkannya kepada Arthur. Mungkinkah itu menjadi penyebab Giulia menghindarinya?


"Elo enggak bisa percaya gitu aja dan menuduh yang enggak-enggak. Kita ke apartemen Hanna sekarang."

__ADS_1


Arthur tertawa. "Terlambat! Dia udah balik sekarang."


__ADS_2