Back To You

Back To You
Chapter 81


__ADS_3

Hari pertama setelah statusnya berubah menjadi seorang istri, Hanna merasa tidak ada yang berbeda. Dia masih 'tersegel', hanya saja kini dia harus berbagi ranjang dengan seseorang lain selama sebulan ke depan.


Pagi ini, Hanna terbangun dengan perasaan terkejut. Bukan karena Rafa melakukan sesuatu kepadanya, tapi lantaran lelaki itu tertidur dengan bertelanjang dada. Hanna menduga Rafa tertidur saat hari sudah hampir subuh, karena kini mata Rafa masih menutup dengan rapatnya.


Hanna beranjak menuju lemari bajunya untuk mengambil baju yang akan dikenakannya selepas mandi, lalu berjalan keluar kamar mandi. Karena kini ada orang lain yang sekamar dengannya, itu berarti Hanna sudah tidak bisa seenaknya saat berada di kamar. Terutama saat selesai mandi, dia sudah harus berpakaian lengkap saat keluar kamar mandi.


Setelah selesai membersihkan diri, Hanna masih mendapati Rafa yang tertidur dengan pulas. Hanna juga tidak berniat membangunkannya. Lalu dengan berhati-hati, dia berjalan keluar kamar agar tidak membangunkan Rafa.


"Kok udah bangun, Han?" tanya bundanya yang tengah sibuk memasak.


"Emang bunda ngarepinnya aku bangun jam berapa? Aku kan mau bantuin bunda masak." Hanna dengan sigap langsung mengambil pisau dan mulai memotong cabai dan duo bawang yang telah disiapkan oleh ibunya.


"Barangkali aja kamu masih capek."


Hanna menghela nafasnya saat mengetahui maksud perkataan ibunya. Dirinya memang lelah, tapi bukan karena malam pertamanya. Tapi karena acara resepsinya kemarin dan banyak pikiran yang berlalu-lalang dikepalanya.


Gosip yang sebulanan ini bertebaran di lingkungan sekitarnya saja masih mengganggu pikirannya. Gosip soal jika dia hamil duluan, makanya keluarganya dengan buru-buru menggelar acara pernikahan untuknya.


"Wah, pengantinnya rajin sekali! Pagi-pagi udah terlihat sibuk di dapur."


Kini gantian ayahnya yang menggodanya. Hanna hanya tersenyum kaku demi menyenangkan hati kedua orangtuanya.


"Rafa masih tidur?" tanya ayahnya kembali dan hanya diangguki oleh Hanna.


Hanna menggelengkan kepalanya saat ayah dan bundanya saling melempar senyum. Pikiran mereka pasti sedang terkontaminasi dengan nostalgia awal pernikahan mereka dulu, sehingga menganggap Hanna dan Rafa telah sukses menjalankan malam pertama mereka.


Terserah mereka sajalah, yang penting ayah bundanya bahagia.


......................


Jam hampir menunjukkan pukul tujuh dan tidak ada tanda-tanda kehidupan dari kamar Hanna. Setelah selesai menyusun masakan hasil karyanya dengan bundanya di meja makan, Hanna memutuskan untuk kembali masuk ke kamar.


Rafa masih tertidur, tapi posisinya telah berganti dengan guling yang telah jatuh ke lantai. Hanna merasa ragu untuk membangunkan Rafa, pasalnya dia tidak pernah mengganggu siapa pun tidur sekalipun itu adalah kakaknya. Apalagi sekarang yang harus dibangunkannya adalah Rafa, yang tengah tertidur pulas dengan bertelanjang dada.


"Kak...." Hanna membangunkan Rafa dengan hati-hati dengan menggoyang-goyangkan kaki Rafa.

__ADS_1


Rafa hanya menggeliat, lalu berubah posisi dan masih berniat untuk melanjutkan tidurnya.


"Kak Rafa." Hanna kembali menggoyangkan kaki Rafa dengan lebih kencang, membuat Rafa akhirnya mau tidak mau membuka kelopak matanya.


"Jam berapa, Han?"


"Jam tujuh lewat. Bangun gih, Kak. Mandi terus sarapan, udah ditungguin tuh."


"Hm."


Rafa mendudukkan dirinya, berceloteh bagaimana semalam ia kesusahan untuk tidur. "Jam tigaan gue baru ngantuk banget dan bisa tidur, Han."


"Terus... ngapain tidurnya enggak pake baju?" Hanna bertanya dengan terbata.


Rafa baru tersadar jika ia bertelanjang dada. Dan Rafa juga baru tersadar jika sejak tadi Hanna tidak menatapnya, mungkin karena merasa malu untuk melihatnya dengan keadaan seperti sekarang.


"Oh, ini. Semalem karena gue susah tidur, jadinya gue olahraga. Push up-lah, sit up, gitu-gitulah. Karena keringetan jadi gue lepas kaos, eh malah terus ngantuk banget dan ketiduran."


"Lain kali jangan gitu, ntar kak Rafa bisa masuk angin."


Sembari menunggu Rafa selesai mandi, Hanna mulai merapikan tempat tidur yang cukup berantakan itu. Entah bagaimana gaya tidur Rafa semalam, Hanna tidak paham bagaimana bisa ujung-ujung seprai disisi Rafa tidur itu bisa terlepas semua. Bahkan gulingnya pun sampai terjatuh ke lantai.


Beralih menuju jendela kamarnya, Hanna membuka tirai dan membiarkan sinar matahari yang telah meninggi itu masuk ke dalam kamarnya.


"Han, Rafa udah bangun?"


Hanna terlonjak kaget saat ibunya tiba-tiba saja muncul diambang pintu. Apalagi kini senyuman ibunya jauh lebih lebar dibandingkan tadi saat di dapur. Mungkin karena... ibunya melihat Hanna tengah memungut kaos yang Rafa kenakan semalam tergeletak di lantai.


"Eeee... udah, bunda. Sekarang lagi mandi."


Masih dengan senyuman lebarnya, Widya hanya ber-oh ria lalu menutup kembali pintu kamar anak bungsunya itu.


Hanna memandangi kaos Rafa yang kini dipegangnya. Sepertinya kini dia harus sering mengunci pintu kamar, batinnya.


"Han... baju kotor gue, gue satuin jadi satu sama punya lo ya."

__ADS_1


Hanna menoleh ke arah Rafa yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pipi Hanna mungkin langsung bersemu merah lantaran memandangi Rafa yang hanya memakai handuk itu. Bisa-bisanya semalam Rafa mengeluh susah tidur karena Hanna disampingnya, tapi kini justru seenaknya keluar kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk.


"Stop, kak!" Hanna berseru saat Rafa akan mengenakan kaosnya. "Aku keluar dulu, baru kak Rafa ganti baju."


Hanna lalu melempar kaos kotor Rafa ke keranjang baju kotor yang berada di depan kamar mandinya, lalu buru-buru keluar dari kamarnya. Rafa tersenyum melihat tingkah Hanna barusan, ia lupa jika gadis yang dinikahinya ini masih sangatlah polos.


Rafa segera berganti baju dengan cepat, tidak enak juga membuat keluarga Hanna menunda waktu sarapannya demi menungguinya. Ini memang bukan pertama kalinya Rafa makan bersama keluarga Hanna, tapi kali ini statusnya telah berbeda.


Meski begitu, tidak ada kecanggungan dari Rafa maupun anggota keluarga Hanna. Hanya Hanna yang terlihat canggung.


"Han, tolong ambilin nasi lagi dong." Rafa menyodorkan piringnya ke arah Hanna.


Lagi-lagi kedua orang tua Hanna saling melempar senyum, menebak jika Rafa kelaparan karena semalam telah mengeluarkan banyak energi di malam pertamanya.


"Udah nikah kok manggilnya masih nama sih, Fa." om Taufik mengomentari dengan nada bercanda.


"Oh, itu om... eee... maksudnya, Yah. Itu tadi bukan nama Hanna, tapi 'hun', H-U-N. Kalo 'honey' kan kepanjangan, Yah, jadi... Rafa manggilnya 'hun' aja hehehehe...."


Hanna hampir menampol bibir Rafa dengan sendok nasi yang dipegangnya. Bisa-bisanya bibir Rafa selihai itu dalam mencari-cari alasan.


Mungkin dikemudian hari Hanna bisa mengandalkan Rafa untuk menutupi segala kebohongan dalam hubungan mereka. Terlebih setelah pindah ke Inggris nanti, Rafa dan Hanna tidak perlu banyak bersandiwara. Kecuali jika orangtua atau keluarga mereka sedang berkunjung.


Semangat, Han. Bertahanlah sampai selesai kuliah di Inggris nanti. Hanna mencoba menguatkan dirinya sendiri.


......................


Halo gaeeesssss... enggak terasa udah chapter 80 aja. Ternyata udah panjang juga ya ceritanya hehehehe.... Sebenernya ceritanya ini itu masih panjang, cuma niatannya setelah chapter ini bakal aku cepet-cepetin gitu biar enggak makin panjang lagi. Soalnya cerita ini kayaknya bakal lebih banyak episode-nya dari cerita aku yang lain. Untuk season satunya aja ya, bukan episode plus chapter lanjutannya 😅


Terima kasih juga atas dukungan & hadiah yg udah kalian berikan untuk cerita ini. Meskipun banyak yang kecewa karena alurnya tidak sesuai dengan keinginan kalian, tapi... ya liat aja nanti deh ya. Aku sih berharap endingnya baik untuk semua 🤗


Yang belum baca Cupcake's Love, Menikah sama Lean On Me, mungkin bisa mampir kesana dulu ya, sambil nunggu yang disini update hehehehehe....


Btw, dari keempat cerita yang udah aku bikin, kalian lebih suka yang mana? Kasih tau dong alasannya, daku penasaraaaannn... 🤭 (Tulis dikomen ya hehehehehehe....)


Thank you ❤️

__ADS_1


__ADS_2