
Setelah berhasil membuat Hanna menyetujui permintaannya, Rafa terlebih dulu membawa Hanna untuk makan siang sebelum berkeliling. Interaksi mereka sangatlah canggung, Hanna bahkan terlihat sangat jelas menjaga jarak dengan Rafa.
Tidak banyak percakapan diantara mereka, Hanna juga hanya berucap saat Rafa bertanya kepadanya. Sedangkan Rafa terus saja berusaha mencairkan suasana canggung diantara mereka.
"Kata Wildan kamu mau lanjut kuliah disini?" Tanya Rafa disela-sela makan siang mereka.
"Belum pasti, ada banyak pertimbangan yang harus aku pikirin." Hanna menjawab tanpa menatap ke arah Rafa. Gadis itu memilih untuk tetap fokus menatap dan menikmati halibut steak yang dipesannya.
"Jadi kamu betah disini? Padahal makanannya gini-gini aja. Rata-rata menunya fish and chips, rasanya juga hambar kalo menurutku. Cuma masakan kiriman mama yang nolongin aku bertahan hidup disini."
"Yaudah, kak Rafa balik aja kalo gitu."
Rafa mendongakkan kepalanya, menatap Hanna yang masih tampak cuek kepadanya itu.
"Aku janji sama om Taufik untuk jagain kamu disini sampai selesai kuliah."
"Dan aku udah lulus sekarang, jadi kak Rafa bisa pulang."
"Kan kata Wildan kamu mau lanjut kuliah, berarti tugasku belum kelar dong."
Hanna terdiam, sambil memandangi Rafa yang nampak asik menyuap makanan ke dalam mulutnya. Hanna merasa enggan menimpali perkataan barusan. Dirinya tidak ingin terlibat adu argumen lebih jauh dengan pria dihadapannya ini, sebab Rafa pasti mempunyai berjuta alasan untuk mendebatnya.
"Kita bisa menikmati liburan disini bersama, tolong kesampingkan cerita yang pernah ada diantara kita sebelumnya. Hanya hari ini aja, aku pengen kita jalan bareng kayak Rafa dan Hanna beberapa tahun lalu."
"K-kenapa?" Hanna tidak mengerti dengan perasaannya sekarang.
Disisi lain, dia merasa geram dengan Rafa yang begitu banyak permintaan. Tapi disisi lain, dia juga merindukan masa-masa mereka dahulu yang sering jalan-jalan bersama. Saat Hanna masih duduk dibangku SMA.
"Kenapa aku harus nurutin semua perkataan kak Rafa?" Imbuh Hanna.
Rafa meletakkan garpu dan sendok makannya, lalu meraih lap makan dan menyeka mulutnya.
"Kalo aku harus pulang dan ngelepasin kamu untuk orang lain, seenggaknya aku ada kenangan manis untuk aku ingat terakhir kalinya."
__ADS_1
Kedua pasang mata itu saling menatap. Tidak tahu apa yang sedang mereka pikirkan, dan keputusan apa yang akhirnya akan diambil oleh Hanna.
...****************...
Sebenarnya menghabiskan waktu untuk berlibur dengan Rafa tidak sepenuhnya mengesalkan. Meskipun sifatnya kini menjadi lebih pemaksa, tapi Rafa tidak sepenuhnya berubah. Lelaki itu masih saja royal terhadap Hanna dengan membayar setiap barang yang dibeli oleh Hanna. Sama seperti dulu, saat mereka sering menghabiskan waktu bersama.
Setelah menyelesaikan makan siang dan mengunjungi Robin Hood's Bay Museum, keduanya kembali berkeliling. Kali ini Hanna meminta untuk berkunjung ke sebuah toko yang direkomendasikan oleh Eleanor. Toko yang menjual beraneka ragam souvenir.
Saat Hanna sedang asik melihat-lihat, dia dikagetkan dengan pergerakan Rafa yang memakaikan beanie dikepalanya.
"Kita beli ini, oke? Sebentar lagi bakal masuk musim dingin, dan aku enggak pernah liat kamu pake beanie."
Hanna menoleh ke arah Rafa, dan ternyata Rafa juga sedang memakai beanie. Hanna berdecak kesal, lalu melepas beanie dari kepalanya.
"Kita bukan pasangan yang bisa pakai beanie samaan."
"Emang kalo pake beanie gini harus pacaran dulu? Kan mereka bikin kayak gini enggak cuma dua, pasti banyak juga yang punya beanie begini."
"Aku mau warna lain." Jawab Hanna mengalihkan perhatian Rafa terhadapnya.
Dia lantas berjalan menuju rak display, dilihat beberapa beanie yang tersisa disana. Tidak ada warna bisa dipilihnya, karena hanya tersisa warna orange dan mustard yang tidak disukainya.
Rafa meraih beanie yang digenggam oleh Hanna, dan kembali memakaikannya dikepala Hanna.
"Aku tau kamu enggak suka warna-warna itu, makanya aku ambil yang ini." Rafa merapikan anak rambut Hanna.
"Ada yang mau dibeli lagi?" Tanya Rafa yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Hanna.
Lelaki itu segera mengambil alih beberapa barang yang telah dipilih oleh Hanna dan membawanya ke kasir. Membayar barang-barang belanjaan mereka, lalu melanjutkan berkeliling.
Bukan Rafa namanya jika tidak pintar mencuri-curi kesempatan. Ketika mereka berada di jalanan yang begitu ramai dengan wisatawan, Rafa dengan sadar dan sengaja langsung menggandeng tangan Hanna. Lelaki itu menautkan tangannya dengan erat, tidak peduli seberapa keras usaha Hanna untuk melepaskan tangannya.
Meskipun merasa tidak nyaman, tapi akhirnya Hanna pasrah saja saat genggaman tangan mereka tidak terurai juga. Yah, setidaknya Hanna memiliki pemandu untuk berkeliling Robin Hood's Bay tanpa takut tersesat.
__ADS_1
Setelah berkeliling beberapa saat, mereka beristirahat di sebuah bangku yang menghadap ke teluk. Tampak beberapa orang dan anak-anak yang sedang asik mencari kerang disana.
Rafa menyerahkan sebotol air mineral kepada Hanna yang tampak kelelahan setelah dipaksanya utk berkeliling.
"Kenapa pilih Robin Hood's Bay untuk berlibur?"
"Cuma pengen." Jawab Hanna singkat setelah meminum beberapa teguk. "El pergi kesini bulan lalu, dan tiba-tiba aja pengen pergi kesini. Kalo kak Rafa?"
Rafa tertawa pelan. "Enggak tau. Waktu itu enggak sengaja liat blog wisata gitu, terus langsung pengen kesini. Malah enggak taunya kita ketemu, kamar hotelnya hadap-hadapan pula, kayaknya emang kita berjodoh."
Hanna hanya tersenyum sekilas, lalu merogoh ponselnya yang bergetar di dalam sling bag-nya itu.
"Arthur?" Tanya Rafa dan diangguki oleh Hanna.
"Angkat aja, aku enggak akan bersuara."
Merasa risih karena ada Rafa di dekatnya, Hanna memilih untuk menjauh dari posisi duduk Rafa. Berbicara beberapa saat dengan kekasihnya yang kini tengan pulang ke London, sambil sesekali melirik ke arah Rafa.
"Arthur mau nyusul?" Tanya Rafa saat Hanna kembali ke bangku tempat mereka duduk.
"Enggak, dia cuma nanyain kabar aku aja.
Hanna melirik ke arah jam tangannya, sebentar lagi tampaknya matahari akan sepenuhnya tenggelam. Keduanya saling terdiam, tak ada pembicaraan diantara keduanya. Seolah mereka sedang asik memandangi matahari yang akan terbenam, tanpa ingin diganggu gugat.
Setelah matahari sepenuhnya terbenam, Hanna segera beranjak dari duduknya. Menenteng beberapa paper bag barang belanjaan mereka dan mengulurkan tangan kanannya kepada Rafa.
"Matahari tenggelam lebih cepat disini, jadi aku enggak mau buang-buang waktu kita dengan duduk diam disini."
Rafa tercengang, memandangi Hanna yang kini berdiri di depannya dan tangan yang terulur kepadanya. Padahal tadi Hanna begitu menolak untuk berjalan-jalan dengannya, kenapa sekarang begitu bersemangat?
"Kita habisin waktu selama disini bareng-bareng, tapi sebagai Hanna dan Rafa tiga tahun yang lalu. Aku juga ingin punya kenangan manis berpisah sebagai istri kak Rafa. Karena dulu aku enggak ngedapetin itu, jadi aku akan minta sekarang."
Senyuman merekah langsung terukir diwajah Rafa. Ia segera bangkit dan memeluk Hanna dengan eratnya. Dalam hati mensyukuri pilihan tepatnya untuk berlibur kesini.
__ADS_1