
"Good morning."
Rosé membuka mata lebar. Mendongak dalam pelukan Vee. "Kita berhasil!!" ucapnya sedikit serak karena memang baru saja terbangun dari tidur.
Vee mengerutkan alis, "Berhasil?" tanyanya spontan.
Rose melepaskan rengkuhan, lalu bersandar di kepala ranjang. Pakaian wanita itu lengkap. Semalam setelah melakukan adegan panas, ia langsung membersihkan diri supaya tidak ada drama di pagi hari dengan dalih terkejut karena tubuh sama-sama telanjang.
"Iya, kita berhasil melakukannya semalam." ungkapnya tanpa ragu.
Vee mengerling. "Kamu bahagia?" tanyanya sedikit menggoda.
Rosé mengangguk. "Tentu saja. Sejak kapan kamu sok-sok-an tanya, biasanya langsung peka." mengatakan dengan mendengus, namun justru membuat Vee menyengir kuda.
Membenahi posisi menjadi duduk di samping Rosé, Vee memandang lekat wajah istrinya. Masih menjadi kejutan yang tidak pernah ada habisnya, apalagi saat pertama membuka mata, Rosé lah yang menjadi pemandangan pertama. Vee sangat bahagia.
"Aku masih sedikit kaget saat bangun, pertama kali yang aku lihat wajah kamu." Bukan Vee yang mengatakan itu, melainkan Rosé.
"Kamu bisa baca pikiranku?" tanyanya Vee seolah terkejut.
"Emang kamu lagi mikirin hal yang sama?"
Vee menganguk sembari mengelus pipi Rosé. Wanita itu menikmati sentuhan halus dari suaminya, jujur ia sangat bahagia, entah berapa kali pun mengatakan, ia memang benar-benar bahagia.
"Kamu mau anak berapa?" tanya Rosé tiba-tiba membuat Vee termangu sesaat sampai menurunkan tangan dari pipi Rosé, membenahi duduknya menjadi tegak.
Rosé cari mati apa bagaimana, itu pemikiran Vee sejauh ini. Bagaimana mungkin istrinya menyinggung hal sensitif yang selama ini menjadi boomerang bagi hidupnya. Bahkan karena alasan ini, Rosé beberapa kali menghindar dan ogah-ogahan kembali padanya.
Mulut Vee kaku, beberapa kali meneguk ludah juga. Mau dijawab seperti apa juga tidak bisa. Andai saja keadaan normal, Vee dengan sangat lantang akan mengatakan jika ia ingin punya anak lima, iya, lima adalah bentuk sempurna menurutnya meskipun akan menjadikan sang istri sebagai pabrik pencetak anak.
__ADS_1
Rosé mengelus pundak telanjang suaminya, "Hei, kok diem sih?"
"Kamu mau sarapan apa pagi ini?" tanya Vee mengalihkan perhatian sembari mengulas senyum teduh. "Lemari es masih kosong, kita ke supermarket dulu. Ayo siap-siap."
Vee tidak ingin membahas sesuatu hal yang tidak mungkin. Ia sangat takut membuat Rosé sedih bahkan tertekan. Masih sangat ingat pesan dari kakaknya Niko. Jangan membuat Rosé tertekan. Bukan karena wanti-wanti itu saja. Mana tega juga Vee membuat Rosé memaksakan diri.
Rosé tersenyum lagi. Ia sangat tahu apa yang ada di dalam kepala suaminya. Bingung kepalang sudah pasti. Rosé beberapa hari mencoba berdamai dengan masa lalu. Mulai mengandalkan logika, bukan penyakit jiwa yang tidak ada ujungnya.
"Kamu pengen punya anak berapa? Yang bakal aku keluarin dari perutku?" tanya Rosé mengulang, tangan Vee dituntun juga untuk menyentuh perutnya.
Perasaan Vee tidak karuan. Ada apa dengan istrinya. Kalaupun bercanda, itu sangat keterlaluan. Jika pun serius, itu sangat diluar dugaan. "Ma-maksud kamu ap..."
"Aku serius, sayang." sergah Rosé masih dengan tenangnya.
Vee melepas genggaman tangan Rosé, "Kalau kamu bilang ini bercanda, sumpah demi Tuhan, nggak lucu." suara berat dengan tatapan tajam dari Vee membuat Rosé terhenyak.
Rosé berharap kejutan yang ia buat mampu membuat pagi Vee bersemangat. Mengungkap jika ia mampu menjadi wanita seutuhnya di hadapan suaminya langsung. Namun respon dari Vee di luar dugaannya.
"Dia marah!!! Serius!!!"
Rosé tak kalah kacau, bingung juga jadinya. Maka dari itu, ia langsung berjingkat untuk meninggalkan ranjang dan langsung berlari kecil menyusul Vee keluar kamar.
"Kanesh," panggil Rosé sedikit keras saat ia berada di ruang tamu, namun nihil, ia tidak menemukan bayangan Vee sekalipun.
Rumah ini sangat luas. Memang setelah acara resepsi tempo hari, Rosé dikejutkan oleh Vee dengan membawanya langsung ke kediaman ini. Lokasinya tak jauh dari rumah Niko dan Hana, dan tentu juga tak jauh dari Rumah Sakit dimana mereka bekerja—sangat strategis.
Rosé melihat pintu menyibak, tak begitu lebar. Karena penasaran, tungkai wanita itu menuntun untuk masuk ke dalam. "Aah, ada tempat gym juga." gumamnya.
Saat Rosé akan meninggalkan ruang gym, tak di sangka, siluet yang tercetak dilantai membuat ia berbalik lagi, Vee berdiri disana dengan telanjang dada, menggunakan sepatu sport juga.
__ADS_1
"Kamu mau olahraga?"
Vee bergumam mengiyakan, masih sangat sebal dengan tingkah Rosé yang merasa tidak berdosa. Vee sebenarnya hanya tidak tega jika mengungkit soal peranakan di hari pertama mereka tinggal bersama.
Rosé menghampiri Vee yang tak berada jauh darinya. Perangainya begitu gelap, baru pertama kali ini Rosé melihat. "Kamu pasti kaget!" ucapnya hati-hati.
"Tolong, jangan dibahas!!" Pinta Vee tegas.
"Tunggu penjelasanku, aku tidak bercanda, sungguh, Kanesh please, jangan marah." Rosé sudah membendung air mata di pelupuknya.
"Ya Tuhan." Vee menggerang, menarik Rosé dalam pelukannya. Berdosa sekali telah membuat istrinya hampir menangis di pagi hari. Vee menikahi Rosé untuk membuat wanita itu bahagia, bukan untuk menumpahkan air mata.
"Aku bisa jelasin, tolong, kamu dengerin aku, jangan marah." pinta Rosé lagi yang masih dalam pelukan.
Vee mengangguk beberapa kali, lengannya mengelus punggung Rosé untuk menenangkan.
"Aku sedang mencoba berdamai dengan masa laluku, Kanesh. Tentang kecelakaan, penusukan, bahkan tentang gangguan mental. Aku ingin sembuh, aku sedang berusaha, demi kamu, demi kita, demi pernikahan kita, demi menebus kesalahanku padamu, demi menebus keegoisanku karena meninggalkanmu, bantu aku," ucap Rosé tak begitu lancar dengan nada parau mendengung ucapannya.
Vee baru sadar. Inilah yang dimaksud oleh Niko. Kakanya itu hanya menyuruh Vee untuk menunggu sampai Rosé dengan sendirinya membuka jalan untuk kembali.
"Maaf, maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku kira kamu hanya sedang bergurau saat menanyakan aku ingin anak berapa, jadi..."
Vee menggantung ucapannya, melepas pelukannya, lalu memegang pundak Rosé, memandang mata basah istrinya sembari menunduk memastikan semua yang akan ia ucapkan.
Rosé mengangguk seolah tahu apa yang ada dikepala Vee saat ini. "Aku bisa hamil, aku bisa Kanesh," ucapnya meyakinkan Vee.
Tanpa di duga, setetes air bening meluncur dari mata Vee. "Kamu hutang penjelasan. Tapi saat ini aku cuma pengen peluk kamu sampai mampus." ucapnya.
Roséa tersenyum, "Silahkan tuan." ucapnya.
__ADS_1
Keduanya tertawa sembari membagi kehangatan lewat pelukan di bawah sinar matahari yang membentang meluncur lewat celah jendela.