
Jetlag kembali dirasakan Hanna saat dirinya baru saja sampai di London. Rafa sengaja memilih penerbangan malam dengan satu kali transit di Istanbul agar Hanna tidak bisa tertidur selama perjalanan dan tidak merasa lelah. Tapi tetap saja Hanna mengeluh capek setelah delapan belas jam empat puluh lima menit mereka, lebih cepat dari penerbangan pertamanya saat bersama Rayyan dan keluarganya.
Sambil menunggu koper mereka keluar bagasi, Rafa sibuk mencari sewa mobil yang akan mengantarkan mereka ke Bristol. Sementara Hanna baru saja selesai bertelepon, tak jauh dari tempat Rafa sedang berdiri sekarang.
"Kak, aku... balik sama temen ya? Dia... udah ada di pintu kedatangan."
"Temen? Siapa?" selidik Rafa. Karena setahu Rafa, Hanna hanya dekat dengan Eleanor. Sangat tidak mungkin Eleanor akan menempuh perjalanan jauh dari Bristol ke London untuk menjemput Hanna.
"Eee... temen kuliah."
"Eleanor?" Tanya Rafa yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Hanna.
"Terus siapa? Jangan temen yang enggak jelas, ntar lo dibawa kabur sama dia."
"Enggak akan, kak. Dia anaknya baik kok, sering nganterin aku pulang juga."
Rafa langsung menolehkan kepalanya ke arah Hanna dengan tatapan tajam. "Oh, jadi temen lo yang jemput sekarang ini cowok kan? Udah berapa kali lo jalan dan dianter balik sama dia?"
"Kak Rafa apaan sih? Orang cuma nganterin pulang doang. Ya kalo pergi mainnya tetep bareng sama yang lain." Hanna memanyunkan bibirnya, merasa kesal karena respon Rafa terlalu berlebihan.
"Enggak-enggak, kita sewa mobil aja. Gue pesen nih ya."
"Iihhh... Kak Rafa, enggak bisa gitu dong! Dia udah jauh-jauh kesini juga. Kalo enggak, kak Rafa aja yang naik mobil sewanya sendirian. Aku balik sama Arthur."
"Oh, jadi namanya Arthur? Jadi yang ngedeketin elo sekarang itu bule? Tau enggak dia kalo lo udah nikah?"
"Ya taulah. Kak Rafa ikut mobil Arthur sekalian ajalah, daripada bawel begini." jawab Hanna dengan kesal, lalu berjalan mendekat ke carousel karena koper para penumpang telah mulai keluar.
Tidak ada jawaban dari Rafa. Ia langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana tanpa menyelesaikan perihal sewa mobilnya. Rafa berniat ikut serta dalam mobil teman Hanna itu. Setidaknya untuk memastikan jika temannya itu tidak bisa macam-macam kepada Hanna.
__ADS_1
...****************...
Hanna melambaikan tangannya ke arah Arthur yang sudah lumayan lama menunggunya keluar di pintu kedatangan. Rafa yang berjalan dibelakangnya, memutar bola matanya saat Hanna dan Arthur saling tersenyum dengan lebarnya.
"Oh, aku enggak tau kalo kalian akan pulang bersama." Ucap Arthur sambil menyodorkan tangannya ke arah Rafa. Tapi Rafa tidak mau menjabat tangannya. Rafa malah tersenyum sinis.
"Tentu saja aku dan Hanna akan pulang bersama, kita kan suami istri. Cepat tunjukkan dimana mobilmu! Aku sudah lapar karena tadi hanya sarapan sedikit di pesawat." Rafa melenggang lebih dulu, meninggalkan Hanna dan Arthur yang masih mematung ditempatnya. Dan Hanna merasa geram karena sikap Rafa barusan.
"Ayo, kita ke mobil sekarang. Biar aku bawakan kopermu." Arthur langsung mengambil alih koper milik Hanna.
"Arthur, jangan. Koper itu berat."
"Tidak masalah, Hanna. Ini tidak terlalu berat bagiku."
"Tapi-"
"Oh, ayolah! Aku kelaparan, dan kalian malah masih disitu memainkan drama rebutan koper."
Arthur segera melangkah, yang kemudian diikuti oleh Hanna. Sesampainya diparkiran, Arthur yang baru saja membuka bagasi mobilnya untuk memasukkan koper Hanna dikejutkan oleh suara koper Rafa yang diletakkan secara sembarangan. Lelaki itu bahkan seakan tidak peduli dan langsung saja duduk dikursi penumpang yang depan. Tujuannya pastilah mencegah agar Hanna dan Arthur tidak duduk berdekatan dan mengabaikan dirinya.
Rafa menolak saat Arthur menawarkan untuk makan di restoran yang berada di bandara. Sesuai permintaan Rafa, Arthur mencari sebuah restoran setelah keluar dari bandara sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Bristol. Dan pilihan Arthur jatuh pada restoran seafood.
"Restoran ini terlalu mahal untuk anak kuliahan, Arthur. Kalau cuma seafood, kan ada banyak tuh restoran yang harganya lebih terjangkau. Minuman yang paling murah aja tiga poundsterling, itu pun cuma dapet coke. Untuk makanan juga cuma Surf and Turf doang yang paling murah, itu pun harganya sepuluh poundsterling."
Rafa terus-terus saja berkomentar, membuat Hanna tidak tahan untuk mencubit pinggang Rafa.
"Apaan sih, Han?" Rafa mengaduh sambil mengusap-usap pinggangnya yang terasa sakit karena cubitan Hanna.
Hanna tidak menjawab, dia hanya melotot ke arah Rafa. Meminta Rafa untuk diam dan tidak banyak berkomentar lagi. Arthur yang melihat interaksi antara Hanna dan Rafa pun tersenyum.
__ADS_1
"Tapi makanannya sangat enak, setidaknya makanan disini juga halal untuk kalian."
"Jadi kamu sering ke London dan makan disini?" Tanya Rafa, dan lagi-lagi membuat Hanna semakin kesal.
"Udah deh, kak. Diem aja kenapa sih? Arthur ini orang London, ya pastilah dia tau tempat-tempat makan disini dan wajar kalo sering kesini." Hanna berbicara dengan nada setengah berbisik, dan juga menggunakan bahasa Indonesia agar Arthur tidak mengerti dengan apa yang tengah dia katakan.
"Oohh, jadi kamu berasal dari London? Lalu kenapa malah memilih kuliah di Bristol? Disini kan banyak universitas yang bagus dan lebih baik dari Bristol." Ucap Rafa yang semakin menyulut kekesalan Hanna yang tiada tara itu.
Tetapi Arthur menanggapinya dengan santai. "Takdir yang membawaku untuk berkuliah di Bristol."
"Cih, takdir." Gumam Rafa sembari menggelengkan kepalanya.
Tak lama, dua orang pramusaji datang untuk menghidangkan makanan pesanan mereka. Arthur terlihat senang dengan ekspresi wajah Hanna yang begitu bahagia melihat makanan pesanannya. Berbeda dengan ekspresi wajahnya saat keluar bandara hingga beberapa detik yang lalu, yang terlihat kesal dengan sikap suaminya yang menyebalkan itu.
Berbanding terbalik dengan Arthur, Rafa justru terlihat tidak senang saat ada lelaki lain yang mengagumi istrinya. Tatapan mata dan senyuman Arthur bahkan membuat Rafa jijik karena terlalu dalam saat berinteraksi dengan Hanna. Seolah Arthur yakin jika tatapan mata dan senyumannya dapat meluluhkan hati Hanna.
"Nikmati makanan kalian, untuk semua pesanan ini... aku yang bayar." Kata Arthur yang lagi-lagi melemparkan senyuman manisnya.
"Ngomong kek dari awal, jadi gue bisa pesen makanan yang mahal sekalian."
"Kak...." Hanna dengan sengaja memukul lengan Rafa dengan keras. Selain menyebalkan, ternyata Rafa jyga tidak tahu malu dan sopan santun juga.
"Maaf, Arthur. Dia jadi menyebalkan karena harus berjauhan lagi dengan keluarganya, jadi mood-nya jelek banget "
"Tidak masalah, Hanna. Makanlah, kau suka lobster kan?" Ucap Arthur sembari meletakkan lobsternya ke piring Hanna.
Rafa mendengus kesal. Lagi-lagi ia harus menjadi penonton drama yang Arthur buat. Kesal karena Arthur dan Hanna seolah-olah seperti pasangan yang malu-malu kucing, dengan gerakan cepat tangannya telah berhasil menyomot lobster milik Arthur yang diberikan untuk Hanna.
"Berisik banget lo berdua." Rafa berucap dengan santai sambil menikmati lobster yang baru saja dicomotnya.
__ADS_1