
Rafa menepati perkataannya. Ia tidak berbuat hal lain dan hanya membiarkan Hanna tidur disampingnya. Sebelum tertidur, keduanya saling bertukar cerita. Cukup lama, hingga akhirnya Hanna menyerah dan tertidur terlebih dahulu.
Setelah mengambil beberapa potret Hanna yang tengah tertidur, Rafa memilih untuk mengamati Hanna beberapa saat. Sembari tersenyum, hatinya bertanya-tanya bagaimana bisa ia akhirnya jatuh hati pada Hanna. Mungkin ini adalah karma, karena dulu ia sering mengejek Hanna.
Keberadaan Hanna disebelahnya, nampaknya bisa membuat Rafa tidur lebih nyenyak dari biasanya. Lelaki itu bahkan tidak terbangun saat alarm dari ponsel Hanna berbunyi. Padahal ia menjanjikan Hanna untuk melihat matahari yang akan terbit dari ujung teluk.
Setelah mematikan alarm-nya, Hanna menoleh kearah lengan kanannya yang dipeluk oleh Rafa layaknya sebuah guling. Entah sejak kapan Rafa memeluk lengannya seperti itu, bisa jadi sejak semalam atau beberapa saat sebelum dia terbangun.
Hanna mencoba melepaskan dirinya dari Rafa. Dekapan tangan Rafa tidak begitu erat, Rafa juga tidur dengan pulasnya, jadi sepertinya sangat mudah bagi Hanna untuk melepaskan diri dan tidak membangunkan Rafa.
Hanna pun tidak ingin mengganggu tidur Rafa. Lelaki itu harus mengumpulkan tenaga untuk menyetir selama perjalanan pulang mereka. Jadi dia memutuskan untuk menikmati sunrise sendirian dari balkon kamar hotel Rafa. Tak lupa Hanna memotret penampakan sunrise yang memanjakan mata itu. Siapa tahu nanti sang pemilik kamar akan merasa kecewa karena melewatkan sunrise dari Robin Hood's Bay.
Setelah matahari benar-benar terlihat sempurna, Hanna memutuskan untuk mengambil barang bawaannya semalam dan kembali ke kamarnya. Dia berjalan mengendap-endap, meminimalisir suara agar tidak membangunkan Rafa dan berhasil keluar untuk berpindah ke kamarnya.
......................
Suara ketukan pintu terdengar begitu kencang. Hanna yang baru saja selesai mandi berjalan menuju pintu sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Hanna sudah menduga jika Rafa yang mengetuk pintu kamarnya. Lelaki itu pasti merasa kaget saat terbangun dan menyadari dirinya telah meninggalkan kamar Rafa.
"Aku pikir kamu udah kabur balik duluan." Ucap Rafa dengan lega.
Tampaknya Rafa baru saja bangun dari tidurnya. Tanpa disuruh masuk, dengan muka bantalnya dan tanpa alas kaki, Rafa langsung saja berjalan masuk ke kamar Hanna. Rafa melempar ponselnya ke arah kasur Hanna sebelum akhirnya ia membaringkan dirinya disana.
"Kan belum waktunya check out, ini juga masih terlalu pagi untuk balik ke Bristol." Jawab Hanna sembari menutup pintu kamarnya.
"Aku telpon kamu berulang-ulang enggak diangkat. Aku ketok-ketok pintu juga dari tadi tapi enggak ada jawaban, wajar dong aku pikir kamu balik duluan."
Hanna tersenyum, lalu berjalan menuju sudut kamar dan meraih telepon yang berada di kamar hotelnya.
"Aku pesen room service dulu deh ya buat sarapan."
"Kamu enggak mau sarapan keluar aja? Sekalian kita jalan-jalan bentar sebelum balik." Ujar Rafa sembari mendudukkan dirinya.
__ADS_1
"Emangnya kak Rafa enggak capek?"
Rafa menggelengkan kepalanya. "Capek kenapa? Kan semalem kita enggak ngapa-ngapain."
Hanna tidak menghiraukan, karena dia tahu arah percakapan Rafa akan kemana. Nampaknya lelaki itu tidak berubah setelah sekian tahun dia mengenalnya.
"Bercanda, Han. Serius amat sih wajahnya. Yaudah kamu pesen room service aja, tapi nanti kita check out lebih awal. Kita jalan-jalan dulu bentar gimana?"
"Mau kemana lagi sih, kak?"
"Kemana aja. Mau disekitaran sini boleh, atau mampir ke York?"
"Enggak ada acara jalan-jalan lagi, kita langsung balik ke Bristol "
"Kenapa?"
"Karena... perjanjian jalan-jalan kita hanya berlaku disini."
Rafa terlihat kecewa dengan keputusan Hanna, tapi ia juga tidak memaksa. Terlebih waktunya hanya tinggal hari ini saja. Karena setelah mereka kembali ke Bristol nanti, Rafa tidak akan memiliki kesempatan sedikit pun untuk dekat dengan Hanna seperti ini.
Acara menghabiskan sisa waktu bersama Hanna tampaknya tidak sesuai dengan rencana Rafa. Meskipun berhasil membawa Hanna makan siang bersama sebelum mereka pulang, nyatanya dirinya tidak bisa menikmati makan siangnya dengan Hanna.
Sejak masuknya panggilan video dari Arthur, Hanna harus berpindah duduk menjauhi Rafa. Sialnya, Arthur malah tidak menutup teleponnya saat Hanna akan memulai makan siangnya. Pria yang menjalin hubungan dengan Hanna selama lebih dari setahun ini malah tetap asik berbicara. Menceritakan segala sesuatu yang terjadi di rumah orangtuanya selama seminggu ini.
Hal itu tentu saja membuat Rafa menjadi kesal. Pasalnya sisa waktunya bersama Hanna justru terbuang sia-sia karena terambil oleh Arthur.
Seharusnya Rafa sudah mengetahuinya sejak awal. Inilah salah konsekuensi yang harus ia dapatkan saat diam-diam berduaan dengan pasangan orang lain. Karena pasti ia akan terabaikan disaat Hanna sedang menutupi kebohongannya.
Niatannya untuk mampir ke York untuk jalan-jalan sebentar juga tidak terlaksana. Lantaran Hanna menolak dan menginginkan sampai di rumah dengan cepat. Hanna merasa takut jika Arthur akan tiba-tiba muncul di apartemennya. Sepanjang perjalanan juga Hanna disibukkan dengan ponselnya, untuk membalas pesan-pesan yang dikirimkan oleh Arthur.
Sepertinya memang waktu Rafa bersama Hanna sudah habis sejak mereka berdua check out dari hotel siang tadi. Apalagi saat Rafa berhenti di halaman apartemen Hanna sebentar lagi, semuanya akan benar-benar berakhir.
__ADS_1
"Makasih banyak ya, kak. Kak Rafa enggak usah turun, aku balesin pesan dari kak Wildan dulu."
"Wildan tau kalo kamu jalan-jalan disana sama aku?"
Hanna menoleh, lalu menggelengkan kepalanya.
"Kalo kak Wildan tau, mungkin hape kak Rafa akan berisik sama panggilan telepon dari kak Wildan."
"Apalagi kalo dia tau soal ciuman kita semalam, terus kita juga tidur sebelahan. Bisa-bisa dia langsung ngurus penerbangan buat kesini."
"Bukan cuma kak Wildan, tapi om Adit dan abang Rayyan juga."
Hanna segera melepaskan sabuk pengamannya, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas dan bersiap untuk turun.
"Han!" Rafa mencekal pergelangan tangan Hanna yang hendak menarik handle pintu itu. Kemudian menarik tubuh mungil Hanna ke dalam pelukannya.
"Kalo ada kesempatan, apa bisa kita jalan berdua kayak gini lagi?"
Hanna terdiam. Dia masih terkejut dengan pelukan tiba-tiba yang dilakukan oleh Rafa, dan sekarang Rafa mengajukan pertanyaan yang entah harus dia jawab apa.
"Tolong jangan ngehindarin aku lagi, Han."
Hanna mengusap punggung Rafa dengan lembut. Dia memilih untuk tidak bersuara, dan hanya membalas pelukan mantan suaminya itu. Setelah melepaskan pelukan dari Rafa, Hanna segera keluar dari mobil dan mengambil tasnya dibagasi belakang. Lalu melambaikan tangan ke arah Rafa dan tersenyum manis kepadanya.
Dengan senyuman yang masih merekah dibibirnya, Hanna segera berjalan masuk dan menuju unit kamarnya. Ada seseorang yang harus dihubunginya dengan segera. Seseorang yang menawarinya pekerjaan.
"Kamu serius, Han? Udah dipikirin dengan matang, kan?" Tanya lawan bicara Hanna ditelepon.
"Iya, udah." Hanna menjawab sambil melongok ke arah jendela, melihat apakah masih ada mobil Rafa dibawah sana.
"Kamu tau kan konsekuensi apa yang akan kamu hadapi kalo kamu mengiyakan penawaranku ini?"
__ADS_1
"Iya, aku tau."
"Oke, kalo begitu aku akan urus semuanya. Aku akan kabari kalo semuanya udah siap."