
"Aku serius, Hanna. Aku lihat suamimu sedang makan siang di Parsons dengan seorang wanita. Mereka bahkan duduk dengan jarak yang cukup dekat, dan... dan asik tertawa bersama."
Sedari tadi, Eleanor terus mengekori Hanna yang sedang sibuk mencari buku di sebuah toko buku. Eleanor tiba-tiba menelpon Hanna dan mengatakan ada hal penting yang harus dikatakan olehnya. Ternyata hal penting yang dimaksud adalah perihal si playboy buaya putih yang sudah mulai aktif pergerakannya.
"Tenanglah, El. Kamu tidak perlu seheboh itu, biarkan saja mereka seperti itu. Aku tidak masalah." jawab Hanna dengan santai yang langsung membuat Eleanor tercengang.
"Kau... tidak cemburu sama sekali?"
Hanna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Eleanor. "Percuma saja, El. Dia tidak akan mengerti."
Hanna melenggang melewati Eleanor dengan sebuah buku ditangannya. Lalu dengan langkah cepat, Eleanor menyusul Hanna untuk kembali bersuara.
"Tapi dia suamimu, Hanna. Bagaimana mungkin kamu bisa sesantai ini saat dia tengah asik berduaan dengan wanita lain? Dan kau bilang malah percuma, apa dia memang seorang playboy?"
"Hm, anggaplah begitu. Jadi tolong jangan bertanya lebih lanjut ya? Aku akan membayar buku ini dulu."
...****************...
Seperti hari-hari sebelumnya, Hanna selalu pulang ke rumah dalam keadaan sepi. Rafa tidak pernah pulang lebih awal, pria itu selalu mengatakan ada banyak hal yang harus dikerjakan. Banyak tugaslah, akan nongkrong dengan beberapa temannyalah, dan alasan lainnya.
Hanna tidak peduli dengan itu semua. Karena bagi Hanna sekarang, semakin sedikit waktunya untuk bertemu dengan Rafa, maka itu jauh lebih baik. Namun perkiraan Hanna kali ini salah, Rafa bahkan telah kembali ke rumah sebelum dia selesai memasak untuk makan malam.
__ADS_1
"Tumben jam segini udah di rumah?"
Perkataan Hanna barusan langsung membuat Rafa yang sedang meminum air pun tersedak. Buru-buru Rafa menyeka air disekitar mulutnya dan melayangkan protes kepada Hanna.
"Maksud lo apa?"
"Ya kan biasanya kak Rafa balik setelah makan malam, kenapa sekarang balik sebelum jam makan malam? Enggak ada yang ngajakin dinner ya?"
"Apaan sih, Han? Gue balik awal karena gue lagi enggak enak badan, jadi gue enggak ikut Erick dan yang lain makan diluar."
"Tapi aku masaknya cuma seporsi loh, salah sendiri sih enggak bilang kalo mau makan diluar."
Rafa melongok ke arah panci yang berada di depan Hanna. Ya, memang terlihat jika Hanna tengah memasak sup daging yang cukup untuk satu porsi. Karena memang akhir-akhir ini Rafa sendiri jarang makan malam di rumah.
Hanna menghela nafasnya, lalu berjalan ke arah kulkas yang berada di belakang Rafa untuk mengambil dua butir telur.
"Gue bilang kan gue yang rebus." Rafa merebut telur yang digenggam oleh Hanna dan menyiapkan peralatan untuk merebusnya.
"Eleanor bilang... siang tadi kak Rafa makan bareng sama cewek di Parsons."
Setelah mematikan kompor yang memasak sup dagingnya, Hanna memberanikan diri untuk menanyakan pernyataan Eleanor siang tadi kepada Rafa. Dan sepertinya apa yang dilihat Eleanor memang benar, karena Rafa tampak terkejut saat Hanna menanyakan hal itu.
__ADS_1
"Ohh, itu. Iya... gue makan bareng Lauren."
"Sedekat apa hubungan kak Rafa sama Lauren?"
Layaknya sedang menginterogasi, Hanna yang kini berdiri bersandar kulkas pun bersidekap dengan tatapan mata yang mengintimidasi Rafa.
"Maksud lo?"
"Ya maksud aku, kak Rafa itu ada hubungan seserius apa sama Lauren? Kalo cuma temen biasa, enggak mungkin kan duduknya deket banget dan terlihat asik berduaan?"
"Kenapa lo jadi nginterogasi gue begini sih, Han? Udah kayak gue ketahuan selingkuh aja."
"Lah, emang bener selingkuh ka-"
"Han!" Rafa menggertak dan menyela perkataan Hanna. "Udah deh, enggak usah dibahas. Gue cuma makan siang sama Lauren. Dan elo enggak perlu seserius ini nanggepinnya. Lo tau sendiri kan kalo hubungan kita ini enggak kayak hubungan pernikahan pada umumnya."
Tak mau kalah dengan Rafa yang kini balik mengintimidasinya dengan nada bicara yang dinaikkan satu oktaf, Hanna memberanikan diri untuk berjalan mendekat ke arah Rafa dengan tangan yang masih bersidekap dan mata yang terlihat melotot.
"Ini bukan soal Hanna, tapi soal kak Alita. Jangan sampai perjuangan kak Rafa nyari-nyari kak Alita selama ini demi bisa ngajakin balikan itu sia-sia, karena ulah kak Rafa sendiri yang selalu gatel tiap ada cewek cantik!"
Setelah mengucapkan kalimatnya, Hanna buru-buru mengambil nasi pada tempat bekalnya. Setelah menutupnya dengan rapat, dia mengambil alat makan dan mengangkat panci kecil berisi sup dagingnya itu untuk dibawa ke kamarnya, meninggalkan Rafa yang masih terdiam di depan kompor sambil memperhatikan pergerakannya sedari tadi.
__ADS_1
Sama seperti Rafa yang tidak mempedulikan dirinya atau pun Alita, Hanna tidak peduli jika Rafa harus makan hanya dengan telor rebus malam itu. Tentulah Rafa tidak mengatakan perihal makan siangnya dengan Lauren kepada Alita, karena Rafa pasti tidak ingin Alita kembali menjauhinya karena kedekatannya dengan wanita lain.