
Keputusan Hanna meninggalkan rumah Rafa tidaklah mudah. Hal yang membuat Hanna berpikir berulang kali adalah jawaban apa yang akan diberikannya ketika keluarganya menelpon dan menanyakan keberadaan Rafa. Tidak mungkin Hanna akan terus mencari-cari alasan untuk berbohong, tetapi Hanna juga tidak bisa untuk terus tinggal bersama Rafa.
Kilasan kejadian beberapa waktu yang lalu sering terlintas dipikiran Hanna. Dan bagi Hanna, Rafa itu mengerikan. Rafa bahkan dengan begitu mudahnya menikmati tubuhnya tanpa mempedulikan penolakan darinya. Itu pemaksaan. Meskipun status Hanna adalah sebagai istri sah, tapi Hanna tidak menginginkan disentuh oleh Rafa dalam keadaan seperti itu.
Dering ponsel membuat Hanna yang tengah melamun ke arah luar jendela menjadi tersadar. Panggilan itu dari Alita, dan setelah keraguannya beberapa saat akhirnya Hanna menjawab panggilan dari Alita.
"Halo, Hanna. Sekarang... kamu lagi sibuk enggak?"
"Enggak, Kak. Sama sekali enggak."
"Ah, baguslah. Aku... ada di Universitas Bristol sekarang. Apa kita... bisa ketemu sebentar?"
"K-kak Alita ada disini? Aku... aku lagi enggak di kampus, kak. Aku lagi ada di rumah."
"Di rumah bersama Rafa maksudnya?"
"Bukan!" Hanna menjawab dengan cepat. "Aku... tinggal di apartemen sekarang. Kak Alita ada dimana? Biar aku kesana sekarang ya?"
"Eee... gimana kalo kamu shareloc aja. Biar aku yang datang ke apartemenmu, sekalian jalan-jalan. Kebetulan, aku bawa oleh-oleh buatmu. Boleh kan?"
"Oke, Kak. Aku akan share lokasi ke kakak."
Tak berapa lama setelah panggilan telepon itu berakhir, Hanna mengirimkan lokasi tempat tinggalnya kepada Alita dan turun ke bawah untuk menjemput Alita. Selain teman-temannya, Alita menjadi orang yang selanjutnya yang tahu dimana tempat tinggal Hanna sekarang. Rafa mungkin tidak mengetahui atau berusaha untuk mencari tahu akan hal itu, sebab lelaki itu terlalu sibuk dengan urusan nongkrongnya.
Tak berapa lama, Alita sampai di apartemen Hanna. Alita melambaikan tangannya ke arah Hanna dengan senyum lebarnya sambil berlari kecil.
"Ah, akhirnya kita ketemu lagi." Ucap Alita dengan nada sumringah sambil memeluk Hanna.
__ADS_1
"Hm. Konser musik James Bond itu jadi pertemuan pertama dan terakhir kita hahahaha.... Ayo kita ke atas, Kak."
Meskipun merasa canggung, tapi baik Hanna maupun Alita berusaha untuk tidak terpengaruh sama sekali. Keduanya mencoba seolah tidak merasa ada apa-apaa yang harus dihalangi lagi diantara mereka.
"Maaf kalo... tempatnya agak sempit." Ucap Hanna saat mempersilahkan Alita masuk ke dalam unitnya.
"Enggak masalah, Han. Lagian kamu cuma tinggal sendiri kan?"
Hanna menganggukkan kepalanya, lalu mengambil dua cangkir dan bersiap membuatkan Alita minuman dingin. Suhu dipergantian musim ini masih terasa dingin, dan cokelat hangat sepertinya cocok untuk menemani waktu mengobrol mereka. Terlebih, hanya itu stok minuman yang dimiliki Hanna.
"Duduklah dimana pun kak Alita mau, tapi jangan di lantai hehehehe...."
Alita tersenyum, lalu mendudukkan dirinya di ranjang milik Hanna itu. "Kalo boleh tau... sejak kapan kamu tinggal disini?"
"Baru minggu lalu." Hanna membawa dua cangkir cokelat hangat dimeja dekat ranjangnya.
"Wah, makasih banyak, kak! Aku potong ya untuk ngemil kita."
Alita mencegah Hanna yang akan beranjak dari duduknya sambil menggelengkan kepalanya. "Enggak usah, itu buat kamu aja. Aku... ada beberapa hal yang harus aku omongin sama kamu."
Hanna kembali duduk dihadapan Alita. Meskipun dia tahu kedatangan Alita kesini pasti ada hubungannya dengan Rafa, tapi Hanna tidak tahu tentang apa.
"Aku... aku bener-bener minta maaf ke kamu soal Rafa. Maaf Han, aku beneran enggak tau kalo kalian telah menikah. Kalau saja aku tau, pasti aku akan menolak Rafa setiap dia datang ke Glasgow. Dan kepindahanmu kesini, pasti... gara-gara aku kan?"
Hanna menggelengkan kepalanya dengan cepat, tangannya lalu meraih tangan Alita dan menggenggamnya.
"Enggak, Kak. Ini... sama sekali bukan karena kak Alita. Tapi memang... terjadi sesuatu antara aku dan kak Rafa, jadi... aku mutusin untuk keluar rumah. Dan sebenarnya... pernikahanku dengan kak Rafa enggak seperti-"
__ADS_1
"Aku tau, Han." Alita menyela perkataan Hanna. "Aku tau, Rafa udah ngasih tau semuanya. Tentu aja dia berharap aku akan berubah pikiran setelah aku tau yang sebenarnya, tapi sayangnya enggak."
"Jadi... Kak Alita beneran nolak kak Rafa?"
Alita mengangguk. "Mau pernikahan kalian beneran atau cuma bohongan, aku cuma enggak suka dengan cara Rafa untuk balikan sama aku lagi. Dan... aku pikir, udah enggak ada lagi cerita yang bisa aku ukir bareng Rafa."
"Kak...."
"Jangan pasang wajah sedih begitu! Yang aku tolak kam Rafa, bukan kamu." Alita mencolek hidung Hanna. "Kamu... masih mau kan temenan sama aku?"
"Kenapa kak Alita nanya gitu sih?" Mata Hanna mulai berkaca-kaca. "Harusnya kan aku yang tanya gitu ke kakak. Akulah yang bikin kak Alita dan kak Rafa enggak bisa bersatu lagi."
"Hahahaha... kamu ngomong apa sih?" Alita memeluk Hanna untuk menenangkannya. "Udah, jangan nangis lagi. Aku kesini kan bukan untuk ngeliat kamu nangis. Kalo kamu nangis kayak gini, malah aku ngerasa semakin bersalah. Dan pastinya aku jadi enggak tenang saat balik ke Indonesia nanti."
"Kak Alita... mau balik? Enggak di Glasgow lagi?"
Alita mengangguk. "Aku harus kembali, Han. Aku pikir, aku harus mulai segala sesuatunya dari awal dengan baik."
"Kenapa enggak disini aja sih? Kak Alita takut ya bakal digangguin mulu sama kak Rafa?"
"Hahahahaha... enggak, cuma aku harus ngasih jawaban pada seseorang."
"Siapa?"
"Hm... itu masih rahasia!" Alita tersenyum lebar saat raut wajah kecewa tercermin diwajah Hanna.
"Selesaikan masalah kalian dengan baik, Han. Bagaimana pun juga,engakhiri sebuah pernikahan itu enggak segampang kamu mutusin orang saat masih pacaran. Ada keluarga yang harus kalian pikirin juga perasaannya."
__ADS_1
"Aku tau, kak. Tapi... aku udah memutuskan, dan memang lebih baik begini."