
Entah sudah berapa lama hubungan Rafa dan Hanna menjadi menim komunikasi seperti sekarang. Bahkan meskipun sama-sama berada di rumah diwaktu yang bersamaan, keduanya pun sibuk dengan urusannya sendiri. Percakapan antar mereka terjadi hanya seperlunya saja, baik Rafa maupun Hanna sama-sama enggan untuk memulai percakapan terlebih dulu.
Seperti biasa, Rafa akan pergi ke Glasgow saat weekend tiba. Meninggalkan Hanna sendirian di rumah seperti sudah menjadi kebiasaannya. Hujan yang mengguyur langit Bristol sejak pagi pun tidak menghalangi Rafa untuk mengurungkan niatnya pergi ke Glasgow.
Memasuki bulan Desember ini, hujan telah beberapa kali turun dan pertanda bahwa telah memasuki musim dingin. Rafa sendiri cukup kewalahan karena turunnya suhu yang membuatnya kedinginan saat keluar rumah. Padahal ini belum turun salju dan suhu menjadi minus, tapi Rafa sudah harus beradaptasi dengan tempat tinggalnya sekarang.
"Ujannya kayaknya hampir di seluruh Inggris, harusnya kamu enggak maksain ke Glasgow, Fa. Kita bisa menonton film itu lain kali." ucap Alita yang baru saja memasuki mobil Rafa.
Hari ini keduanya memang berencana menonton sebuah film yang baru saja tayang di bioskop. Tentunya film yang telah ditunggu-tunggu oleh Alita, makanya Rafa tetap memaksakan datang ke Glasgow demi bisa menonton dihari pertama rilisnya film tersebut.
Setiap ke Glasgow, Rafa memang selalu menjemput Alita di parkiran basement apartemen tempat Alita tinggal bersama keluarga kakaknya. Tapi Alita tidak pernah memberitahukan di unit berapa mereka tinggal, jadi Rafa hanya menurunkannya di parkiran basement saja.
"Enggak masalah, kan cuma ujan. Kecuali kalo turun salju, mungkin aku enggak akan berani nyetir ke Glasgow."
"Ya jelaslah, ini kan musim dingin pertamamu, dan jalanan akan jadi licin banget saat salju turun."
"Mungkin aku harus nyari transportasi lain untuk ke Glasgow."
"Hahahaha... enggak usah dipaksa. Ayo kita berangkat sekarang, waktu kita mepet, Fa."
Rafa menganggukkan kepalanya, disusul dengan injakan kakinya pada pedal gas yang melajukan mobilnya menuju bioskop.
__ADS_1
...****************...
Seperti mengulang masa pacaran mereka dulu, Rafa menikmati waktu menonton filmnya dengan Alita. Gadis itu bahkan tidak menolak saat beberapa kali Rafa mencoba menggandeng dan menggenggam tangannya.
Film yang mereka tonton baru saja selesai, dan Alita tidak henti-hentinya mengekspresikan kegembiraannya karena film yang ditunggu-tunggunya tidak mengecewakan. Sedangkan Rafa sedari tadi asik menikmati wajah gembira Alita, entah kapan terakhir kali ia melihat Alita sebahagia ini. Karena hubungan harmonis mereka pun telah berakhir bertahun-tahun yang lalu.
"Kayaknya kita harus makan siang deh, kamu belum makan siang kan?" Alita menghentikan langkahnya di depan sebuah tempat makan yang jaraknya tak jauh dari bioskop.
Rafa mengamati tampilan restoran yang sepertinya menyajikan masakan Asia itu.
"Iya, aku belum makan dan udah ngerasa laper banget."
"Aku udah beberapa kali makan disini sama temen-temen, mereka jual makanan Asia. Kebanyakan Chinese food sih, enggak apa-apa kan?"
Memilih duduk di dekat jendela, Rafa dan Alita memesan beberapa menu makanan untuk makan siang mereka. Ada banyak rencana yang akan mereka berdua lakukan hari ini. Selain menonton di bioskop, Rafa dan Alita juga akan mengujungi Glasgow Botanic Gardens. Oleh sebab itulah keduanya keduanya harus mengisi perut mereka terlebih dulu sebelum melanjutkan jalan-jalannya.
...****************...
Hujan kembali mengguyur sejak pukul enam sore tadi, beruntung Rafa dan Alita telah menyudahi acara jalan-jalannya di taman sebelum hujan turun. Namun kini keduanya tengah terjebak macet dalam perjalanan menuju apartemen tempat Alita tinggal.
"Mungkin aku akan cari hotel di sekitar sini. Hujannya deres banget, dan kayaknya aku enggak berani kalo harus nyetir ke Bristol."
__ADS_1
"Terus Hanna gimana?"
"Aku bisa minta dia untuk nginep di apartemen temennya kalo dia enggak berani di rumah sendirian. Lagipula tadi pagi dia bilang akan balik malem karena ada acara sama temeh-temennya."
Alita hanya menganggukkan kepalanya, tangannya lalu merogoh ponsel yang berada di dalam tas. Keheningan menyelimuti suasana mobil yang mereka tumpangi untuk beberapa saat, hanya alunan suara musik yang terdengar.
"Kak Lidya bilang di deket sini ada pekerjaan jalan, selain itu juga ada genangan karena pekerjaan jalan itu." ucap Alita dengan mata yang terfokus pada ponselnya.
"Ternyata di Inggris juga ada macet ya, kirain di Indonesia doang." Rafa terkekeh atas ucapannya sendiri.
"Macet itu ada dimana-mana, Fa hahahaha.... By the way, kayaknya kamu harus tetep balik ke Bristol deh, Fa."
"Kenapa?" Tanya Rafa dengan kepala yang tertoleh ke arah Alita.
Alita lantas menyodorkan ponselnya kepada Rafa. "Hari ini hari ulang tahun Hanna, sebagai orang terdekat masa iya kamu enggak ada untuk ngerayain sama dia?"
Rafa memperhatikan foto ulang tahun Hanna bersama teman-temannya yang diunggah dimedia sosial milik Hanna. Dengan Alis yang saling bertaut, Rafa memperhatikan satu per satu foto tersebut.
Ia memang berstatus sebagai suami Hanna, tapi ia sama sekali tidak tahu jika hari ini adalah hari ulang tahun Hanna. Terlebih Hanna juga tidak memberitahukan hal itu kepadanya, berbeda dengan dulu saat Hanna selalu meminta kado padanya disetiap hari ulang tahunnya.
"Jadi... kamu mau pulang atau jadi nginep di Glasgow?" Tanya Alita yang menghentikan keterdiaman Rafa dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepalanya.
__ADS_1
"Pulang."