Back To You

Back To You
Chapter 155


__ADS_3

Penantian Rafa telah usai. Setelah menyelesaikan segala tugas dan tanggung jawabnya pada pekerjaan, Rafa akhirnya bisa pulang. Ia harus menunggu hampir sebulan, dan itu benar-benar menyiksanya.


Pekerjaannya benar-benar memaksanya untuk tinggal sedikit lebih lama lagi di Bristol. Padahal dulu saat ayah Hanna jatuh sakit, ia dan Hanna dapat pulang secepat mungkin berkat bantuan papanya.


Hubungannya dengan Giulia benar-benar hancur. Ia tidak menyangka jika Giulia akan diam-diam mengikutinya dan memotretnya. Giulia bahkan membagikan foto hasil jepretannya kepada Arthur dan mengatakan rumor yang tidak sebenarnya.


Meskipun berulang kali Giulia datang ke rumah untuk meminta maaf, tapi jawaban Rafa tetaplah sama. Rafa memaafkan Giulia, tapi tidak bisa untuk kembali berhubungan seperti sebelumnya.


Perjalanan melelahkan selama lebih dari enam belas jam tidak dirasakannya. Rafa hanya ingin segera sampai di rumah dan mencari tahu keberadaan Hanna sekarang.


Setelah kopernya terambil, Rafa segera keluar pintu kedatangan. Disana, mamanya telah menunggu kedatangannya bersama papa dan abangnya. Untung saja bekas pukulan Arthur telah lama menghilang. Jika tidak, pasti mamanya akan sangat panik.


Rafa mempercepat langkahnya, lalu memeluk mamanya dengan erat.


"Mama kangen banget sama kamu." Mama Salma berucap lirih saat memeluk anak bungsunya itu.


"Hm, Rafa juga kangen banget sama mama."


Tak lama, pelukan mereka terurai. Rafa lalu menghampiri papa dan abangnya.


"Makasih banyak, Pa." Ucap Rafa sembari memeluk papanya, kemudian beralih memeluk abangnya.


Setelah sesi melepas rindu itu selesai, mereka kemudian meninggalkan bandara dan menuju ke rumah.


...****************...


Rafa tidak ingin membuang waktu. Malam harinya, ia langsung meluncur ke rumah orangtua Hanna. Layaknya seorang pacar yang akan bertemu dengan keluarga pacarnya untuk pertama kali, Rafa merasa begitu gugup.


Meskipun tante Widya masih memperlakukannya dengan baik, tapi perlakuan Wildan kepadanya tidak bisa ditebak. Lelaki itu kadang bersikap biasa saja terhadapnya, sama seperti saat diwisuda Hanna beberapa waktu yang lalu. Tetapi lelaki itu juga bisa bersikap kejam dan menghalanginya untuk menemui adiknya.


Meskipun gugup, Rafa tetap berusaha untuk bersikap tenang. Ia melangkah menuju pintu rumah dan mengetuknya. Beberapa saat kemudian, ibu Hanna membuka pintu dan memasang wajah sumringah saat melihatnya.


"Rafa!" Wanita yang seusia dengan mamanya ini langsung memeluknya. "Kapan sampainya? Mama kamu bilang kamu bakal balik tanggal empat belas."


"Ini... udah tanggal empat belas, bunda hehehehe...."

__ADS_1


"Eh? Iya ya? Duuhhh... maaf ya, bunda suka lupa tanggal. Ayo sini masuk."


Tante Widya menggandengnya masuk ke ruang tamu dan menyuruhnya duduk.


"Mbak Mirna! Tolong buatin minum ya buat Rafa." Tante Widya berteriak pada asisten rumah tangganya.


"Kok... sepi, bunda?"


"Iya, Wildan pergi ke rumah tunangannya. Ada acaranya disana."


"K-kapan Wildan mau nikah?" Rafa mencoba mencari-cari cara untuk menggiring percakapan mereka untuk menanyakan Hanna.


"Hmm... belum tau ya, Fa. Soalnya kan kakaknya Olive itu belum nikah. Terus Olive juga enggak mau ngelangkahin kakaknya. Mungkin karena cewek ya, jadi kalo dilangkahin kan agak gimana gitu ya kan?"


Rafa hanya mengangguk. Lalu menerima uluran minuman yang baru saja dibawakan oleh mbak Mirna.


"Jadi ini kamu cuti kerja atau gimana, Fa?"


"Eee... Rafa udah resign, bunda."


"Resign?" Tanya ibunda Hanna itu dengan ekspresi terkejut. "J-jadi, kamu udah enggak balik ke Inggris lagi?"


"I-iya, begitu lebih bagus. Terlebih kalo kamu disini, Mama kamu udah enggak perlu khawatir lagi soal keadaan anaknya. Udah makan atau belum, kamu balik kerja jam berapa, pokoknya dulu mama kamu tuh khawatiran banget sama kamu."


"Hehehehe... iya."


Rafa meletakkan cangkir minuman yang sejak tadi ia pegang, lalu memberanikan diri untuk bertanya mengenai Hanna.


"Hanna... ada dimana, bun?"


"Hanna...." Tante Widya tampak ragu untuk menjawabnya.


"Hanna pulang kan, bunda?" Rafa bertanya lagi dan dijawab dengan anggukan kepala oleh tante Widya.


"Iya, Hanna pulang. Dan... udah dua minggu ini dia kerja."

__ADS_1


"Hanna biasa balik jam berapa, bun?"


"Eeeee... kalo bunda enggak salah, biasanya sore itu dia udah ngabarin kalo kerjaannya udah selesai."


"Jadi... sekarang Hanna ada di kamar?"


Tante Widya terdiam sesaat.


"Hanna... enggak kerja disini, Fa. Dia kerja di luar kota."


"Hah? Dimana?"


"Maaf banget, Fa. Bunda enggak bisa kasih tau kamu dimana Hanna sekarang."


"K-kenapa? Apa yang sebenarnya bikin Hanna ngehindarin aku dan malah milih buat sembunyi, bun?"


"Hanna pasti punya alasan untuk itu semua, Fa." Tante Widya meraih kedua telapak tangan Rafa dan menggenggamnya.


"Yang jelas, sekarang ini Hanna lagi butuh waktu untuk menenangkan diri."


"Tapi seharusnya enggak begini, bun. Seharusnya dia enggak perlu sembunyi kayak gini, bahkan dia sampai ganti nomer dan ngehapus akun sosial medianya."


Suara Rafa mulai terasa berat, lagi-lagi ia hampir menangis hanya karena tidak bisa menemukan keberadaan Hanna.


"Kalo Hanna bilang ke Rafa untuk enggak ganggu dulu, Rafa juga enggak akan datengin dia, bun. Tolong bantu Rafa, bun."


"Bunda tau, Fa. Tapi itu udah jadi keputusan Hanna. Bunda... bisa ngasih tau kabar Hanna ke kamu setiap harinya, tapi bunda enggak bisa kasih infomarsi lebih soal Hanna."


"Bunda, Rafa mohon."


Tante Widya menggelengkan kepalanya. "Maafin bunda, Fa."


Tangan tante Widya terulur untuk mengusap lembut punggung Rafa. Kepala anak laki-laki yang pernah menjadi menantunya itu menunduk, sepertinya Rafa sudah mulai menangis sekarang. Karena harapan satu-satunya untuk mendapatkan informasi mengenai Hanna menemukan jalan buntu.


"Kamu harus sabar, Fa. Kalo memang kamu berjodoh dengan Hanna, Tuhan pasti akan mempertemukan kalian dengan caranya dan pada waktu yang tepat."

__ADS_1


...****************...


Kaget ya tiba-tiba up? Iyaaa... langsung dikasih 5 chapter karena dirapel sama minggu-minggu yang sebelumnya 🤭


__ADS_2