Back To You

Back To You
Chapter 72


__ADS_3

Sabar.


Mungkin kata itu yang harus dipegang Rafa erat-erat. Mendekati Alita yang sekarang tidaklah semudah mendekati Alita yang dulu. Selain karena keduanya kini telah sibuk bekerja, Rafa juga harus mau membagi Alitanya dengan Theo.


Yang mendekati Alita bukan hanya dirinya, dan Rafa tahu bahwa posisi Theo lebih menguntungkan daripada dirinya. Alita yang bekerja dibawah naungannya membuat Theo memiliki banyak waktu bersama Alita. Berbeda dengan dirinya yang harus memyesuaikan waktu luang Alita.


Kini sudah hampir setahun Rafa berusaha untuk kembali mendapatkan Alita. Bisa dibilang usahanya masih belum membuahkan hasil karena Alita masih tampak membatasi dirinya, baik kepada Rafa maupun dengan Theo.


Tapi tentu saja Rafa tak menyerah begitu saja. Rafa bahkan siap melakukan apa saja demi kembali mendapatkan Alita. Bahkan jika harus sampai berduel dengan Theo sekalipun.


"Udah lama nungguin ya? Tadi gue nyelesein laporan bulanan dulu." ucap Rafa pada Hanna yang baru saja naik ke mobilnya.


Selain bertahan untuk memperjuangkan Alita, Rafa juga masih setia untuk mengantar jemput Hanna. Entah mengapa Rafa merasa berat untuk membiarkan Hanna pulang sendiri padahal jarak rumah neneknya ke sekolah hanya sekitar lima kilometer.


Mungkin karena Hanna masih bersikukuh untuk merahasiakan kejadian yang lalu dari keluarganya, oleh sebab itulah Rafa masih merasa was-was akan ada orang yang mengganggu Hanna.


"Enggak apa-apa. Kak Rafa mau pergi atau langsung pulang?"


Hari ini Hanna pulang sore karena ada tugas kelompok yang harus dikerjakan, dan kebetulan jamnya bersamaan dengan jam pulang kerja Rafa.


"Pulang. Lo balik ke rumah nenek atau rumah om Taufik?"


"Mau ikut pulang ke rumah kak Rafa."


"Gue belum punya rumah sendiri, Hanna." Rafa mencubit pipi Hanna dengan gemas.


"Ahh terserah deh. Pokoknya aku mau ikut kak Rafa pulang, aku mau ketemu sama Abby. Kangen nyiumin pipi gembulnya."


"Abby mulu, gantian gue dong!" goda Rafa dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Hanna.


"Ihh, ogah!" Hanna mendorong tubuh Rafa untuk menjauh. "Nanti tuh ayah sama bunda mau ke rumah. Jadi nanti aku baliknya bareng mereka."


"Balik bareng gue juga enggak apa-apa. Ntar jam tujuh gue pergi sama Alita."


Hanna menggelengkan kepalanya. "Enggak mau, aku mau bareng ayah bunda aja."


"Lagian heran gue, semuanya nanyain Abby mulu. Enggak ada gitu yang nanyain gue. Mama juga sekarang perhatiannya sama Abby."

__ADS_1


"Hahahaha... kak Rafa tuh aneh, masa cemburu sama anak bayi? Ya wajarlah kak kalo semuanya nanyain Abby. Ya kali orang-orang bakal nanya 'eh, Rafa udah bisa apa sekarang?' Itu kan enggak masuk akal, yang ada juga kak Rafa ditanyain kapan nikah."


"Makin gede makin nyebelin lo, Han!" Rafa kembali mencubit pipi Hanna, membuat gadis itu mengaduh kesakitan.


......................


Malam itu, Rafa keluar untuk makan malam bersama Alita. Meskipun sebenarnya lelah, tapi Rafa tetap mengiyakan untuk pergi. Karena baginya, jarang-jarang Alita akan mengajaknya pergi terlebih dulu.


Rafa langsung menuju ke restoran yang telah dipilih oleh Alita. Rafa tidak pernah lagi menjemput atau mengantar pulang Alita karena Alita kini lebih memilih untuk mengendarai mobil sendiri.


Kembali mengecek kembali penampilannya di kaca mobil, senyum Rafa kembali tersungging karena akan segera bertemu dengan Alita. Entah alasan apa yang membuat Alita mengajaknya keluar malam ini, yang jelas ia merasa sangat bahagia.


"Hai, udah dari tadi?" sapa Rafa sambil menarik kursi dihadapan Alita.


"Enggak, aku baru nyampe kok." Alita mengulurkan buku menu pada Rafa. "Lebih baik kita langsung pesen makan aja, biasanya jam-jam segini bakal rame banget."


Rafa menyetujui saran Alita. Setelah membolak-balik buku menu dan menentukan makanan pilihannya, barulah Rafa memanggil pelayan restoran untuk memesan.


"Lagi free hari ini?" tanya Rafa setelah mereka berdua selesai memesan makanan.


"Hm... enggak juga sih. Ini aku baru balik dari liat lokasi." Alita nampak menimbang untuk membicarakan sesuatu pada Rafa. Raut wajahnya yang gelisah ternyata dapat ditangkap dengan jelas oleh Rafa.


Alita menggelengkan kepalanya. "Enggak. Tapi... ada sesuatu yang pengen aku omongin sama kamu."


"T-tentang... apa?" Rafa mulai merasa tidak tenang. Entah mengapa ia merasa akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkannya.


"Nanti aja, selesai kita makan." Alita memasang senyum manisnya. "Aku laper banget, jadi aku pengen kita sama-sama menikmati makan malam kita dulu."


Rafa mengesah. "Gimana bisa nikmatin makanan kalo main rahasia-rahasiaan kayak gini, Lit?"


"Hahahaha... enggak usah lebay kayak gitu, Fa. Pokoknya makanannya pasti habis karena disini masakannya terkenal enak."


Rafa hanya mengangguk patuh pada Alita. Walaupun sebenarnya dag-dig-dug, tapi Rafa tidak bisa berbuat apa-apa. Menunggu sampai makanan mereka disajikan dan dihabiskan tidak akan lama. Apalagi ia dan Alita bukan tipe orang yang makan dengan waktu yang lama.


Dan benar saja, setelah makanan tersaji, Rafa dan Alita langsung terfokus pada makanan mereka. Keduanya bahkan hampir tidak terlibat percakapan, karena saking fokusnya pada makanan dihadapan mereka.


"Aku udah selesai. Bisa kan kalo diomongin sekarang?" ucap Rafa sembari menyeka bibirnya dengan lap makan.

__ADS_1


"Kamu yakin mau langsung aku kasih tau sekarang?" Alita balik bertanya setelah menikmati minumannya.


Rafa mengangguk. "Lebih cepat tau lebih baik kan? Mumpung aku dalam keadaan kenyang, jadi aku bisa tahan menghadapi apapun yang bakal kamu omongin ke aku."


Alita terkekeh saat mendengar jawaban Rafa. "Sebenarnya... aku cuma mau bilang kalo aku udah enggak kerja lagi sama Theo."


Seperti mendapat angin segar, Rafa kembali menyunggingkan senyum lebarnya. "Kenapa? Kalian berantem?"


"Hahahaha... enggak, bukan karena itu. Tapi karena hal lain. Aku udah memberitahukan alasannya pada Theo, jadi aku juga harus memberitahukannya padamu juga."


"Soal apa?"


"Project besok pagi adalah acara terakhir yang aku tanganin, karena lusa... aku akan pindah ke Glasgow ikut keluarga kak Ali."


Entah kemana perginya angin segar tadi. Kini Rafa justru merasa begitu sesak berada disana. "Kamu bercanda kan, Lit?"


"Enggak, aku beneran akan pindah kesana. Mungkin... tidak buruk juga untuk memulai kehidupan baru disana."


Alita masih mengamati reaksi Rafa yang masih terdiam itu. Sama seperti Theo yang tidak bisa begitu saja menerima alasannya, Alita pun yakin Rafa juga akan berusaha menahannya untuk pergi. Tapi ternyata dugaannya salah.


"Oke. Aku enggak masalah kamu pindah ke Glasgow, kita bisa LDR."


Alita menggelengkan kepalanya dengan senyuman tipis dibibirnya. "Itu enggak akan mudah, Fa. Jarak Glasgow ke Indonesia bukanlah jarak yang dekat. Kamu-"


"Aku bisa kesana sebulan sekali, Lit. Aku janji akan usahain untuk ketemu kamu setiap bulannya." Rafa menyela dengan cepat.


"Itu akan menguras uangmu, Fa. Kamu harus nabung untuk masa depan kamu, dan kamu harus bahagia meski bukan sama aku."


"Enggak, Lit. Aku enggak bisa."


Tangan kanan Alita terulur untuk mengusap punggung tangan Rafa. "Kamu bukannya enggak bisa, Fa. Kamu cuma enggak mau berusaha aja untuk ngelupain aku. Kita masih bisa berteman, Fa. Aku yakin kita bisa jadi teman yang baik dan bisa diandalkan satu sama lain."


Rafa menggeleng lalu menundukkan kepalanya. "Enggak semudah itu, Lit. Kamu nyiksa aku namanya kalo pada akhirnya kita hanya jadi teman."


Dengan senyum manisnya, Alita mengakhiri pertemuannya dengan Rafa malam itu. Alita bangkit dari kursinya dan berdiri persis disebelah Rafa.


"Aku cuma mau bilang itu ke kamu, Fa. Tolong jangan kamu kejar atau kamu larang aku untuk pergi." Alita mengecup pipi Rafa sekilas. "Kali ini aku yang traktir kamu."

__ADS_1


Perkataan Alita bagaikan sihir untuk Rafa. Lelaki itu masih terdiam dikursinya sambil meratapi nasibnya yang ditinggal pergi oleh Alita. Entah bagaimana nanti kehidupannya akan berjalan, padahal untuk bangkit seperti sekarang ini saja Rafa sudah susah payah. Dan kini ia harus jatuh untuk kedua kalinya.


__ADS_2