
"S-suami istri?"
Keterkejutan Alita menarik perhatian Theo. Ia segera meletakkan minumannya dan berpindah duduk ke sebelah Alita.
"Jangan bilang kalo kamu enggak tau status Rafa telah menikah?"
"R-Rafa... enggak bilang soal hal itu. Dia... dia bilang, dia tinggal sama Hanna karena mereka sama-sama berkuliah di Bristol."
Theo menghela nafasnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku pikir kamu udah tau." Theo memijat pangkal hidungnya. "Jangan bilang kalo kamu sama Rafa-"
"Enggak ada apa-apa yang terjadi antara aku sama Rafa." Alita menyela perkataan Theo dengan cepat. "Kami hanya pergi jalan-jalan dan makan bersama, enggak ada hubungan khusus atau... sesuatu yang terjadi seperti yang kamu pikirkan."
"Syukurlah kalo begitu."
Theo menghela nafasnya, merasa lega jika hal yang ia khawatirkan tidak terjadi.
"Sekarang kamu udah ngebuktiin sendiri omonganku yang dulu kan? Dengan satu kebohongan yang pernah Rafa lakukan padamu dulu, pasti akan ada kebohongan lainnya." imbuh Theo.
Alita hanya tertunduk. Merasa marah pada dirinya sendiri, kenapa kala itu dia dengan mudahnya menerima Rafa kembali masuk dalam kehidupannya.
"Aku... harus minta maaf sama Hanna." gumam Alita dengan lirih.
"Ya, kamu memang harus minta maaf. Tapi ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Ini salah Rafa karena dia sengaja merahasiakannya darimu, tapi kamu juga bersalah karena dekat dengan Rafa beberapa waktu kemarin. Yaahh, meskipun hubungan kalian tak lebih dari sebatas teman. Tapi Rafa pasti menganggapmu lebih dari itu."
"Aku jadi pelakor dong sekarang?" ucap Alita sambil terkekeh.
__ADS_1
"Emangnya kamu juga masih mengharapkan Rafa?"
Keterdiaman Alita dianggap Theo sebagai jawaban atas pertanyaannya barusan.
"Oh, come on, Alita. Kamu udah jauh-jauh ngumpet sampai Glasgow tapi ternyata masih ngarepin dia? Dia bahkan udah beristri, tapi tetap aja ngejar-ngejar kamu."
Alita terdiam. Apa yang dikatakan oleh Theo benar adanya. Rafa telah menikah dengan Hanna, lalu kenapa masih mengharapkannya? Bahkan saat pertemuan pertama mereka, Hanna juga berada disana. Lalu kenapa Hanna bersikap biasa saja? Bahkan setiap minggunya Rafa rela bolak-balik hanya untuk menemuinya, dan Hanna sepertinya tidak melayangkan protes.
"Aku memang tidak seganteng atau sekaya Rafa, Lit. Tapi setidaknya aku enggak pernah berselingkuh seperti yang Rafa lakukan."
Alita masih terdiam, tidak tahu bagaimana harus merespon Theo kali ini. Dan kesempatan ini dimanfaatkan Theo untuk mempromosikan dirinya.
"Aku juga punya usaha yang nantinya bisa mencukupi kehidupanmu, Lit. Yah, walaupun bukan sebuah perusahaan gede seperti punya Rafa. Tapi seenggaknya, itu hasil kerja keras aku. Bisa dibilang aku udah mapan sekarang. Tempat tinggal, penghasilan, semuanya aku udah punya. Tinggal pendamping hidup aja ini yang belum. Jadi kalo kamu mau, tinggal bilang aja. Aku pasti akan langsung ketemu orangtua kamu untuk ngelamar."
Kali ini Alita tidak bisa menahan tawanya. "Kamu terlalu baik untukku, Theo."
"Itu alasan klasik, Lit. Justru harusnya kamu terima aku dong kalo akunya terlalu baik buat kamu. Itu berarti kan aku bakal memperlakukanmu dengan sangat baik. Bukan malah kamu tolak begini."
"Pasti banyak wanita lain yang lebih cocok untuk jadi pendamping hidup kamu, Theo. Aku enggak se-perfect yang kamu kira."
"Aku pun juga enggak sebaik yang kamu kira. Semua orang punya kelebihan dan kekurangan, Lit. Dan sebagai pasangan kita memang harus saling melengkapinya kan?"
Pandangan keduanya saling bertaut, dan keheningan mengambil alih untuk beberapa saat.
"Meskipun dulu aku juga kayak kamu yang susah move on, tapi aku udah yakin sama kamu sejak kita awal ketemu. Makanya aku bisa ngebuka diri untuk melupakan masa laluku, aku berusaha untuk semakin kenal sama kamu, aku berusaha untuk deket sama kamu, dan sekarang aku masih berusaha untuk ngedapetin kamu seutuhnya."
"Kamu tau kan sekarang keadaan hatiku lagi kayak gimana? Hubungan kita akan susah, Theo. Dan pasti kamu yang akan banyak berkorban dan tersakiti."
__ADS_1
"Kita kan belum coba? Itu hanya teori, Lit. Gimana hubungan kita nanti, hanya Tuhan yang tau. Kamu hanya perlu merelakan Rafa, membuka hatimu untuk menerimaku, dan kita sama-sama berjuang untuk kebahagiaan hubungan kita."
Theo lantas mendekatkan kursinya pada Alita, mengambil tangan Alita dan menggenggamnya. "You'll never find the right person if you never let go of the wrong one."
"Kamu... bener-bener jadi banyak ngomong sekarang." Alita tersenyum manis ke arah Theo, lalu memperhatikan tangannya yang masih digenggam erat oleh Theo.
"Oh, ayolah, Lit. Aku serius ini."
"Aku juga serius, Theo. Kamu sekarang jauh lebih cerewet daripada aku."
"Bukan itu maksudku." Theo sedikit kesal, lalu melepaskan genggaman tangannya pada tangan Alita.
"Kamu yakin hubungan kita akan berhasil?"
"Pasti! Aku yakin seribu persen, Lit." Jawab Theo dengan lantang. "Kalo kamu masih butuh waktu untuk mempertimbangkanku, aku akan siap menunggu. Tapi jangan terlalu lama. Kau tau kan kalo sekarang aku selalu jadi sasaran mama yang terus tanya kenapa aku enggak nikah-nikah. Padahal kerjaanku ngurusin pernikahan orang."
"Hahahaha... baiklah, aku akan mempertimbangkannya dulu."
"Boleh tau sampai kapan?" Tanya Theo dengan senyum yang merekah dibibirnya.
Padahal Alita baru mengatakan akan mempertimbangkannya dan dia sudah begitu bahagia, bagaimana jadinya jika Alita menerima lamarannya?
"Hmm... sampai aku pulang ke Indonesia." Alita menjeda kalimatnya untuk mengamati reaksi Theo. "Kalo nanti aku kembali ke Indonesia, itu berarti aku terima lamaranmu dan... udah siap untuk menjadi pendamping hidupmu."
"Jadi... nantinya kamu enggak akan di Glasgow lagi?"
Alita menggelengkan kepalanya. "Jika aku bersedia untuk menikah denganmu, maka aku ikut kemana pun kamu pergi. Tapi... jika aku menolakmu, maka aku akan tetap berada disini."
__ADS_1
"Hahahahaha... baiklah. Aku akan berdoa agar kamu dideportasi dari Glasgow, jadi kamu bisa secepatnya balik ke Indonesia."
Jahat!" Alita memukul lengan Theo, merasa kesal dengan candaannya.