Back To You

Back To You
Chapter 98


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak telpon dari papa Adit yang mengabarkan jika kondisi ayah Hanna sedang kritis, Rafa dan Hanna kini telah kembali pulang. Seperti yang dijanjikan oleh Papa Adit untuk mengurus kepulangan Rafa dan Hanna secepatnya, waktu seminggu bukanlah waktu yang singkat bagi Hanna.


Matanya sudah bengkak tidak karuan akibat sering menangis. Meskipun ibu dan kakaknya sering mengabarkan kondisi ayahnya, tapi Hanna tidak juga merasa lega karena belum melihat langsung kondisi ayahnya. Hanna seperti merasa ada sesuatu yang disembunyikan, agar membuatnya tak begitu khawatir saat masih berada di Inggris.


Merasa uring-uringan karena kopernya tak juga muncul, Hanna hanya bisa menangis karena sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk mengomel. Tenaganya sudah terkuras untuk perjalanannya dari Inggris, belum lagi nafsu makannya yang memburuk sejak kabar ayahnya jatuh sakit.


"Om Asep udah jemput di depan." Rafa menghampiri Hanna sambil mengusap punggungnya. "Elo kalo mau duluan ke rumah sakit enggak apa-apa, biar gue yang nungguin kopernya. Nanti gue bisa naik taksi buat ke rumah sakit."


Hanna bisa saja langsung mengiyakan tawaran Rafa dan segera berlari keluar menemui om Asep, tapi justru Hanna memilih untuk menggelengkan kepalanya.


"Bareng-bareng aja ke rumah sakitnya, paling bentar lagi juga keluar." jawab Hanna sambil mengusap air matanya.


Rafa tidak memaksa, Hanna memang menjadi sekeras batu seminggu. Hanna tetap akan berdiam diri di kamar saat Rafa memintanya keluar dan makan. Tentu saja Rafa mengkhawatirkan Hanna, karena ia juga tidak ingin Hanna ikut jatuh sakit karena memikirkan kondisi ayahnya.


Tak berselang lama, koper milik Hanna dan Rafa pun tampak keluar setelah menunggu lama di carousel. Rafa bergegas mendekati koper milik mereka dan menariknya, kemudian menyusul langkah Hanna yang telah lebih dulu keluar.


Beruntungnya jalanan siang ini tidak terlalu padat, sehingga perjalanan mereka untuk tiba di rumah sakit semakin cepat. Andai saja siang itu jalanan macet, pastilah Hanna akan menangis sesenggukkan di dalam mobil.


Hanna bahkan tidak mempedulikan keberadaan Rafa begitu mobil yang dikendarai om Asep tiba di rumah sakit. Gadis itu langsung membuka pintu mobil dan berlari menuju ruang ICU, tempat ayahnya kini tengah dirawat. Mau tidak mau, Rafa mengikuti Hanna dengan berlari dibelakangnya.


"Bundaaaa...." Seru Hanna sambil berlari menghampiri ibunya yang sedang duduk di kursi tunggu bersama mama Salma dan juga Wildan.

__ADS_1


Tangis Hanna dan ibunya pun pecah saat keduanya berpelukan, disusul oleh pelukan Wildan yang mencoba untuk menenangkan ibu dan juga adiknya. Sedangkan Rafa langsung menghampiri mama tercintanya dan juga memeluknya dengan erat.


"Nanti kamu bantu tenangin Hanna ya, Fa. Tante Widya sama Wildan lagi cari waktu untuk ngomong ke Hanna." bisik mama Salma pada anak bungsunya.


Rafa tidak langsung menjawab, ia malah mengenyitkan dahinya sebagai tanda tidak mengerti dengan maksud perkataan mamanya.


Mama Salma lalu menarik Rafa menjauh dari Hanna dan keluarganya, dan mulai berbicara lagi masih dengan nada berbisik agar tidak terdengar orang lain.


"Keadaan om Taufik saat ini itu tergantung sama alat-alat yang dipasang ditubuhnya. Kita ambil keputusan ini biar Hanna masih bisa ketemu sama ayahnya." bisik mama Salma lagi.


Rafa menghela nafasnya, tidak menyangka jika kondisi ayah mertuanya separah ini. Karena seminggu kemarin baik keluarganya maupun keluarga Hanna hanya memberitahukan jika om Taufik sedang kritis. Tidak ada penjelasan lebih lanjut yang mereka dapatkan, meskipun Hanna memaksa dan menangis.


Pandangan Rafa tertuju pada Hanna yang masih memeluk ibunya. Rafa bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana Hanna nanti jika nanti ayah mertuanya itu tiada. Apalagi sejak kecil Hanna sangat dekat dengan ayahnya, bahkan ayahnya itu begitu melindunginya.


Setelah pertemuannya dengan Rafa beberapa bulan lalu, Alita seolah kembali membuka diri. Beberapa waktu yang lalu, ia mencoba menghubungi Theo. Tentu saja Theo sangat terkejut dengan telepon dari Alita setelah menghilang sekian lama. Saking semangatnya, Theo bahkan langsung mengurus perjalanannya ke Glasgow untuk menemui Alita.


"Jadi, kamu udah mutusin untuk keluar dari persembunyian?" Goda Theo.


Kini keduanya tengah berada di sebuah restoran untuk makan siang. Demi menyambut kedatangan Theo, Alita bahkan rela mengambil cuti ditempatnya bekerja.


"Hahahaha... iya. Aku pikir... sekarang diriku jauh lebih tenang, makanya aku bisa ketemu dengan orang-orang yang berpengaruh dikehidupanku."

__ADS_1


"Cih, berpengaruh apanya?" Theo terkekeh."Jadi, Rafa telah menemukanmu lebih dulu?"


Alita mengangguk. "Dia mencariku ke Glasgow selama beberapa bulan, terus enggak sengaja ketemu pas dikonser."


"Niat banget dia ya! Sampai ke Glasgow pun masih dikejar. Bener-bener gila tuh anak!"


"Rafa emang begitu. Emangnya kamu, yang cuma menyibukkan diri sama kerjaan terus hahahhaha...."


Theo menghela nafasnya. "Aku bukannya enggak mau usaha buat nyari kamu, tapi kan kamu sendiri yang bilang jangan ganggu dulu. Kamu pengen nenangin diri disini, jadi yaudah aku turutin kemauanmu. Kalo aku mau, bahkan aku bakal naik pesawat yang sama kayak kamu waktu pindah ke Glasgow dulu. Aku akan ikutin kemana pun kamu pergi selama disini, tapi aku kan enggak gitu. Aku enggak akan maksa kamu sampai kamunya sendiri siap."


"Hahahaha... ya-ya-ya, kamu memang bener. Aku memang ngelarang kamu untuk gangguin aku dulu dan kamu menepatinya. Tapi ngomong-ngomong, sekarang kamu kenapa jadi banyak ngomong?"


Theo tersenyum malu sambil menggaruk tengkuknya. "Itu karena... aku keseringan bergaul dengan Benny, jadinya ketularan. Enggak pantes ya diusiaku sekarang ini malah jadi cerewet?"


Alita menggelengkan kepalanya. "Harusnya dari dulu kamu banyak ngomong kayak gini, biar enggak disangka sombong, dingin bahkan judes."


"Umur cuma angka, tapi emang sekarang aku merasa jauh lebih muda beberapa tahun hahahaha.... Oh, jadi Rafa kesini minggu lalu?"


Alita menggelengkan kepalanya. "Enggak. Ada kabar kalau ayah Hanna sedang kritis, Rafa bahkan menemani Hanna pulang untuk melihat kondisi ayahnya. Karena disini cuma ada mereka berdua, jadi Rafa harus ekstra ngejagain Hanna."


"Tentu saja. Suami istri kan emang harus saling menjaga." jawab Theo dengan santai setelah meminum minumannya.

__ADS_1


"S-suami istri?"


__ADS_2