
Acara lamaran itu digelar dengan sederhana, dan hanya dihadiri oleh keluarga dekat keduanya saja. Rafa tidak menduga jika orangtua Hanna menerimanya dengan tangan terbuka. Padahal ia sudah membayangkan akan mendapat penolakan dari om Taufik.
"Rafa benar, daripada Hanna menikah dengan orang lain yang aku pilihkan, itu seperti membeli kucing dalam karung. Keluarga kita memang sudah dekat sejak dulu, tapi dengan pernikahan Rafa dan Hanna nanti, keluarga kita akan menjadi semakin dekat lagi. Kita benar-benar menjadi keluarga sekarang."
Begitulah ucapan om Taufik saat menerima lamaran Rafa beberapa menit yang lalu. Semuanya menerima Rafa dengan baik, bahkan Wildan berkata jika ia merasa lega karena Rafa-lah orang yang akan menjadi suami Hanna.
Wildan dan Rafa memang berteman sejak lama. Meskipun tahu jika Rafa kerap bergonta-ganti pacar, tapi Wildan tahu jika Rafa telah berubah. Rafa begitu memperhatikan adiknya, lelaki itu bahkan tidak keberatan untuk mengantar jemput adiknya atau mengajaknya jalan-jalan meskipun Hanna bukanlah adik kandung Rafa.
Pernikahan Hanna dan Rafa akan digelar sebulan lagi. Hal ini dilakukan karena pertimbangan keluarga jika Rafa dan Hanna membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri satu sama lain. Karena setelahnya keduanya akan menjalani rutinitasnya jauh dari keluarganya, dan harus bisa saling mengandalkan.
Kini, Rafa dan Hanna tengah duduk berdua di sebuah kafe. Sebelum jam makan siang tadi, Rafa telah meninggalkan kantor untuk menjemput Hanna. Menjelang pernikahannya, Rafa mendapatkan hak istimewa dari papanya. Ia bebas meninggalkan kantor kapan pun jika untuk mempersiapkan pernikahannya.
Keduanya baru saja mengunjungi wedding organizer kepercayaan mama Salma yang mengurusi pesta pernikahan Eowyn kemarin. Seperti tidak memiliki konsep pernikahan impian, Rafa hanya ikut saja dengan konsep yang dipilih oleh Hanna.
"Jadi... bakal kayak gimana rumah tangga kita nanti, Kak?"
Ini adalah kalimat pertama yang Hanna lontarkan. Sejak selesai dengan urusan WO hingga sampai di restoran, Hanna lebih banyak diam. Entah apa yang telah dipikirkan oleh gadis itu.
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Maksudku... aku tau kak Rafa nikahin aku karena kak Rafa ingin ke Inggris untuk mencari kak Alita. Aku benar kan?"
Rafa hanya terdiam, lalu menunduk seolah tidak berani menatap Hanna yang tengah menatapnya dengan serius.
"Kita jalani aja sebagaimana mestinya, Han. Lo boleh ajuin persyaratan karena gue yakin sebenernya lo juga enggak mau nikah sama gue."
Menautkan jemarinya, Hanna menimbang sesuatu yang dia pikirkan semalaman. Tapi dengan lampu hijau yang Rafa berikan barusan, Hanna akhirnya memberanikan diri untuk mengutarakan keinginannya.
"Aku... aku enggak mau disentuh." Kalimat Hanna ini sukses membuat Rafa kini mengangkat kepalanya dan menatap Hanna. Sorot matanya seolah meminta penjelasan lebih lanjut tentang maksud dari kalimat Hanna barusan.
"Kita nikah enggak didasari oleh cinta, jadi... aku enggak akan menyerahkan diriku pada kak Rafa."
Hanna mengibaskan tangannya ke arah Rafa. "Bukan itu maksudku, Kak. Maksudku... soal... berhubungan badan."
Meskipun sempat terkejut karena keberanian Hanna membahas hal itu dengannya, tapi akhirnya Rafa bisa menguasai dirinya.
"Lo enggak usah khawatir. Kita hanya perlu terlihat mesra aja dihadapan orangtua kita, ntar kalo udah di UK juga kita bisa misah kamar." Rafa meletakkan gelas minuman yang baru saja ia minum.
"Ntar kalo lo ketemu orang yang bener-bener bikin lo jatuh cinta, kita bisa akhiri pernikahan ini." imbuh Rafa dengan entengnya.
__ADS_1
Mungkin seharusnya Hanna merasa senang karena Rafa tidak akan mengikatnya seumur hidup, tapi entah mengapa dadanya terasa sesak. Pernikahan ini belum dijalaninya, tapi Rafa telah membicarakan soal perpisahan.
"Tapi... gimana misalnya jika salah satu dari kita, atau mungkin kita berdua saling jatuh cinta seiring berjalannya waktu?" Hanna kembali memberanikan diri untuk menanyakan hal itu pada Rafa.
"Kenapa lo bisa seyakin itu?"
"Setelah menikah kan kita bakal terus-terusan ngeliat satu sama lain dari melek sampai mau tidur. Kita juga akan tau kebiasaan masing-masing, bahkan kita juga... harus tidur seranjang berdua kalo lagi di rumah orangtua. Bisa jadi kan cinta bertumbuh karena kebiasaan itu?"
Rafa tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Itu enggak akan terjadi, Han. Lo harus pastikan kalo lo enggak akan jatuh cinta sama gue."
"Tapi gimana kalo ternyata justru kak Rafa yang jatuh cinta duluan sama aku?"
Rafa menatap Hanna lekat-lekat. Ia merasa kini Hanna telah berubah, bukan lagi Hanna yang ia anggap bocil selama ini. Rafa menegakkan posisi duduknya, dan balik mengajukan pertanyaan pada Hanna.
"Sekarang gue tanya ke elo, apa yang akan elo lakuin kalo ternyata gue jatuh cinta beneran sama elo?"
"Pergi." Jawaban singkat Hanna membuat Rafa melongo. Ia merasa seperti baru saja ditolak.
"Aku akan pergi. Dan aku enggak akan kasih kemudahan kak Rafa untuk ngedapetin aku, karena aku juga ingin merasa diperjuangkan oleh kak Rafa. Sama seperti kak Rafa berjuang untuk mendapatkan kembali kak Alita."
__ADS_1