Back To You

Back To You
Chapter 152


__ADS_3

Sebulan kemudian....


Tidak ada yang berbeda sejak Rafa dan Hanna kembali ke kehidupan nyata mereka. Rafa masih tetap saja kesulitan untuk bertemu dengan Hanna. Sepulang kerja, ia masih sering memarkir mobilnya tak jauh dari apartemen Hanna, tapi setelah beberapa saat menunggu Hanna tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Entah apa yang tengah dikerjakan gadis yang belum lama ini diwisuda itu.


Hubungannya dengan Giulia juga menjadi sedikit renggang, karena Rafa merasa tidak ingin terlibat terlebih jauh dengan Giulia. Bahkan sejak Rafa kembali bekerja setelah cuti liburannya, Giulia malah terkesan untuk menghindar darinya.


Rafa tidak mempermasalahkannya. Justru itu malah membuatnya semakin mudah untuk bersikap biasa saja pada Giulia. Wajah garang ayah Giulia selalu terbayang olehnya, membuatnya bergidik ngeri setiap teringat tatapan tajam ayah Giulia kepadanya.


"Rafa, ada seseorang mencarimu dibawah." Ucap Theresa, rekan kerjanya.


Rafa mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Theresa. Setelah menyusun berkasnya dengan rapi, ia segera beranjak dari duduknya dan turun ke bawah untuk menemui tamunya itu.


...****************...


Arthur berlari dengan tergesa-gesa. Beberapa saat yang lalu, Hanna menelponnya dan memberitahukan jika dia tengah berada di bandara. Arthur bahkan mengumpat disepanjang perjalanannya menuju bandara karena lalu lintas yang cukup padat.


Arthur hanya ingin segera sampai di bandara. Dia tidak ingin Hanna menaiki pesawat tanpa memberikan penjelasan kepadanya.


"Hei!" Arthur menyapa Hanna dengan nafas yang memburu akibat lari.


Hanna yang tengah membaca buku langsung menoleh ke arah Arthur. Ia segera mengambil backpack-nya dan meminta Arthur untuk duduk disampingnya.


"Syukurlah aku belum terlambat."


Hanna tersenyum, lalu menyerahkan sebotol air mineral pada Arthur.


"Mungkin sebentar lagi akan ada panggilan check in untuk penerbanganku. Aku sengaja datang lebih cepat karena sepertinya lalu lintas sangat padat hari ini."


Arthur mengangguk setuju. "Hm, macet dimana-mana. Sekarang, jelaskan padaku kenapa tiba-tiba kamu akan pulang? Kamu tidak pernah menyinggung itu sebelumnya, begitu juga dengan El. Apa terjadi sesuatu di rumah?"


Hanna menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Tidak terjadi apa-apa di rumah, dan... aku memang meminta El untuk merahasiakannya darimu."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena... aku yang ingin memberitahumu sendiri."


"Dadakan seperti ini? Kamu bahkan tidak mengabariku saat kamu akan ke London, harusnya kita bisa jalan-jalan dulu sebelum kamu pulang."


Hanna hanya terdiam, dan semakin membuat Arthur menjadi penasaran.


"Katakan yang sebenarnya, Hanna."


Hanna menghembuskan nafasnya dengan berat. Memang berat mengatakan hal ini kepada Arthur yang selama ini baik kepadanya, tapi keputusannya sudah bulat.


"Aku akan pulang dan tidak akan kembali kesini lagi, Arthur."


"Baby, kamu bercanda kan?" Tanya Arthur dengan sedikit terbata. "Kamu bilang kamu sedang mempertimbangkan tawaran kerja disini kan? Kenapa tiba-tiba pulang?"


"Tidak, Arthur. Tawaran kerja itu berasal dari Indonesia, dan aku harus pulang sekarang. Dan... sepertinya, hubungan kita juga harus sampai disini."


Arthur ternganga. Dia tidak menyangka jika hari ini akan menjadi hari yang berat dan mengagetkan baginya.


"Bukan itu masalahnya. Aku... aku hanya merasa tidak bisa untuk melanjutkan hubungan ini. Perasaanku padamu tidak juga berkembang selama ini, dan... itu akan semakin melukaimu jika hubungan ini masih terus berlanjut."


"Tapi aku sudah bilang jika aku bersedia untuk menunggu, Hanna!" Arthur sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Tidak, Arthur. Kamu tidak bisa terus-terusan seperti itu. Kamu berhak mendapat seseorang yang sangat mencintaimu, dan itu bukan aku."


Arthur memalingkan wajahnya. Dia ingin sekali marah, tapi dia tidak ingin memancing keributan di tempat umum.


"Jadi kamu masih mencintainya?"


"Arthur-"


"Jawab aku, Hanna!" Arthur menyela dengan cepat. "Ini semua karena kamu mencintainya kan? Lalu kenapa selama ini kamu hanya diam dan terus membohongiku, Hanna?"

__ADS_1


"Itu karena kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskannya. Kamu selalu bilang tidak ingin mendengar apapun jika itu menyangkut kak Rafa. Kamu akan langsung pamit pergi dengan berjuta alasan, sehingga aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengungkapkannya kepadamu. Aku tau kalo aku salah, tapi aku bersumpah jika selama ini aku tidak pernah bermaksud untuk membohongimu."


"Oh, really?" Arthur berucap dengan sarkastik. "Lalu bagaimana dengan liburanmu ke Robin Hood's Bay? Kamu bilang padaku kamu ingin berlibur seorang diri, tapi ternyata kamu pergi liburan dengannya. Kamu menghabiskan waktu dengannya, tapi masih berani untuk menjawab panggilan teleponku. Dan yang lebih mengejutkan adalah... kau tidur dengannya!"


"D-dari mana kamu tahu soal itu?"


Arthur tersenyum sinis. "Sebulan ini aku diam karena akan ada penjelasan darimu soal ini, Hanna. Tapi ternyata tidak. Yang ada malah aku dicampakkan."


"Arthur, i-itu... tidak begitu kejadian yang sebenarnya. I-informanmu telah memberikan informasi yang salah."


Arthur merogoh ponsel disaku celananya, lalu membuka folder untuk mencari foto-foto yang didapatkannya setahun yang lalu.


"Jadi ini semua tidak benar?" Arthur menunjukkan beberapa foto Hanna dan Rafa selama berada di Robin Hood's Bay.


Lalu yang terakhir, Arthur memutar sebuah video yang memperlihatkan Hanna dan Rafa masuk di kamar yang sama.


"Giulia mendapatkan video ini karena dia bilang ke pihak hotel jika suaminya tengah berselingkuh. Pihak hotel dan security membantunya, kau masuk ke kamar Rafa pada jam sepuluh malam dan keluar pada pagi harinya. Kau masih mau menyangkal?"


"Tapi memang bukan seperti itu keadaannya. Kami memang berada dalam satu kamar, tapi tidak terjadi apapun diantara kami."


"Heh, bullshit! Kalian adalah pasangan suami istri sebelumnya, tidak mungkin jika kalian hanya akan tidur bersebelahan sepanjang malam."


Hanna terdiam, karena tampaknya keributannya dengan Arthur mulai terdengar dan menarik beberapa penumpang yang ada tak jauh dari mereka.


Tapi, siapa tadi Arthur bilang? Giulia? Rasanya ia pernah mendengar nama itu. Tapi siapa?


"Jadi kamu akan pulang sekarang untuk menghindariku, dan kamu bisa kembali ke pelukan mantan suamimu itu kan? Atau mungkin sekarang ini hanya sandiwara? Apa dia bersembungi disuatu tempat karena kalian akan pulang bersama hari ini?"


Hanna menggelengkan kepalanya. "Dia tidak tau soal kepulanganku, dan dia masih di Bristol."


Arthur kembali merasa terkejut. Bagaimana bisa Hanna yang masih memiliki perasaan untuk mantan suaminya itu, tapi tidak memberitahu jika ia akan pulang dan tidak akan kembali lagi ke Bristol.


"Aku akan masuk sekarang. Maaf atas semua kesalahanku yang telah menyakitimu, aku harap kamu akan sangat berbahagia setelah ini."

__ADS_1


Hanna langsung berdiri dari duduknya, mengenakan ranselnya dan menarik kopernya. Ia tidak menoleh ke belakang dan tidak mempedulikan Arthur yang masih memaku dikursi.


Ini sudah waktunya pulang, untuk memulai semuanya dari awal dan dengan benar.


__ADS_2