
1 tahun kemudian....
Dering ponsel mengalihkan perhatian Rafa. Lelaki itu meraih ponselnya yang tergeletak dijok sebelahnya. Ia menghela nafas terlebih dahulu, sebelum akhirnya mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo." Ucap Rafa yang kemudian mendengarkan dengan seksama perkataan orang yang menelponnya itu.
"Kau di rumah? Aku udah pernah bilang untuk tidak datang ke rumah kan?" Nada bicara Rafa terdengar sedikit kesal.
Masih memperhatikan gerak-gerik seseorang yang tak jauh dari tempatnya memarkirkan mobil, Rafa akhirnya mengakhiri panggilan telepon itu.
"Tunggu, sebentar lagi aku akan kembali."
Setelah beberapa menit terdiam di dalam mobil dan memastikan Hanna telah memasuki gedung apartemennya, Rafa segera menyalakan mesin mobilnya dan kembali ke rumah.
...****************...
Gadis itu masih menunggu Rafa kembali, duduk di tangga teras rumah sambil memainkan ponselnya. Pandangannya langsung teralihkan saat mobil Rafa berhenti di depan rumah, lalu tersenyum lebar sambil berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam clutch-nya.
"Maaf, malam-malam begini aku datang kesini."
Gadis bernama Giulia itu langsung meminta maaf saat Rafa berjalan ke arahnya. Dia tahu kesalahannya, karena bukan hanya sekali dua kali Rafa melarangnya untuk datang ke rumah.
"Hm, it's okay. Tapi maaf aku tidak bisa mempersilakanmu masuk ke dalam, orangtuaku mengawasi." Rafa melirik ke sudut teras sebelah kanan, tempat kamera CCTV itu terpasang.
"Tidak, aku tidak perlu masuk ke dalam, Rafa. Aku datang karena... untuk mengantarkan ini." Giulia mengulurkan sebuah paper bag berwarna cokelat ke arah Rafa.
"Orangtuaku datang, dan ibuku memasak Ossobuco dan polenta. Ini... terbuat dari daging sapi. Dan... ini juga sangat lembut dan enak, ibuku memasaknya selama tiga jam. Aku juga telah mencicipinya, terutama polentanya. Lebih enak dari buatanku hehehehe...."
__ADS_1
"Terima kasih banyak. Kau terlalu sering memberiku makan, Giulia."
"Tidak masalah. Itu karena aku suka masak dan ingin membaginya denganmu."
Rafa terdiam, mengamati ekspresi Giulia yang sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu.
"Ada lagi yang perlu kau katakan, Giulia?"
"Ah, itu. Besok adalah hari ulang tahunku, dan... kami akan makan siang bersama di restaurant dekat sini. Kau mau menemaniku, kan?"
Ulang tahun? Bahkan Rafa saja belum menyiapkan kado untuk Giulia. Dan lagi, mengapa Giulia mengajaknya untuk bertemu dengan orangtuanya?
"Giulia, aku...."
"Kamu tidak perlu khawatir." Potong Giulia dengan cepat. "Ini hanya makan siang biasa. Terlebih, pekerjaan kita besok tidak begitu sibuk. Jadi tidak masalah jika kita makan siang di luar."
"Kalau begitu aku akan pulang sekarang, kau masuklah ke dalam. Jangan lupa untuk memasukkannya ke freezer jika kau tidak berniat memakannya sekarang. Selamat malam, Rafa."
Giulia mengecup pipi Rafa sebelah kiri sebelum berjalan menuju mobilnya, dan pergi meninggalkan rumah Rafa. Itu seperti sudah menjadi kebiasaan Giulia, selalu mengecup pipinya setiap akan berpisah dengannya.
Hubungannya dengan Giulia memang terlihat dekat beberapa bulan ini. Ia dan Giulia bekerja sama di kampus alumni mereka. Pandangan rekan kerja mereka bahkan menganggap jika dirinya dan Giulia telah resmi berpacaran. Hal itu karena Giulia begitu menempel padanya hampir disetiap kesempatan.
Rafa mengangkat paper bag pemberian Giulia, lalu mengendus aroma masakan yang samar-samar tertangkap oleh indera penciumannya. Langkah kakinya buru-buru masuk ke dalam rumah, ingin segera menikmati makanan yang dibawakan oleh Giulia, yang ia lupa apa tadi namanya.
Meskipun telah setahun berlalu, tapi Rafa masih saja diam-diam mengawasi Hanna dari kejauhan. Karena Rafa masih belum menerima keputusan yang telah diambil oleh Hanna, dan setidaknya memastikan jika Hanna tetap baik-baik saja.
Pekerjaan menunggui Hanna kembali ke apartemennya sering membuat Rafa telat makan malam. Terkadang Rafa menyempatkan diri untuk membeli beberapa cemilan di mini market dekat kampusnya. Tetapi jika pekerjaan mengharuskannya untuk lembur, maka tak jarang Rafa mengawasi Hanna dengan perut kosong.
__ADS_1
Rafa sudah sering memakan masakan Giulia, tapi ini adalah kali pertama ia akan memakan masakan ibu Giulia . Gadis itu selalu membawakannya bekal makan siang, dan memaksanya untuk makan bersama. Tentunya hanya berdua, sambil mendengarkan Giulia yang asik bercerita banyak hal, seperti tidak pernah kekurangan bahan untuk diceritakan.
Gadis berdarah Italia itu memang memiliki hobi memasak. Tentunya lebih sering memasak makanan Italia, terutama pasta dan kawan-kawanannya. Mungkin bisa dibilang Rafa telah mencicipi banyak makanan khas Italia. Bukan hanya pizza, lasagna dan spaghetti saja, tetapi bahkan sampai makanan khas tempat tinggal Giulia yang mungkin tidak mendunia.
Setelah membuka wadah makanan pemberian Giulia itu, Rafa segera menyendok dan menikmatinya. Rasanya sangat enak, dan membuatnya teringat mamanya karena memakan masakan ibu Giulia. Sembari melanjutkan makan malamnya yang telah lewat waktunya itu, Rafa melihat jam diponselnya. Setelah memastikan waktunya tepat, Rafa melakukan panggilan ke mamanya.
"Rafa! Tumbenan pagi-pagi udah telpon?" Seru mama Salma saat mengangkat panggilan dari anak bungsunya.
"Kenapa belum tidur? Ini mama lagi masak buat sarapan." Tanya mama Salma lagi.
"Rafa baru makan, Ma."
"Hah? Bukannya disana jam sebelas malam, Fa? Kenapa baru makan? Gimana kalo nanti kamu sakit? Siapa yang bakal ngurusin kamu?" Mama Salma mengomel tanpa jeda.
"Rafa... baru balik, Ma. Banyak kerjaan."
"Yakin yang bikin kamu balik jam segini karena kerjaan?"
Mama Salma tahu benar jika anak bungsunya itu masih mengharapkan Hanna dan mengawasinya dari kejauhan. Oleh sebab itulah dirinya tidak percaya begitu saja ketika Rafa mengatakan sibuk dengan pekerjaannya.
Rafa tertawa kecil mendengar jawaban dari mamanya. Memanglah dirinya ini tidak bisa membohongi mamanya, dan seharusnya tidak membohongi mamanya, atau siapapun.
"Hanna baik-baik aja kan?"
Rafa terdiam sejenak, mengingat bagaimana raut wajah Hanna yang dilihatnya setiap hari saat Arthur mengantarnya kembali ke apartemen. Padahal sejak setahun bersamanya tinggal di Bristol, jarang sekali Rafa mendapati Hanna yang sebahagia itu.
"Hanna baik, Ma. Dan terlihat... sangat bahagia." Ucap Rafa dengan suara lirih.
__ADS_1
Mungkin memang Hanna bahagia dengan Arthur, yang begitu mencintai dan memperhatikannya. Dan mungkin memang sudah saatnya sekarang ia harus... merelakannya.